MOHON AKTIFKAN JAVASCRIPT ANDA!
[KLIK DI SINI PETUNJUKNYA]

Apa Itu Long Exposure Dan Bagaimana Cara Menerapkannya

Long exposure bila diterjemahkan adalah pencahayaan yang panjang. Maksudnya yaitu kondisi dimana kamera dapat mengambil pencahayaan dalam jumlah yang sangat besar. Ini kondisi eksposur yang jauh di atas normal, yang digunakan untuk memotret pada situasi yang sangat minim cahaya seperti di malam hari. Tapi fungsi-guna long exposure tidak hanya sampai di situ saja, ada banyak pengembangan terhadap long exposure ini, dan kita akan membahasnya mulai dari yang paling mendasar.

Teori Dasar


Sebenarnya ini kembali lagi pada kosep kerja dasar eksposur (silahkan baca di sini pembahasannya). Eksposur atau pencahayaan dibentuk oleh tiga elemen / pengaturan yaitu shutter speed, aperture (diafragma) dan ISO. Tiga elemen ini bekerja sama untuk membentuk sekaligus mengatur atau mengontrol eksposur yang diterima oleh kamera, dan tiga elemen inilah yang dinamakan sebagai "Segitiga Eksposur (Exposure Triangle)".

Jadi, rahasia untuk bagaimana cara membentuk long exposure maka tidak lain adalah dengan mengatur segitiga eksposur pada "tingkat maksimal". Karena targetnya untuk mendapatkan eksposur atau pencahayaan dalam jumlah yang besar, maka segita eksposur harus diset maksimal jika perku sampai batas kemampuan masing-masing shutter speed, aperture dan ISO. Kalau di komunitas saya ini diistilahkan sebagai "siksa kamera". Karena penerapan long expsure memang mengharuskan tiga elemen ini bekerja full power.

Setiap elemen baik itu shutter speed, aperture dan ISO, sebenarnya masing-masing dapat membentuk long exposure. Pertama dan yang paling maksimal adalah shutter speed, kemudian ISO, lalu aperture. Tapi untuk mendapatkan hasil yang benar-benar "full" maka Anda harus menggabungkan ketiga elemen tersebut.

Long Exposure Dengan Shutter Speed


Long exposure menggunakan shutter speed caranya yaitu mengatur nilai shutter speed pada kecepatan yang "sangat lambat" bahkan jika diperlu melampaui batas (umumnya 30sec). Semakin lambat shutter speed, maka semakin lama pula tirai rana membuka dan menyebabkan semakin banyaknya cahaya yang masuk ke sensor. Karena memang yang kita butuhkan adalah cahaya dalam jumlah yang besar maka inilah caranya bila menggunakan shutter speed. Namun jika Anda menginginkan kecepatan yang lebih lambat lagi maka silahkan masuk ke mode "Bulb" (baca di sini panduan bulb).

Akan tetapi penggunaan shutter speed lambat ini memiliki resiko yaitu kamera akan sangat sensitif terhadap getaran sekecil apapun itu, yang dapat menyebabkan terjadinya motion blur (gambar berbayang). Oleh sebab itu penerapan teknik ini juga termasuk bulb harus menggunakan bantuan "tripod". Nah, yang pertama harus Anda kuasai adalah penggunaan shutter speed, silahkan baca di sini panduannya.

Long Exposure Dengan ISO


Long exposure dengan menggunakan ISO tidak seribet saat menggunakan shutter speed di atas. Untuk  ISO, Anda hanya perlu mengaturnya pada nilai tertingi atau bahkan maksimal. Semakin tinggi nilai ISO, maka semakin banyak cahaya yang dihasilkan. Hanya saja perlu Anda ketahui bahwa tidak semua kamera memiliki batas maksimal ISO yang sama. Ada kamera dengan nilai maksimal ISO 3200 dan ada pula yang sampai ISO 6400 bahkan mungkin lebih. Sedangkan bagaimana cara mengatur ISO pada kamera silahkan baca di sini panduannya.

Akan tetapi, cara ini juga memiliki resiko yaitu dapat menimbulkan noise (bintik-bintik seperti pasir pada gambar). Semakin tinggi nilai ISO yang digunakan, maka semakin banyak / tebal noise yang muncul pada gambar. Itulah mengapa long exposure dengan ISO ini saya tempatkan pada posisi kedua setelah shutter speed. Karena noise adalah penyakit yang dihindari oleh semua fotografer, kecuali pada kondisi yang memang tidak terhindarkan. Sedangkan masalah motion blur pada shutter speed dapat mudah diselesaikan dengan menggunakan tripod.

Umumnya, penggunaan nilai ISO maksimal yang aman direkomendasikan agar terhindar dari noise adalah ISO 800. Dan tips membersihkan noise pada gambar silahkan baca di sini tutorialnya.

Long Exposure Dengan Aperture


Long exposure menggunakan aperture atau diafragma yaitu dengan mengatur aperture pada bukaan terlebar (open wide / fully open). Sedangkan bukaan aperture yang saya maksud di sini tidak lain adalah bukaan pada lensa yang disetting melalui kamera. Jadi, cara mengatur bukaan lensa itu bukannya membuka apalagi sampai membongkar lensa (jangan salah paham) akan tetapi dengan cara mengatur nilai aperture di kamera Anda. Semakin lebar lensa membuka, maka semakin banyak peluang cahaya yang masuk ke sensor. Sedangkan bagaimana cara mengatur aperture silahkan baca di sini panduannya.

Cara ini sebenarnya tidak terlalu signifikan (kecil pengaruhnya) sehingga saya menempatkannya di urutan terakhir. Bahkan pembahasan soal besar-kecilnya bukaan lensa ini lebih tepat bila dikaitkan pada pembahasan Ruang Ketajaman atau Depth of Field (baca di sini pembahasannya).

Dari ketiga elemen di atas, kita sudah bisa melihat bahwa yang paling maksimal membentuk long exposure adalah shutter speed. Oleh sebab itu pada kondisi yang ringan, fotografer lebih keseringan hanya memaksimalkan shutter speed (atau menggunakan bulb) dan mengatur ISO pada nilai aman, sedangkan aperture terkadang bahkan di persempit untuk mengimbangi pengaruh shutter speed lambat dan menghindari vignette. Mungkin dari kebiasaan itu sehingga lahir pemahaman yang keliru bahwa "bulb adalah long exposure". Ini bisa membuat orang awam berfikir seolah long exposure itu hanya bisa dibentuk oleh bulb saja. Saya tidak mengatakan bahwa bulb berbeda dengan long exposure, tapi ingat, ISO dan aperture juga bisa membentuk long exposure hanya saja tidak semaksimal shutter speed dengan mode bulb. Paham? Berikut contoh foto saya untuk long exposure yang hanya memaksimalkan shutter speed:

Focal Length: 18mm, Shutter Speed: 30s, Aperture: f/3.5, ISO: 400

Pada foto di atas, aperture memang pada bukaan terlebar di lensa saya yaitu f/3.5, dan itu tidak terlalu mempengaruhi seperti yang saya katakan sebelumnya. Sedangkan untuk ISO saya menggunakan nilai aman ISO 400, dan hasilnya membuat gambar sedikit gelap. Ini bukti bahwa long exposure itu akan lebih maksimal jika tiga elemen juga dimaksimalkan. Sekarang mari kita lanjut ke tahap pengembangan.

Long Exposure Tiga Elemen


Ada kondisi dimana tidak cukup bila hanya memaksimalkan 1 elemen saja, melainkan dengan memaksimalkan tiga elemen sekaligus. Contohnya seperti ketika memotret Bima Sakti (Milky Way), Aurora, membuat Star Trail, atau memotret landscape di malam hari. Pada kondisi seperti itu tidak cukup bila hanya memaksimalkan shutter speed saja. Anda membutuhkan ISO yang tinggi dan aperture tetap pada bukaan terlebar. Berikut contoh foto long exposure yang memaksimalkan tiga elemen:

Milky Way © Leonardo Orazi - Shutter Speed: 20sec, Aperture: f/2.0, ISO 3200

Aurora © Lorenzo Montezemolo - Shutter Speed: 30sec, Aperture: f/5.6, ISO 640

Star Trail © Designeteer - Shutter Speed: 24sec, Aperture: f/3.5, ISO 3200, 120 Frame

Akan tetapi tidak selalunya Anda harus menerapkan cara di atas, biasanya pada kondisi tertentu Anda hanya cukup menggunakan shutter speed lambat. Contohnya seperti kreasi foto "Light Painting (Lukisan Cahaya)", untuk membuatnya Anda cukup memaksimalkan shutter speed saja, dan ini jauh berbeda dengan kondisi yang sebutkan di atas. Berikut contoh foto light painting:

Light Painting © Cabrera Photo - Shutter Speed: 34sec, Aperture: f/7.1, ISO 200

Bantuan Dalam Penerapan


Bila Anda bertanya "apakah ada alat tambahan yang dibutuhkan saat menerapkan long exposure?" Jika Anda menggunakan long exposure dengan 3 elemen maka jawabannya "iya", Anda membutuhkan tripod untuk pegangan kamera agar lebih kokoh dan remote shutter release untuk mengeksekusi shutter dari jarak jauh.

Kegunaan tripod dalam kasus ini sudah saya jelaskan di atas terkait dengan shutter speed, namun untuk remote shutter diperlukan ketika Anda menggunakan mode bulb. Selain itu, ketika tangan Anda menekan tombol shutter di kamera untuk memotret, biasanya juga ini akan menyebabkan sedikit getaran yang dapat menimbulkan motion blur pada hasil gambar. Oleh karena itu remote shutter dibutuhkan agar Anda tidak perlu lagi menekan tombol shutter di kamera.

Namun kebutuhan remote shutter cuma opsional saja, karena masih ada solusi lain yaitu dengan mengatur drive mode kamera dan gunakan mode shooting "Self-Timer:2sec" atau "Self-Timer:10sec" (baca di sini petunjuknya). Dengan cara ini Anda punya waktu untuk melepaskan tangan dari kamera sebelum shutter mengeksekusi secara otomatis dalam hitungan mundur (2sec atau 10sec), dan dengan begitu ini bisa menghindari getaran oleh tangan Anda.

Long Exposure Siang Hari


Jika Anda ingin menerapkan long exposure pada siang hari (entah itu pagi, siang atau sore) maka Anda memerlukan alat tambahan yaitu filter jenis ND (Neutral Density)" (ingat! jenis ND, bukan jenis lain). Alasannya? Kembali pada penjelasan awal bahwa long exposure ini tidak lain untuk mendapatkan pencahayaan dalam jumlah besar. Nah, kondisi cahaya siang hari itu berbeda dengan malam hari, jadi ketika Anda menerapkan long exposure pada saat itu maka hasil gambar justru kelebihan cahaya (over exposure). Oleh sebab itu filter ND dibutuhkan untuk mengurangi (reduksi) jumlah cahaya yang masuk ke kamera. Berikut contoh foto bulb saya di pagi hari setelah matahari terbit yang menggunakan bantuan filter ND:

Shutter Speed: 1sec, Aperture: f/22, ISO 100

Filter ND ini dipasang depan lensa dan bentuknya bervariasi, ada dalam bentuk filter ulir dan ada yang menggunakan holder. Filter jenis ND ini juga memiliki spesifikasi yang berbeda dalam hal mereduksi cahaya, mulai dari reduksi 1-stop sampai 13-stop. Lain waktu saya mengulas lebih dalam tentang alat ini. Berikut contoh filter ND:



Hal penting lainnya yang perlu Anda perhatikan untuk penerapan long exposure di siang hari adalah pengaturan shutter speed, aperture dan ISO bersifat kondisional (bisa dimaksimalkan, bisa juga tidak). Justru terkadang aperture malah dipersempit dan ISO menggunakan nilai terendah (100) untuk membantu mengurangi cahaya yang masuk. Dan dalam hal ini pengaturan kamera lebih fokus pada shutter speed lambat, itupun shutter speed tidak bisa lebih lambat seperti saat menerapkan long exposure di malam hari.

Contohnya seperti foto saya di atas yang walaupun sudah menggunakan filter ND, aperture tersempit f/22 dan ISO 100, tapi tetap saja hanya menggunakan shutter lambat sampai 1sec saja untuk mencegah hasil gambar tidak over cahaya. Mengapa bisa? Hal itu dikarenakan filter yang saya gunakan hanya bisa mereduksi sekitar 3-stop saja. Jadi keseimpulannya bahwa pengaturan tiga elemen (shutter sspeed, aperture dan ISO) disesuaikan dengan kemampuan filter ND dalam mereduksi cahaya.

Baik, kiranya cukup sekian penjelasan saya tentang long exposure. Semoga ini mudah dipahami.
SHARE

PENULIS: M. HAJAR A.K

Pengunjung yang terhormat mohon untuk tidak menduplikat artikel ini. Hargai usaha saya menyusun semua artikel yang ada di blog KELASFOTOGRAFI.COM. Silahkan ambil referensi tapi jangan menduplikatnya.
KELAS FOTOGRAFI

Kami mendeteksi Adblock Anda sedang aktif.
Kemungkinan ada bagian artikel yang hilang.
Apakah Anda menggunakan UC Browser?
Mohon non-aktifkan Adblock di browser Anda atau gunakan browser selain UC Browser.
Kami rekomendasikan Anda menggunakan Google Chrome untuk tampilan laman yang lebih baik.

[ Lihat Cara Non-Aktifkan Adblock ]
TUTUP BOX INI