MOHON AKTIFKAN JAVASCRIPT ANDA!
[KLIK DI SINI PETUNJUKNYA]

Mengenal Jenis-Jenis Filter Lensa Kamera


Filter lensa kamera dapat melayani tujuan yang berbeda dalam fotografi digital. Ada filter yang bisa sangat diperlukan untuk memotret pemandangan (landscape) dalam kondisi pencahayaan yang sangat sulit, ada filter yang dapat meningkatkan warna dan mengurangi refleksi, dan ada filter yang hanya sekedar berfungsi melindungi lensa.

Filter secara luas digunakan dalam fotografi dan sinematografi, dan sementara hanya beberapa filter digunakan dalam situasi yang jarang dihadapi. Banyak fotografer yang mengandalkan filter untuk kebutuhan fotografi sehari-hari mereka, misalnya, fotografer landscape sangat bergantung pada berbagai filter, sedangkan fotografer street dan portrait jarang menggunakannya.

Sejak era fotografi digital adalah semua tentang kualitas dan intensitas cahaya, filter lensa sering diperlukan untuk memodifikasi cahaya sebelum memasuki lensa. Banyak fotografer berpikir bahwa beberapa alat di Lightroom dan Photoshop dapat mensimulasikan perilaku filter dan membuat filter berlebihan di era digital. Seperti yang saya akan tunjukkan di bawah ini, beberapa filter sebenarnya tidak pernah dapat disimulasikan dalam perangkat lunak dan beberapa benar-benar membantu dalam mendapatkan hasil yang lebih baik selama post-processing. Pada artikel ini, saya akan berbicara tentang berbagai jenis filter lensa yang tersedia, apa yang bisa dilakukan dengan filter tersebut, kapan dan bagaimana menggunakannya.

Apa Itu Filter dan Mengapa Anda Memerlukannya?


Mengapa Anda memakai kacamata hitam? Karena bersama dengan manfaat lainnya, kacamata hitam dapat membantu Anda melihat lebih baik dalam cahaya yang kuat, melindungi mata Anda dari bahaya sinar UV / angin / debu dan mengurangi silau. Filter juga melayani tujuan yang serupa, filter lensa dapat membantu mengurangi refleksi, melindungi lensa Anda dari potensi kerusakan, sepenuhnya atau sebagian mengurangi jumlah cahaya yang masuk lensa dan bahkan meningkatkan warna. Namun pada saat yang sama, filter bisa justru bisa merusak foto jika Anda tidak menggunakannya dengan benar. Analoginya seperti mengenakan kacamata hitam di ruangan gelap. Keren atau gila?

Oleh karena itu, jangan hanya sebatas mengetahui untuk apa filter digunakan, tetapi Anda juga perlu tahu bagaimana cara yang benar menggunakannya dan dalam situasi seperti apa Anda membutuhkannya. Ada berbagai jenis filter beredar di pasaran, mulai dari filter UV kualitas rendah sampai filter yang sangat mahal mencapai nilai jutaan rupiah. Ini dapat membuat proses kita dalam memilih jenis filter yang tepat agak sedikit menantang, salah beli, Anda yang rugi.

Bentuk-Bentuk Filter Lensa


Sebelum saya menunjukan pada Anda jenis-jenis filter lensa yang umum digunakan, maka lebih awal saya akan menjelaskan bentuk-bentuk filter lensa, sehingga nantinya Anda akan lebih mudah memahami penjelasan dari tiap-tiap jenis filter. Ada jenis filter yang mengadopsi 1 bentuk saja dan ada pula jenis filter yang tersedia dalam berbagai bentuk. Ini kemudian akan menjadi pertanyaan apa kelebihan dari masing-masing bentuk filter? Filter lensa yang paling populer hingga saat ini adalah bentuk circular (melingkar) dan memiliki sekrup (screw-on). Tipikal filter seperti ini bisa langsung dipasang ke ulir depan lensa dan tersedia dalam berbagai ukuran, tergantung pada ulir filter lensa yang digunakan. Ukuran standar dan yang paling umum dari filter sekrup untuk lensa profesional adalah 77mm. Berikut bentuk-bentuk filter lensa yang umum ada di pasaran:

1. Circular Screw-On (Melingkar)

Ini jenis filter yang paling umum yang bisa langsung dipasang pada ulir filter lensa. Contoh filter yang menggunakan tipikal seperti ini yaitu filter UV / Clear / Haze, Circular Polarizer, Neutral Density (ND), dan filter warna. Filter circular juga tersedia dalam ketebalan yang berbeda. Filter yang sangat tebal bisa berpotensi menambah vignetting, sedangkan yang tipis (ultra-thin) bisa mengurangi vignetting. Silahkan baca di sini apa itu vignetting.

2. Square (Persegi)

Ini pilihan bentuk filter yang populer untuk landscape dan fotografi lainnya. Filter ini mengharuskan bantuan holder yang dipasang pada elemen depan lensa. Jadi yang pertama melekat ke lensa adalah holder lalu kemudian filter dipasang ke dalam holder. Mungkin ini sedikit ribet tapi kelebihan dengan holder Anda bisa menggunakan lebih dari satu filter. Ukuran yang paling populer dari bentuk filter ini adalah 3×3 dan 4×4. Semuanya dapat digunakan bersamaan dalam satu holder untuk situasi pemotretan tertentu. Hanya saja cara ini dapat berdampak negatif terhadap kualitas gambar dan bahkan bisa menambah refleksi.

3. Rectangular (Persegi Panjang)

Ini pilihan bentuk filter lainnya yang tak kalah populer, terutama di kalangan fotografer landscape. Memiliki mount seperti filter square di atas dengan sistem penahan filter (holder). Akan tetapi ini sedikit berbeda, filter rectangular memiliki lebih banyak ruang untuk bergerak ke atas dan ke bawah. Ukuran yang paling populer adalah 4×6, meskipun ukuran filter yang lebih besar dan lebih kecil juga tersedia.

4. Drop-In

Bentuk filter ini digunakan untuk filter khusus lensa zoom tele yang panjang dikarenakan ukuran besar elemen lensa depan lensa tele tersebut. Hanya filter jenis clear dan polarizing yang menggunakan tipikal drop-in.

Setelah Anda mengingat bentuk-bentuk filter di atas, maka selanjutnya mari kita lihat jenis-jenis filter yang umum digunakan para fotografer. Saya akan mengulas secara rinci kemampuan setiap jenis filter dan efek apa yang dihasilkan pada gambar (jika ada). Hal ini sering terlalu sulit untuk konsumen memahami apa yang bisa dilakukan oleh setiap filter, kemudian menjadi bingung untuk memutuskan apakah konsumen membutuhkannya atau tidak? Jadi saya harap informasi di bawah ini akan memudahkan Anda untuk memutuskan apakah Anda ingin jenis filter tertentu atau tidak. Saran saya, pilihlah filter sesuai dengan kebutuhan fotografi Anda dan pertimbangkan setiap konsekuen dari penggunaan filter jenis tertentu.

1. Filter UV / Clear / Haze


Filter ini berfungsi untuk melindungi elemen depan lensa dari debu, kotoran, kelembaban dan potensi tergores. Bisa digunakan untuk semua jenis fotografi. Filter UV berkualitas tinggi (hight quality) dapat secara permanen dipasang pada lensa dan pengaruhnya terhadap kualitas gambar sangat minim ketimbang filter kualitas rendah.


Tujuan dari filter UV / Clear / Haze saat ini hanya sekedar melindungi elemen depan lensa. Di masa lalu, filter ini digunakan untuk memblokir UV agar tidak masuk ke film. Namun karena saat ini semua sensor kamera digital memiliki filter UV / IR di depan sensor, sehingga tidak perlu lagi menggunakan filter UV pada lensa DSLR. Banyak fotografer menggunakan jenis filter ini untuk masalah perlindungan lainnya seolah ini "wajib". Mungkin alasannya karena lebih baik kerusakan terjadi pada filter daripada resikonya mengenai elemen lensa seperti tergores atau rusak.

Satu hal yang Anda harus pastikan sebelum membeli filter jenis clear, bahwa sebaiknya Anda membeli filter yang menggunakan kaca berkualitas tinggi dengan lapisan multi-resistant khusus (MRC). Sebuah kekeliruan dan menjadi hal terburuk yang biasa dilakukan orang-orang adalah menggunakan filter kualitas rendah untuk lensa mahal mereka. Tidak hanya akan mempengaruhi kualitas gambar, tetapi juga akan menambahkan refleksi buruk, masalah flare dan ghosting ke gambar Anda (baca di sini tentang flare dan ghosting). Sekedar rekomendasi, Anda bisa menggunakan filter B+W F-Pro MRC (harganya tidak murah), tetapi sebagai alternatif Anda juga dapat membeli produk lainnya dari Tiffen, Hoya atau dari produsen lainnya dengan harga sedikit terjangkau.

Bagaimana jika Anda menggunakan sebuah filter clear permanen pada lensa Anda? Pertanyaan ini membawa perdebatan sengit antara fotografer. Banyak yang percaya bahwa menambahkan elemen kaca filter di depan lensa hanya merusak gambar saja dan hanya sedikit berguna untuk perlindungan lensa. Sementara yang lainnya termasuk saya sendiri menggunakan filter tersebut hanya untuk tujuan menjaga kebersihan dan keamanan lensa, sehingga membersihkannya pun lebih mudah. Intinya saya tak mau mengambil resiko, tapi itu kembali pada pertimbangan kalian masing-masing. Sedangkan untuk menghindari vignetting dan masalah lainnya, filter UV tidak boleh ditumpuk dengan filter lainnya.

2. Filter Polarizing


Filter polarizing berguna untuk menyaring cahaya terpolarisasi, secara dramatis mengurangi refleksi, meningkatkan warna dan meningkatkan kontras. Filter ini dapat digunakan untuk semua jenis fotografi. Umumnya jenis filter polarizing memiliki tipikal "circular", yang memungkinkan untuk memudahkan kontrol efek polarisasi.

 
Ada dua tipikal dari filter polarizing yaitu linear dan circular. Filter linear polarizer tidak boleh digunakan pada kamera DSLR, karena dapat mengakibatkan kesalahan metering. Sedangkan circular polarizer cocok untuk DSLR dan tidak menyebabkan masalah metering karena konstruksinya yang sesuai untuk keperluan DSLR. Pada dasarnya filter circular polarizer sama dengan liner polarizer, dengan elemen kaca tambahan yang melekat dan berbentuk melingkar untuk mempolarisasikan cahaya, serta memberikan hasil eksposur yang akurat ketika cahaya dibaca oleh light meter (baca di sini fungsi light meter). Saat dua elemen dalam filter bekerjasama dengan benar dalam menangani matahari, gambar yang diambil bisa memiliki saturasi warna yang lebih naik, langit biru, kurang refleksi dan kontras tinggi secara keseluruhan. Selain itu filter polarizing juga dapat mengurangi kabut yang sangat berguna untuk fotografer landscape.

Beberapa fotografer landscape pro biasanya tidak pernah meninggalkan rumah tanpa filter polarizing. Ketika memotret pemandangan, filter polarizing ini sering digunakan untuk membumbui warna, menggelapkan langit dan mengurangi kabut. Filter polarizing merupakan juga suatu keharusan saat memotret air terjun atau pemandangan basah lainnya yang di dalamnya ada elemen tumbuh-tumbuhan. Namun ada beberapa potensi masalah yang Anda perlu pahami ketika menggunakan filter polarizing ini, yaitu:

1. Ada minimum dan maksimum efek polarisasi, tergantung pada keselarasan filter. Anda harus memutar filter setiap kali Anda merubah komposisi untuk hasil terbaik. Coba lihat contoh di bawah ini dari minimum dan maksimum efek polarisasi:

NIKON D700 + 24-70mm f/2.8 @ 26mm, ISO 200, 1/640, f/8.0. Photo © Nasim Mansurov

2. Perubahan efek dari polarisasi relatif terhadap matahari. Efek maksimum polarisasi dapat dicapai ketika lensa menunjuk 90 derajat dari matahari (segala arah). Trik sederhana untuk mengetahui hal tersebut yaitu dengan membentuk pistol dengan jari telunjuk dan ibu jari Anda, lalu arahkan jari telunjuk Anda ke matahari. Dalam keadaan menunjuk matahari, putar tangan Anda searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam. Efek maksimum polarisasi akan berada di mana titik ibu jari Anda dalam segala arah.

3. Hindari menggunakan filter polarzing pada lensa ultra-wide, karena itu bisa berpotensi menyebabkan langit gelap sebagian (tidak rata) yang akan sulit untuk diperbaiki saat post-processing. Berikut adalah contoh dari apa yang terjadi ketika menggunakan polarizer pada lensa ultra-wide:

Bandingkan kecerahan langit bagian tengah dengan kiri dan kanan. Photo © Nasim Mansurov

4. Dalam beberapa kasus efek maksimum dari filter polarizing dapat mengakibatkan langit menjadi biru gelap tidak wajar yang tampak seperti berikut:

Photo © Nasim Mansurov

5. Anda akan kehilangan sekitar 2-stop cahaya ketika menggunakan filter polarizing, sehingga Anda harus mengurangi shutter speed untuk menormalkan eksposur. Filter polarizing jenis "Singh-Ray" disebut-sebut sebagai jenis yang lebih baik ketimbang polarizing lainnya, karena tipe ini hanya mengurangi sekitar 1-stop cahaya.

6. Filter polarisasi biasanya lebih tebal daripada filter jenis lainnya, oleh karena itu filter ini dapat menimbulkan atau bahkan menambah kadar vignetting pada gambar.

Untuk menghindari vignetting, filter polarisasi tidak boleh ditumpuk dengan filter lainnya. Dan karena bisa mengurangi cahaya, maka sebaiknya Anda menggunakan filter polarisasi hanya bila diperlukan saja. Dalam beberapa situasi kontras tinggi mungkin Anda perlu untuk menggabung filter polarizing dengan filter neutral density (ND).

3. Filter Neutral Density (ND)


Denga filter ini Anda bisa memblok / mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke lensa. Soal berapa besar cahaya yang bisa diblok itu tergantung dari kemampuan filter ND yang digunakan.


Secara fisik, filter neutral density terlihat sama dengan filter polarizing, karena sama-sama menggunakan elemen kaca yang gelap. Tapi fungsinya jelas berbeda, jadi Anda harus bisa membedakan mana filter polarizing dan mana filter ND. Tujuan utama dari filter neutral density ini adalah untuk mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke kamera dan dengan demikian kita bisa mengurangi shutter speed beberapa stop. Biasanya untuk menerapkan shutter speed lambat atau mode bulb (baca tentang bulb di sini) kita melakukannya di malam hari dalam situsi minim cahaya, sehingga kita dapat leluasa menurunkan nilai shutter speed. Nah, dengan filter ND ini kita bisa menerapkan shutter speed lambat bahkan di siang hari. Karena jika hanya mengandalkan aperture yang diperkecil misalnya f/22, belum cukup untuk membendung cahaya di pagi / siang hari. Apalagi jika Anda ingin membentuk semacam efek kabut pada arus air (ombak atau air terjun). Berikut contoh gambar yang menggunakan filter ND:

NIKON D3S + 24-70mm f/2.8 @ 32mm, ISO 200, 6/1, f/9.0. Photo © Nasim Mansurov

Filter ND ini tersedia dalam berbagai kemampuan dalam memblok cahaya. Filter ND yang berkemampuan 8-stop artinya bisa mengurangi eksposur hingga 8-stop. Dengan kemampuan seperti itu Anda bisa menurunkan shutter speed kira-kira sekitar 2s dengan bukaan aperture di f/11. Itu baru bukaan f/11, bagaimana jika bukaannya dipersempit lagi? Tentunya shutter speed bisa lebih lambat dari 2s. Namun ingat, hati-hati dengan bukaan di atas f/11 atau f/16 pada lensa standar, itu bisa menurun kualitas gambar akibat masalah difraksi.

Filter neutral density (ND) juga berguna saat Anda menembak dengan flash. Jadi misalnya Anda memotret model dengan shutter speed 1/250s dan aperture f/2.8 pada siang hari menggunakan flash untuk membuat efek dramatik, kemungkinan besar akan terjadi overexposed pada subjek. Anda tidak dapat meningkatkan shutter speed untuk mengimbangi eksposur yang over karena batas flash sync speed Anda hanya pada max 1/250s, sehingga satu-satunya pilihan adalah memperkecil aperture katakanlah f/11. Akan tetapi mengecilnya lubang aperture akan mempengaruhi ruang ketajaman (baca di sini tentang DOF) yang mana akan mengurangi intensitas blur pada background, apalagi jika Anda ingin membentuk bokeh pada foto model. Tentunya ini menjadi masalah baru. Jadi solusi yang aman untuk kasus tersebut adalah bantuan menggunakan filter ND untuk mengurangi jumlah cahaya agar tidak over. Paham?

Bentuk filter ND ini ada yang circular dan ada pula yang rectangular. Hanya saja orang-orang menilai filter ND bentuk rectangular tidak begitu bermanfaat, sehingga pilihan yang terbaik adalah membeli filter ND circular untuk manfaat ukuran dan portabilitas. Ya, jenis itu yang rata-rata ada di pasaran. Oya, sebaiknya Anda tidak menumpuk filter ND pada lensa wide-angle untuk menghindari vignetting.

4. Filter Graduated Neutral Density (GND)


Perbedaan antara neutral density (ND) dengan graduated neutral density (GND) adalah bahwa pada filter GND hanya memiliki 1/2 bagian filter yang bisa memblok cahaya, sedangkan bagiannya lainya bersifat clear (tidak memiliki pengaruh).


Karena ukuran langit terhadap latar depan dapat berubah tergantung pada komposisi, sehingga filter GND dibuat dalam bentuk rectangular (persegi panjang). Oleh karena itu, filter ini harus digunakan dengan alat penahan filter (holder), atau dengan cara manual dipegang oleh tangan di depan lensa. Ribet ya?

Keuntungan dari menggunakan holder adalah bahwa Anda dapat menumpuk beberapa filter dan Anda tidak perlu khawatir tentang masalah keselarasan. Sedangkan resiko menggunakan holder dapat menambah vignetting, sehingga Anda harus berhati-hati ketika menggunakan lensa wide-angle dengan focal length di bawah 35mm. Bila menggunakan filter holder pada body full-frame dengan lensa Nikon 24-70mm f/2.8G, Anda bisa menggunakan focal length 28mm atau di atasnya untuk menghindari vignetting. Jika Anda me-mount holder ini di atas filter polarizing, Anda mungkin akan melihat vignette bahkan pada focal length 35mm dan sedikit di atasnya.

Filter graduated neutral density (GND) ini sangat berguna untuk pemotretan pada situasi kontras tinggi, di mana langit sangat cerah dibandingkan dengan latar depan (foreground), intinya itu situasi yang tidak seimbang antara pencahayaan pada langit dan bumi. Kondisi seperti itu akan sering kali Anda jumpai pada posisi kamera menghadap matahari atau dikenal dengan posisi backlight (baca di sini). Pada posisi backlight (atau backlit) area langit akan cerah berlebihan dan kehilangan warnanya. Sehingga dengan filter GND kita bisa menggelapkan hanya bagian langit atau mendapatkan kembali warnanya tanpa mempengaruhi pencahayaan di area bumi. Filter GND ini terbagi menjadi 3 jenis yang umum digunakan yaitu Hard-Edge, Soft-Edge dan Reverse.

4.1. Filter 'Hard-Edge' Graduated Neutral Density (GND)

Seperti yang saya jelaskan di atas bahwa pada filter GND hanya ada 1/2 bagian filter yang bisa memblok cahaya sehingga filter terlihat seperti "hitam-putih". Nah, yang menjadi pebedaan utama antara GND jenis hard-edge dengan soft-edge adalah bahwa pada GND soft-edge, tepi di tengah filter yang memisahkan antara bagian yang gelap (memblok) dan bagian yang clear, ada semacam transisi atau tahapan halus menuju bagian filter yang gelap, oleh karenanya filter ini dinamakan "tepian halus". Sedangkan tepian pada GND hard-egde tidak memiliki tahapan itu sehingga filter GND hard-edge hanya cocok digunakan pada adegan landscape yang menunjukan garis horizon yang lurus dengan jelas. Berikut contoh adegan landscape yang cocok untuk diterapkan filter GND jenis hard-edge:

NIKON D300 @ 38mm, ISO 200, 1/25, f/8.0. Photo © Nasim Masunrov

4.2. Filter 'Soft-Edge' Graduated Neutral Density (GND)

Seperti yang saya jelaskan di atas bahwa GND jenis soft-edge ini memiliki tahapan halus ke bagian filter yang gelap. Sehingga filter ini cocok untuk semua situasi adegan landscape, baik itu adegan yang memperlihatkan garis horizon atau adegan landscape lainnya seperti yang ditunjukan pada foto di bawah ini:

NIKON D3S + 24-70mm f/2.8 @ 38mm, ISO 200, 1/6, f/8.0. Photo © Nasim Mansurov

4.3. Filter Reverse Graduated Neutral Density (GND)

Adapun filter GND jenis reverse ini tergolong filter jenis baru. Ini memiliki fungsi yang unik dan bagi saya ini sangat berguna untuk menangkap adegan sunrise dan sunset. Filter GND jenis reverse ini mengambil sedikit karakter dari hard-edge dan soft-edge. Bila pada GND soft-edge, tahapan halus mulai dari clear lalu perlahan menuju gelap, sedangkan GND reverse ini kebalikannya yaitu dari gelap lalu perlahan menuju ke "kurang gelap (tidak sepenuhnya clear)".

Dengan karakter filter GND reverse kita bisa menggelapkan bagian tengah adegan landscape dan cocok untuk memotret matahari yang dekat dengan garis horizon, seperti saat sunrise dan sunset. Maksud tujuan menggelapkan bagian tengah (matahari) untuk mendapatkan warna sunrise / sunset, tanpa mengalami kekurangan cahaya pada area selain tengah frame. Semakin kita mencoba menggelapkan bagian tengah (matahari) maka warnanya semakin kuat (merah atau kuning). Kendala yang sering dihadapi ketika memotret sunrise dan sunset tanpa bantuan filter adalah masalah pencahayaan yang underexposed diakibatkan kita mencoba menggelapkan matahari. Sehingga saat memulihkan eksposur pada tahap post-processing nanti akan menyebabkan terlihatnya banyak noise. Kesimpulannya, filter GND reverse ini sangat membantu ketimbang memotret matahari tanpa filter, dan bagi saya itu sangat merepotkan. Berikut contoh gambar menggunakan filter GND jenis reverse:

Photo © Nasim Mansurov

5. Filter Color / Warming / Cooling


Filter jenis ini memiliki bentuk circular dan rectangular. Fungsi dasar dari filter color / warming / cooling umumnya digunakan untuk merubah white balance (WB). Untuk filter color memiliki 2 jenis yaitu: Color Correction untuk mengkoreksi warna oleh pengaruh white balance, dan Color Subtraction untuk mengurangi warna. Filter jenis color subtraction digunakan untuk menyerap satu warna dan mengabaikan warna lainnya.


Filter jenis warming akan menghasilkan efek warna "warm" yang mengarah ke kuning atau merah. Sedangkan filter cooling akan menghasilkan efek warna yang mengarah ke biru-biruan. Warming dan cooling di sini intinya tentang temperatur "panas" dan "dingin", dan kamera menggunakan konsep itu pada pengaturan white balance (baca tentang WB di sini), sedangkan kedua filter ini dibuat untuk memanipulasi seolah-olah gambar bertemperatur "warm" atau "cool". Paham mas bro??

Filter color / warming / cooling ini cukup populer untuk film, tapi jarang digunakan untuk fotografi digital. Karena membentuk efek warna dan merubah white balance dapat dengan mudah dilakukan saat post-processing menggunakan perangkat lunak seperti Lightroom dan Photoshop. Karakter filter color juga bervariasi, bahkan ada yang memiliki bentuk gradual seperti karakter filter GND. Dengan filter semacam itu kita bisa memperkuat atau malah mengganti warna pada area langit dan tidak merubah warna pada area bumi. Sedangkan filter color yang berbentuk rectangular (persegi panjang) dan digunakan bersama holder, bisa menumpuk lebih dari 1 filter color, dengan tujuan 1 filter untuk merubah warna langit dan 1 filter lainnya untuk merubah warna bumi, atau kreasi lainnya dengan 3 atau 4 filter color. Berikut contoh penggunaan filter color:


6. Filter Close-Up (Diopter)


Filter ini juga dikenal sebagai "diopter" ini hanya digunakan untuk fotografi makro. Dengan filter close-up memungkinkan lensa non-makro untuk fokus lebih dekat pada subjek.


Kalian percaya atau tidak, di luar Indonesiaku tercinta ini, filter close-up umumnya disebut "lensa close-up", karena secara fungsi lebih menyerupai lensa ketimbang filter. Filter close-up khusus digunakan untuk fotografi makro karena fungsinya memperpendek jarak fokus sehingga bisa lebih dekat dengan subjek. Untuk fotografi makro sejatinya membutuhkan lensa khusus makro yang memiliki kemampuan jarak fokus yang sangat dekat dengan subjek dan bisa mereproduksi ukuran 1:1 dari subjek. Bingung ya? Baca di sini tentang Minimum Focusing Distance (MFD) dan Magnification Ratio.

Lensa non-makro termasuk lensa standar (kit 18-55mm) tidak memiliki kemampuan yang saya sebutkan di atas, sehingga solusi untuk memotret makro dengan lensa biasa adalah menggunakan filer close-up. Karena lensa khusus makro harganya cukup mahal, sehingga filter ini bisa menjadi alternatif yang murah. Meskipun demikian, filter close-up secara negatif dapat juga mempengaruhi kualitas gambar. Maka hasil terbaik dianjurkan untuk menggunakan lensa makro.

Filter close-up juga tersedia dan berbagai pembesaran seperti +1, +2, +4 atau 10x, seperti yang ditunjukan gambar filter di atas. Semakin besar angkanya, semakin dekat jarak fokus ke subjek. Berikut contohnya:


Anda juga bisa menyusun lebih dari 1 filter close-up agar jarak fokus semakin pendek, tapi resikonya kualitas gambar semakin terluka mas bro.

7. Filter Efek Khusus (Special Effects)


Filter ini menyediakan beberapa filter dengan efek khusus seperti filter "star" untuk membuat objek terang terlihat seperti bintang, filter "softening/diffusion" membuat semacam efek "dreamy" untuk foto portrait, filter "multivision" dapat membuat tiruan multi dari sebuah subjek, filter "infrared" untuk gambar dengan efek infrared, filter "bokeh" yang memiliki potongan di tengah filter dengan bentuk-bentuk unik yang membuat bokeh yang unik, dan masih banyak filter dengan efek khusus lainnya.

Sejak era digital banyak efek gambar yang dapat dengan mudah diproduksi di Photoshop, mengakibatkan filter special effects ini kehilangan cukup banyak popularitas di pasaran. Seperti efek star yang dapat dengan mudah dibuat di Photoshop melalui beberapa langkah dengan menggunakan filter "motion blur". Begitupula efek softening glow yang juga dapat dengan mudah dibentuk dengan filter "gaussian blur" dan kemungkinan besar efek-efek lainnya juga bisa dimanipulasi lewat Photoshop. Namun satu-satunya filter yang sulit direproduksi di Photoshop adalah filter bokeh.

Fotografer digital jarang membawa filter jenis ini kecuali 1 filter yang masih diminati hingga sekarang yaitu filter infrared (IR). Meskipun efek infrared juga bisa dibentuk lewat Photoshop (lihat di sini tutorialnya), akan tetapi hasilnya tidak sama dan lebih berkualitas menggunakan filter IR. Itupun hasil gambar menggunkan filter IR juga perlu diolah lagi untuk menambah visualisasi infrared. Jujur, saya menyukai hasil dari filter IR yang kemudian diolah ke Lightroom dan Photoshop. Berikut contoh gambar menggunakan filter IR dan sudah melalui post-processing:

Photo © Nasim Mansurov

Material Filter


Filter dapat dibuat dari material kaca (glass), plastik, resin, polyester dan polikarbonat. Setiap bahan material yang digunakan menunjukan kualitas filter dan bahan kaca (glass) biasanya berkualitas tertinggi, tapi sangat mahal dan cenderung mudah pecah, terutama dari persegi atau tipe persegi panjang. Sedangkan filter dengan elemen berbahan plastik dan resin jauh lebih murah daripada yang berbahan kaca dan tidak mudah pecah. Filter bahan plastik dan resin seringkali menjadi pilihan utama untuk filter neutral density (ND). Adapun filter dengan bahan polyester lebih tipis dari kaca dan memiliki kualitas yang sangat tinggi, tetapi rentan terhadap goresan dan oleh karenanya sangat tidak praktis di lapangan. Sedangkan filter polikarbonat dikenal sangat tangguh, anti gores, dan merupakan alternatif yang baik dari filter plastik / resin.

Terakhir pesan dari saya bahwa sebaiknya Anda teliti dalam memilih filter, baik itu dari segi kualitas dan peruntukkannya. Kemudian pertimbangkan setiap konsekuen yang ditimbulkan oleh filter tersebut. Secara pribadi untuk adegan landscape tertentu terkadang saya segan menggunakan filter color karena ragu bahwa itu justru akan merusak gambar dan akan sangat sulit menormalkan gambar yang sudah terkontaminasi oleh warna dari filter color. Namun di satu sisi, saya membutuhkan filter tertentu seperti filter GND reverse untuk menangkap indahnya momen matahari terbenam. Sekali lagi saya katakann "gunakan filter yang sesuai dengan kebutuhan fotografi Anda".

Semoga bermanfaat!!

BACA JUGA: DSLR atau Mirrorless, Mana Yang Lebih Baik?
SHARE

PENULIS: M. HAJAR A.K

Pengunjung yang terhormat mohon untuk tidak menduplikat artikel ini. Hargai usaha saya menyusun semua artikel yang ada di blog KELASFOTOGRAFI.COM. Silahkan ambil referensi tapi jangan menduplikatnya.

Artikel Lainnya

KELAS FOTOGRAFI

Kami mendeteksi Adblock Anda sedang aktif.
Kemungkinan ada bagian artikel yang hilang.
Apakah Anda menggunakan UC Browser?
Mohon non-aktifkan Adblock di browser Anda atau gunakan browser selain UC Browser.
Kami rekomendasikan Anda menggunakan Google Chrome untuk tampilan laman yang lebih baik.

[ Lihat Cara Non-Aktifkan Adblock ]
TUTUP BOX INI