MOHON AKTIFKAN JAVASCRIPT ANDA!
[KLIK DI SINI PETUNJUKNYA]

DSLR atau Mirrorless, Mana Yang Lebih Baik?


Kamera Digital SLR (DSLR) memiliki kekurangan dan keterbatasan yang melekat pada desainnya, sehingga ini ada hubungannya dengan fakta bahwa pada awalnya kamera DSLR dikembangkan untuk format film 35mm. Buktinya hingga saat ini DSLR masih diperlakukan seperti kamera film 35mm dan menggunakan mekanik body yang sama.

Selain pengembangan sensor, media digital film terbaru, LCD belakang, dan konponen elektrik lainnya, kamera DSLR masih menggunakan komponen yang sama dengan kemera SLR dan itu tidak berubah. Seperti menggunakan mekanisme mirror, pentaprisma dan viewfinder yang sama, serta sistem deteksi fase yang sama pula untuk operasi autofocus. Sementara itu memang ada kemajuan teknologi yang diberlakukan pada kamera saat ini seperti fitur editing instan dalam kamera, HDR, GPS, WiFi, dll.

Hingga hari ini DSLR masih tertinggal untuk beberapa komponen. Pertama: ukuran mirror dalam DSLR harus sama dengan ukuran sensor dan itu membutuhknan banyak ruang. Kedua: pentaprisma sebagai media yang ikut mengantarkan refleksi dari mirror ke viewfinder juga harus sesuai dengan ukuran mirror, dan ini yang membuat desain bagian atas DSLR memiliki benjolan dan menjadikannya terlihat besar.

Kekurangan Kamera DSLR


Karena DSLR bergantung pada mekanisme mirror yang melihat adegan "melalui lensa", sehingga kamera DSLR ini memiliki kekurangan sebagai berikut:

1. Ukuran dan Bentuk: cara kerja mirror dalam merefleksi membutuhkan ruang untuk mirror itu sendiri dan juga untuk pentaprisma, yang berarti bahwa DSLR akan selalu memiliki desain body yang "tetap sama" yaitu lebih besar dan memiliki benjolan di bagian atasnya seperti yang saya katakan sebelumnya. Ini juga berarti bahwa letak viewfinder harus tetap berada di tempat yang sama pada setiap desain DSLR. Dan inilah alasannya mengapa kebanyakan DSLR memiliki penampilan eksterior yang agak mirip pada umumnya.

2. Berat Kamera: ukuran besar dan massal juga diterjemahkan menjadi lebih berat. Kebanyakan DSLR entry-level (kelas pemula) memiliki body dan komponen internal berbahan plastik agar bobot kamera menjadi lebih ringan. Tapi karena letak mirror dan pentaprisma dalam kamera yang banyak membutuhkan ruang sehingga ada beberapa ruang tambahan yang perlu ditutupi. Selain itu, alangkah tidak bijaksana bila menutupi keseluruan body dengan lapisan yang sangat tipis dari bahan plastik, hanya karena ingin membuat kamera tampak lebih kecil dan ringan, sehingga beberapa orang menganggap bahwa ide dasar desain DSLR ini terlalu "kasar". Selain itu juga, lensa DSLR umumnya lumayan besar dan berat (apalagi untuk kamera format film 35mm / full-frame), sehingga jika memang ada body DSLR yang ringan akan mengalami masalah keseimbangan bila dipasangi lensa besar yang berbobot berat.

3. Desain Mirror dan Shutter: setiap kali kamera mengambil gambar maka mirror akan bergerak ke atas (lock-up) agar sensor bisa merekam adegan dan cahaya bisa masuk lansung menuju ke sensor. Akan tetapi hal ini menyebabkan beberapa masalah antara lain:
  • Berisik: apakah Anda sering mendengar bunyi mesin dalam kamera ketika memotret? Suara paling terdengar dari kamera itu berasal dari mirror yang sedang bekerja. Dan itu paling bising dibandingkan saat shutter atau rana bekerja. Meskipun produsen mempunyai cara-cara kreatif memproduksi kamera yang tidak terlalu berisik dengan memperlambat gerakan mirror (seperti Nikon "Quiet") namun tetap saja masih terdengar bising. 
  • Mengantarkan Debu: karena cara kerja mirror yang naik dan turun seperti mengibas, akan membawa udara yang berpotensi mendorong debu masuk ke bagian depan sensor. Ya, karena posisi mirror berada di depan sensor. Dan beberapa fotografer membuktikan dengan mengambil beberapa tembakan dengan mirroless yang berbeda, hasilnya debu yang masuk lebih sedikit ketimbang saat menggunakan DSLR.
  • Biaya Produksi dan Perawatan: mekanisme mirror yang kompleks pada DSLR dan terdiri dari banyaknya bagian-bagian yang berbeda. Oleh sebab itu, sangat mahal untuk membangun dan melakukan service apabila kamera mengalami masalah. Pembongkaran DSLR dan mengganti perangkat internal terkadang juga membutuhkan waktu yang lama.

4. Mirror Sekunder dan Akurasi Deteksi Fase: selain mirror primer (yang saya sebutkan di atas), DSLR juga memiliki mirror sekunder yang dibutuhkan oleh sistem deteksi fase dan letaknya terpisah dari mirror primer. Singkatnya bahwa cahaya yang mencapai mirror primer nantinya akan berakhir di mirror sekunder, dan setiap cahaya yang lulus masuk ke sensor deteksi fase akan diterima oleh mirror sekunder. Hanya saja masalah pada mirror sekunder ini bahwa posisinya harus ditempatkan pada sudut dan jarak yang sempurna agar deteksi fase bekerja dengan akurat. Jika ada sedikit penyimpangan maka dapat menyebabkan terjadinya missed focus (yang sering disebut "miss" atau kehilangan fokus). Jadi, sensor deteksi fase dan mirror sekunder harus sejajar. Bila tidak, beberapa poin autofocus mungkin akan akurat sementara beberapa lainnya terus mengalami miss fokus.

5. Deteksi Fase dan Kalibrasi Lensa: masalah sistem deteksi fase pada DSLR tidak hanya terletak pada masalah kesejajaran posisi mirror sekunder, tetapi juga mengharuskan lensa yang akan dikalibrasi dengan benar. Ini menjadi perbandingan antara dua cara, pertama: fokus yang tepat mengharuskan mirror sekunder berada di posisi yang sempurna dan sejajar dengan sensor deteksi fase (seperti yang dijelaskan di atas). Kedua: membutuhkan lensa dikalibrasi dengan benar untuk body kamera. Ketika DSLR yang kita miliki memiliki masalah akurasi autofocus terhadap lensa maka untuk perbaikan biasanya kita akan mengirim gear ke service center resmi. Sangat sering, para teknisi akan meminta lensa yang digunakan untuk dikirim bersama-sama dengan body kamera. Jika Anda bertanya-tanya mengapa lensa harus dikirim juga? Sekarang Anda sudah tahu jawabannya. Dalam kasus ini, teknisi akan mengkalibrasi baik kamera maupun lensa untuk menyelesaikan perbedaan diantara keduanya.

6. Harga: meskipun para produsen mendapatkan cara yang jauh lebih efisien selama bertahun-tahun dalam memproduksi DSLR, namun perakitan mekanisme mirror bukanlah tugas yang mudah. Banyak komponen yang bergerak yang berarti itu sistem perakitan presisi tinggi. Dalam produksinya juga membutuhkan pelumasan di daerah di mana komponen logam bergesekan satu sama lain. Itu semua dapat mingkatkan biaya produksi. Dan tidak berhenti di situ saja, jika ada yang tidak beres dengan mekanisme mirror, pihak produsen harus memperbaiki atau bahkan mengganti produk yang gagal.

Kehadiran Mirrorless


Memiliki nama lengkap Mirrorless Interchangeable-Lens Camera (MILC) adalah jenis kamera yang tidak menggunakan mekanisme mirror, sehingga secara singkat kamera ini disebut sebagai "Mirrorless". Kehadiran mirrorless dengan sistem "kompak" membuat banyak produsen menyadari bahwa sistem tradisional pada DSLR sulit untuk menjadi kekuatan pendorong untuk penjualan kamera di masa depan. Ini masuk akal apalagi bila ditinjau dari sudut pandang biaya produksi. Meskipun banyak inovasi yang diberlakukan pada DSLR seperti pengembangan motor autofocus, prosesor yang cukup cepat untuk mengolah video HD di 60p, penambahan teknologi GPS, Wifi, dll, namun tetap saja itu bukan jaminan. Sehingga beberapa pakar berpendapat bahwa kehadiran mirrorless dapat membuka peluang besar untuk inovasi kamera profoseional di masa depan dan memecahkan banyak masalah yang ditemukan pada sistem tradisional di DSLR.


Ini akan menjadi bahan diskusi yang menarik. Mari kita lihat apa saja kelebihan yang ditawarkan oleh mirrorless ini untuk membuktikan pendapat di atas:

1. Ukuran Lebih Kecil dan Bobot Lebih Ringan: tidak menggunakan mirror dan pentaprisma sehingga menghemat ruang. Ini berarti bahwa kamera mirrorless dapat dirancang untuk menjadi lebih kecil dan lebih ringan dibandingkan dengan DSLR. Memiliki jarak flange yang lebih pendek, ukuran fisik pada lensanya juga lebih kecil. Lalu apakah benar ukuran dan bobot bisa mempengaruhi? Mari kita cari tahu.

Saat ini banyak smartphone yang berlaku seperti kamera kompak dan itu membuktikan bahwa kenyamanan serta ukuran yang lebih kecil dan ringan dapat mengalahkan "kualitas". Apakah ini masuk akal? Belakangan ini data penjualan kamera menunjukan adanya penurunan secara signifikan, karena kebanyakan konsumen menemukan bahwa smartphone mereka bekerja "cukup baik" ketika menangkap sebuah momen. Semua produsen smartphone saat ini melakukan inovasi besar-besaran pada fitur kamera. Mereka ingin agar konsumen berpikir tidak hanya mendapatkan layanan ponsel "yang biasa-biasa saja" tapi juga kamera dengan fitur yang lebih canggih berada dalam satu paket smartphone. Dengan melihat fakta penjualan yang menurun, ide smartphone di atas jelas berhasil, sehingga banyak orang yang meninggalkan kamera yang berbobot berat dan lebih memilih smartphone yang lebih kecil, ringan dan mudah dibawa kemana-mana. Sederhananya bahwa bobot yang ringan dan ukuran yang kecil dalam dunia elektronik "unggul" dalam perekonomian saat ini. Kita bisa mengamati tren yang sama untuk gadget lainnya seperti TV yang lebih tipis dan tablet yang menyaingi laptop. Oleh karena itu, secara alami orang-orang akan lebih memilih perangkat yang lebih ringan dan lebih kompak, apalagi jika kualitas tidak terganggu.

2. Tidak Menggunakan Mirror: tidak memiliki mirror yang bekerja naik-turun artinya ini memberikan banyak keuntungan antara lain:
  • Tidak Berisik: tidak ada suara dari mirror, satu-satunya suara yang terdengar saat kamera bekerja hanya mekanisme shutter, dan ini tidak bising seperti yang saya bicarakan sebelumnya pada pembahasan DSLR.
  • Kurangnya Kamera Shake: tidak seperti mirror di DSLR, shutter dengan sendirinya tidak menghasilkan banyak getaran, sehingga shake pada kamera berkurang dan meminimalisir terjadinya motion blur pada hasil gambar.
  • Tidak Ada Gerakan Udara: karena tidak ada mirror yang terus bergerak mengibas udara, sehingga potensi debu masuk ke dalam kamera sangat minim.
  • Mudah Dibersihkan: selama kotoran tidak menempel pada sensor, membersihkan kamera mirrorless lebih mudah ketimbang DSLR, yang mana baterei tidak harus terisi penuh untuk mengunci mirror saat membersihkan DSLR. Selain itu tidak ada yang menutupi sensor ketika lensa dilepas dari body kamera.
  • FPS yang lebih cepat: tidak memiliki mirror berarti bahwa tingkat penangkapan adegan (fps) tidak harus dibatasi oleh kecepatan mirror. Ini menandakan bahwa kamera mirrorless berpotensi menangkap gambar pada laju frame lebih cepat dari 10-12 FPS (angka yang rata-rata tinggi pada DSLR saat ini) dan juga mirrorlees memiliki noise yang jauh lebih sedikit.
  • Biaya Produksi dan Perawatan: memiliki sedikit komponen gerak artinya mirrorless hanya membutuhkan biaya yang lebih rendah dalam produksi, termasuk juga biaya service dari produsen.

3. Live Preview: dengan mirrorless Anda bisa mendapatkan tentang apa saja yang berhubungan dengan adegan yang akan Anda tangkap. Sederhananya bahwa apa yang Anda tangkap maka itulah hasilnya yang tampil pada gambar. Seperti kekacauan pada white balance, saturasi dan kontras, Anda akan melihatnya secara langsung baik itu pada LCD ataupun di viewfinder. Kesimpulannya Anda memiliki peluang untuk memperbaiki sebelum eksekusi (pemotretan).

4. Tidak Ada Masalah Kesejajaran Mirror Sekunder: saat ini banyak kamera mirrorless menggunakan sistem autofocus "hybrid" yang memanfaatkan fase dan kontras untuk deteksi autofocus. Jadi, Anda tidak perlu khawatir lagi tentang keselarasan posisi deteksi fase dan cermin sekunder seperti pada DSLR. Beberapa kamera mirrorless generasi baru, memiliki sensor deteksi fase yang terletak pada sensor yang sebenarnya, yang berarti bahwa deteksi fase tidak akan pernah harus dikalibrasi untuk jarak, karena ia terletak di plane yang sama dengan sensor kamera.

5. Harga: memproduksi kamera mirrorless jauh lebih murah daripada memproduksi DSLR. Sebagian besar produsen kamera mirrorless hanya mengeluarkan biaya premi yang tinggi untuk pembuatan sistem kamera. Sedangkan biaya untuk produksi sebenarnya lebih rendah dari DSLR. Terkait dengan sistem, perusahaan harus mengeluarkan banyak uang untuk meningkatkan kinerja autofocus dan teknologi lainnya seperti EVF pada mirrorless. Dan karena kamera ini tergolong pemain baru, sehingga perusahaan harus meningkatkan anggaran pemasaran mereka untuk mendidik seseorang. Namun hingga saat ini, harga kamera mirrorless masih terjangkau untuk bersaing dengan harga DSLR entry-level (kelas pemula).

6. Electronic Viewfinder (EVF): inilah sekarang yang menjadi kekuatan terbesar dari kamera mirrorless dan kemungkinan besar EVF menjadi inovasi di masa depan. Tanpa ragu, sebuah EVF memiliki kelebihan besar atas Optical Viewfinder (OVF). Meskipun saat ini EVF tidak menjadi sistem viewfinder yang kuat dan responsif sebagaimana mestinya, akan tetapi itu hanya masalah waktu sebelum produsen memperbaikinya. Mari kita membahas beberapa manfaat utama dari EVF ketimbang OVF:
  • Banyak Informasi: dengan OVF, Anda tidak pernah bisa melihat lebih dari beberapa grid dasar. Ada beberapa informasi statis yang disajikan dalam jendela bidik, tetapi itu selalu bersifat tetap dan tidak dapat dengan mudah diubah. Dengan EVF, Anda bisa mendapatkan informasi yang Anda inginkan untuk ditampilkan di dalam viewfinder, seperti data dari eksposur secara "live" untuk histogram. Informasi "warning" yang bervarian juga dapat ditambahkan, seperti peringatan untuk pemotretan yang berpotensi kabur.
  • Live View dan EVF: sederhananya bahwa EVF itu sama seperti mode Live View pada kamera DSLR, hanya saja EVF dikemas dalam bentuk viewfinder atau lebih kecil pada kamera kompak seperti mirrorless. Oleh karena itu apa yang ada pada Live View di monior LCD dapat ditampilkan pada EVF.
  • Image Review: salah satu fitur yang tidak akan Anda dapatkan di OVF adalah image review. Pada mirrorless Anda bisa melihat hasil gambar yang baru saja diambil tepat di viewfinder. Sedangkan pada DSLR Anda hanya bisa melakukan itu melalui layar LCD saja. Dan Anda akan kesulitan jika cahaya terlalu silau di siang hari. Pada akhirnya pengguna memerlukan Hoodman Loupe untuk membantu melihat gambar di LCD.
  • Focus Peaking: jika Anda tidak tahu apa itu focus peaking, silahkan lihat video youtube di bawah ini:



    Dengan cara ini Anda bisa mendapatkan fokus akurat saat menggunakan fokus manual tanpa harus bergantung pada kejelihan mata Anda melihat subjek yang terkunci. Fitur ini bekerja dengan menandai area yang fokus dengan warna overlay (sesuai yang kita tentukan) dan berhenti tepat di mana Anda ingin fokus. Anda tidak akan mendapatkan kemudahan ini pada OVF di DSLR.
  • Cakupan EVF Lebih Luas: pada OVF memiliki cakupan bidang pandang sekitar 95% atau kata lain apa yang terlihat di viewfinder berkurang sekitar 5%, ini terjadi terutama pada DSLR kelas bawah. Pada EVF Anda tidak lagi memiliki masalah ini, karena viewfinder akan selalu mendapat cakupan 100%, karena apa yang Anda lihat di EVF adalah yang ditangkap oleh sensor.
  • Unggul di Cahaya Rendah: jika kondisi pencahayaan buruk, Anda mungkin tidak dapat melihat jelas melalui OVF. Begitupula melakukan fokus dengan OVF dalam kondisi cahaya rendah juga sulit, karena Anda tidak bisa memastikan apakah subjek telah fokus dengan baik atau tidak, sehingga Anda hanya bisa mengira-ngira saja. Sedangkan pada EVF, tingkat kecerahan bisa dinormalisasi sehingga Anda bisa melihat adegan seolah-olah seperti di siang hari. Meskipun sedikit menimbulkan noise, tapi kemudahan ini masih lebih unggul ketimbang kekurangan menembak melalui OVF di cahaya rendah.
  • Zoom Digital: ini fitur paling favorit. Jika memang Anda sering menggunakan mode Life View di DSLR, Anda pasti tahu betul bahwa zoom digital sangat membantu untuk mendapat acuan fokus dari objek. Pada DSLR modern, Anda bahkan bisa melakukan zoom hingga 100%. Nah, pada kamera mirrorless, fitur ini dapat dibangun langsung ke viewfinder. Coba Anda bayangkan bagaimana mudahnya melakukan fokus manual kemudian zoom sampai 100% tepat di dalam viewfinder. Sejumlah kamera mirrorless sudah mampu melakukan hal ini.
  • Sistem Pelacakan (Tracking) Wajah / Mata: sekarang kita pindah ke bagian paling keren dari teknologi EVF. Karena EVF menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi pada sensor, teknologi tambahan untuk analisis data dapat dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang sangat keren menurut saya, seperti pelacakan wajah bahkan mata. Mungkin Anda sudah pernah melihat sistem tracking bekerja pada mode Life View di DSLR, tapi EVF bisa melakukan lebih dari itu. EVF memungkinan untuk kamera secara otomatis melakukan fokus pada mata dari orang yang terdekat dengan Anda saat memotret. Betapa kerennya itu? Dan produsen Sony sudah menerapkan teknologi ini pada kamera terbaru mereka Sony A7/A7R.
  • Potensi Titik Fokus Tak Terbatas (Unlimited Focus Point): seperti yang sudah Anda ketahui, kebanyakan kamera DSLR memiliki sejumlah titik fokus yang didistribusikan sebagian besar di area tengah frame. Meskipun itu kadang-kadang berhasil dalam kebanyakan situasi, tapi apa yang Anda lakukan jika Anda perlu memindahkan titik fokus ke batas sudut frame? Satu-satunya pilihan adalah mengubah komposisi (menggeser sorotan kamera) untuk mendapatkan fokus, tapi itu mungkin tidak selalu diinginkan, karena sama saja Anda menggeser bidang keluar dari fokus. Selain itu, apa pun dari titik pusat fokus biasanya tidak akurat dan bisa mengakibatkan "focus hunting". Dengan kamera mirrorless dan sensor deteksi fase ditempatkan langsung pada sensor gambar, keterbatasan ini dapat dihilangkan. Deteksi kontras telah tersedia dan memungkinkan diterapkan di mana saja dalam sensor gambar, sementara sensor deteksi fase akhirnya akan sampai ke titik di mana titik fokus akan didistribusikan di seluruh sensor.
  • Pelacakan Subjek dan Fitur Analisis lainnya: dengan hal-hal seperti pelacakan wajah dan mata yang diterapkan pada mirrorless, Anda sudah bisa membayangkan inovasi apa yang dapat dilakukan produsen kamera di masa depan. Sensor gambar memiliki sistem pelacakan kompleks yang cerdas menggabungkan data sensor dengan autofocus, lalu menggunakannya untuk melacak objek atau subjek tertentu dalam frame. Bahkan kamera DSLR teratas saat ini memiliki tantangan dengan pelacakan subjek penuh. Jika Anda pernah mencoba memotret burung yang terbang dengan DSLR, saat itu Anda akan mendapati bahwa menggunakan teknologi tracking adalah sebuah tantangan, terutama ketika burung bergerak keluar dari area titik fokus, lalu Anda berusaha melakukan fokus pada burung. Intinya teknologi pelacakan subjek berpotensi berkembang super canggih dengan kamera mirrorless di masa depan.
  • Kerusakan Mata: ketika melihat melalui viewfinder DSLR kita harus sangat berhati-hati saat memotret matahari, terutama saat menggunakan lensa dengan focal length yang panjang. Namun dengan EVF, gambar diproyeksikan melalui sensor dan itu tidak membahayakan mata Anda.

# Kelemahan Mirrorless

Setelah kita membahas banyaknya kelebihan dari kamera mirrorless dibanding DSLR, sekarang mari kita bicara tentang beberapa keterbatasan dari mirrorless saat ini:

1. EVF Lag: beberapa implementasi dari EVF saat ini dinilai sangat tidak responsif, sehingga lag yang cukup. Meskipun ini merupakan gangguan bila dibandingkan dengan OVF saat ini, akan tetapi itu hanya masalah waktu sampai saat masalah lag dihilangkan. Teknologi EVF terbaru sudah jauh lebih baik daripada generasi sebelumnya. Dan sepertinya teknologi EVF memang akan berevolusi, sehingga masalah lag akan diselesaikan sepenuhnya.
2. Continuous Autofocus / Subject Tracking: meskipun teknologi deteksi kontras telah tersedia dan sangat mengesankan pada kamera mirrorless, namun teknologi ini masih sangat lemah pada kinerja autofocus dan pelacakan subjek yang bekerja secara terus-menerus (continuous). Akibatnya teknologi tersebut jarang digunakan untuk memotret satwa liar (wildlife) dan fotografi olahraga. Namun, dengan munculnya sistem autofocus hybrid dan pengembangan sistem kerja "continuous", maka kita akan segera melihat pengembangan kamera mirrorless dengan kemampuan autofocus continuous yang lebih baik. Salah satu alasan mengapa kamera mirrorless lambat dalam pengembangan teknologi ini, karena kebanyakan sistem mirrorless itu kecil dan tidak cocok untuk menangani lensa tele yang besar. Jadi produsen belum menempatkan banyak upaya R&D masuk ke area spesifik. Sekali lagi, ini hanyalah masalah waktu.
3. Daya Baterei: ini salah satu kelemahan terbesar dari mirrorless saat ini. Secara terus-menerus daya banyak digunakan oleh LCD dan EVF, yang mengapa mirrorless dinilai hanya mampu menghasilkan 300 gambar untuk setiap kali pengisian baterei. Sedangkan DSLR jauh lebih hemat dalam penggunaan daya yang rata-rata mampu menghasilkan 800 gambar dalam sekali pengisian baterei. Ini bisa saja menjadi masalah serius untuk fotografer yang melakukan perjalanan jauh ke daerah yang sulit listrik.
4. Masalah Flare: karena jarak flange yang sangat pendek, sehingga kebanyakan kamera mirrorless menderita masalah "red dot pattern" (akibat flare). Masalah ini menjadi jelas terlihat ketika kita menembak dengan posisi matahari masuk dalam frame lalu menggunakan aperture sempit. Pada dasarnya, sinar cahaya memantul bolak-balik antara sensor dan elemen belakang lensa, lalu menciptakan red dot pattern (kadang-kadang berwarna lain) dalam gambar. Sayangnya, belum ditemukan solusi untuk kekurangan ini pada semua kamera mirrorless dengan jarak flange yang pendek.

Kita tidak tahu apakah DSLR memiliki cara kreatif untuk bersaing dengan mirrorless di masa depan. Saya pun tidak mengatakan bahwa setiap orang akan beralih ke kamera yang lebih kecil dan ringan seperti mirrorless, tidak! Kita masih jauh dari titik itu. Namun, akan masuk akal jika produsen ternama seperti Nikon dan Canon untuk terus berinvestasi dalam membuat DSLR yang lebih baik, ketika keuntungan teknologi jelas mengarah ke mirrorless.

Nikon Mirrorless


Ketika banyak orang mulai tertarik ke mirrorless, Nikon akhirnya menciptakan mirrorless baru dengan mount CX dan sensor kecil ukuran 1". Saat teknologi imaging dan autofocus Nikon pada kamera mirrorless dinilai baik dan secara keseluruhan sistem cukup kompak, namun masalah terbesarnya adalah ukuran sensor yang kecil. Dengan sensor 1" yang jauh lebih kecil dari APS-C, kamera Nikon 1" tidak bisa bersaing dengan APS-C dalam hal kualitas gambar, bokeh dan jangkauan dinamis, seperti halnya APS-C tidak dapat bersaing dengan full-frame, atau full-frame tidak dapat bersaing dengan medium format. Sederhananya, bahwa memiliki ukuran sensor yang kecil adalah kerugian bagi Nikon CX. Lalu bagaimana dengan Canon?

Canon Mirrorless


Beberapa orang percaya bahwa Canon bisa jauh lebih baik daripada Nikon di era perkembangan mirrorless. Pertama, Canon tidak memproduksi mount format kecil untuk mirrorless seperti Nikon CX. Kedua, Canon memproduksi mirrorless dengan ukuran sensor setara APS-C, dan Canon EOS M adalah iterasi pertama. Tentu Canon akan memasukkan semua teknologi di kamera mount APS-C EF-S ke mount EOS M. Satu-satunya hal yang akan ditinggalkan adalah mount EF full-frame, yang kemungkinan besar akan mengikuti takdir yang sama seperti mount Nikon F, inovasi "tanpa mirror" tetapi dengan jarak flange yang sama. Dengan cara ini, Canon hanya akan berkonsentrasi pada dua mount yaitu EF dan EOS M.

Kemungkinan besar artikel ini akan ada lanjutannya dan karena artikel ini sudah sangat panjang sehingga pembahasan selanjutnya tentang DSLR dan mirrorless akan saya tulis pada artikel terpisah.
SHARE

PENULIS: M. HAJAR A.K

Pengunjung yang terhormat mohon untuk tidak menduplikat artikel ini. Hargai usaha saya menyusun semua artikel yang ada di blog KELASFOTOGRAFI.COM. Silahkan ambil referensi tapi jangan menduplikatnya.
KELAS FOTOGRAFI

Kami mendeteksi Adblock Anda sedang aktif.
Kemungkinan ada bagian artikel yang hilang.
Apakah Anda menggunakan UC Browser?
Mohon non-aktifkan Adblock di browser Anda atau gunakan browser selain UC Browser.
Kami rekomendasikan Anda menggunakan Google Chrome untuk tampilan laman yang lebih baik.

[ Lihat Cara Non-Aktifkan Adblock ]
TUTUP BOX INI