MOHON AKTIFKAN JAVASCRIPT ANDA!
[KLIK DI SINI PETUNJUKNYA]

Trik Menghilangkan Flare dan Ghosting Saat Memotret Landscape

Ketika memotret pemandangan (landscape) dalam posisi backlit (baca di sini apa itu backlit), dengan sumber cahaya terang seperti matahari, sering kali kita menemukan masalah ghosting dan flare pada gambar. Berfikir tentang pengaturan kamera, sudut pengambilan gambar dan beberapa hal terkait untuk mendapatkan gambar landscape yang "menakjubkan dalam posisi backlit" bukanlah hal yang mudah. Sebagai seorang fotografer landscape Anda pasti tahu hal ini bukan?

Mungkin, sekilas kadar flare dan ghosting terlihat cukup normal tapi kadang-kadang efeknya yang berat malah bisa membahayakan gambar. Karena setiap lensa bereaksi berbeda terhadap sumber cahaya terang, dengan beberapa memiliki pelapis khusus (special coating) dan optimasi optik lensa untuk meminimalisir flare dan ghosting tersebut, namun kerusakan yang diakibatkan bukan sesuatu yang dapat dengan mudah diprediksi. Terlalu banyak variabel yang terlibat dalam masalah ini seperti focal length, desain optik, coating, sudut sumber cahaya dan bahkan debu dalam lensa. Untuk mengetahui lebih dalam tentang hal ini silahkan baca pembahasan lengkap flare dan ghosting (klik di sini).

Jadi, apa yang Anda harus lakukan ketika Anda akan memotret momen sunrise / sunset yang indah dan Anda ingin menangkap matahari dalam gambar tanpa jejak flare atau ghosting? Suatu trik yang sangat membantu oleh fotografer Nasim Mansurov, teknik sederhana hanya menggunakan "jari" yang diterapkan olehnya selama bertahun-tahun, dan saya sangat berterima kasih karena beliau sudah mau membagi rahasianya untuk mengatasi masalah flare dan ghosting. Baik, sebelumnya saya ingin kita bersama-sama menganalisa beberapa hal terkait masalah flare dan ghosting. Saya harap Anda tidak jenuh membacanya.

1. Kerusakan Oleh Flare dan Ghosting


Mari kita lihat beberapa contoh gambar ketika matahari masuk dalam frame. Dan gambar pertama di bawah ini menunjukan posisi matahari tepat di tengah-tengah frame dan aperture sengaja dipersempit ke f/16 untuk menciptakan efek "sunburst":
 
NIKON D750 + 24mm f/1.8 @ 24mm, ISO 100, 1/5, f/16.0
Photo credit © Nasim Mansurov

Sekarang Anda sudah tahu seperti apa itu sunburst. Dan gambar di atas adalah "upaya terbaik" untuk memotret matahari, karena kerusakan yang dihasilkan oleh ghosting dan flare sangat minim. Seperti yang Anda lihat, hanya terlihat "satu ghosting" saja pada bagian tengah bawah dari gambar, dan itu sangat mudah diperbaiki dengan Photoshop atau Lightroom. Kemudian ada beberapa alasan mengapa efek dari matahari tidak melakukan banyak kerusakan dalam gambar tersebut.

Pertama, adegan itu ditembak dengan focal length yang cukup pendek, 24mm pada kamera full-frame. Oleh sebab itu dalam hal ini focal length merupakan faktor penting, karena efek ghosting dan flare semakin buruk pada focal length yang panjang. Ini seperti yang saya jelaskan pada ulasan beberapa lensa tele.

Saat memotret dengan lensa sudut lebar (wide-angle), sumber cahaya terang seperti matahari menempati sebagian kecil dari frame, yang meminimalkan dampak cahaya terpental sekitar antara elemen lensa dan juga meminimalkan masalah ghosting dan flare. Pengambilan adegan yang lebih luas juga mengurangi dampak kerusakan pada area sekitar gambar. Jika Anda pernah memotret dengan lensa fisheye dan memasukkan matahari dalam frame, Anda akan melihat matahari menunjukkan sunbursts bahkan pada bukaan aperture yang lebar. Coba Anda lihatlah gambar di bawah ini yang ditangkap dengan lensa fisheye:

NIKON D7000 + 10.5mm f/2.8 @ 10.5mm, ISO 100, 1/160, f/11.0
Photo credit © Nasim Mansurov

Gambar di atas menggunakan focal length 10.5mm pada body crop-sensor, dan karena focal length sependek itu akibatnya matahari tampak kecil dalam frame, sehingga dengan mudah membentuk sunburst bahkan dengan bukaan aperture sekitar f/5.6 - f/8. Untuk gambar fisheye di atas menggunakan aperture lensa f/11 dan seperti yang Anda lihat, itu menciptakan sebuah burst yang cukup besar di sisi kiri atas dari frame. Tapi ada yang mengesankan pada gambar tersebut, bisakah Anda temukan? Tidak biasanya, gambar di atas tidak membawa pengaruh sinar matahari pada warna langit dan tidak memiliki dampak pada masalah shadow / highlight, rinciannya pun cukup jelas.

Masih mengenai foto fisheye di atas, bahwa bidang langit yang dekat dengan matahari tampak berwarna biru, jadi ini tidak menghawatirkan akan pemulihan rincian apapun dalam gambar atau mencoba menggunakan filter untuk mengatasi masalah eksposur. Selain itu, tidak ada jejak flare dan ghosting pada gambar. Jika gambar diambil dengan adegan yang sama namun menggunakan lensa dengan focal length yang panjang (lensa tele 70mm misalnya), kemungkinan besar banyak masalah kompleks yang perlu ditangani. Jadi selalu diingat ketika Anda memotret sebuah adegan yang memasukkan sumber cahaya terang (matahari atau apapun) dalam gambar Anda, ingat bahwa semakin panjang focal lensa, semakin banyak kerusakan ghosting dan flare pada gambar.

Kedua, gambar pertama di atas ditembak menggunakan lensa prime / fix berkualitas tinggi, khususnya Nikkor 24mm f/1.8G, yang tidak hanya memiliki formula optik yang canggih, tetapi juga teknologi lapisan-multi Nikon terbaru seperti Nano Coating dan Super Integrated Coating untuk mengurangi refleksi internal. Ini juga salah satu alasan utama mengapa kerusakan yang dihasilkan dari matahari sangat minim. Jadi kesimpulan dari alasan kedua ini bahwa lensa kelas "pro" atau kualitas premium lebih baik dalam hal menangani masalah flare dan ghosting. Catat!!

Ketiga, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, bahwa aperture diperkecil ke f/16 dapat menciptakan efek "sunburst". Dalam kasus ini, lensa yang digunakan pada gambar pertama di atas adalah kandidat yang sempurna untuk sebuah burst yang indah, Nikkor 24mm f/1.8G yang memiliki 7 pisau aperture (blade aperture). Biasanya, kebanyakan pisau aperture menghasilkan bokeh highlight yang halus pada gambar, terutama jika pisau aperture berbentuk "bulat (rounded)". Akan tetapi, jumlah pisau aperture yang terlalu banyak juga memiliki dampak buruk pada sunburst, semakin banyak jumlah pisau, semakin banyak pula jumlah semburan sinar matahari. Nikon dan Canon biasanya menggunakan 7 atau 9 pisau aperture (jumlah ganjil menghasilkan dua kali lipat sinar sunburst), sehingga lensa seperti di atas akan membuat total 14 sinar, sedangkan lensa dengan 9 pisau aperture seperti Nikkor 24-70mm f/2.8G akan menciptakan sunburst dengan total 18 sinar. Semakin banyak sinar, biasanya justru terlihat semakin berantakan. Itulah sebabnya lensa dengan 7 pisau aperture seringkali lebih baik untuk memotret pemandangan (landscape) dengan matahari masuk ke dalam frame.

Tapi, apakah Anda tahu konsekuennya pada gambar bila mengecilkan aperture dengan maksud untuk menangani flare dan ghosting? Memang, itu tergantung oleh lensa, coating dan desain optik. Tetapi biasanya memperkecil lubang aperture justru membuat flare dan ghosting tampil lebih jelas dan juga mengurangi total luas frame. Tentu ini bukan hal yang baik! Dalam banyak kasus serupa, Anda akan melihat bentuk flare / ghosting tampak lebih jelas dengan warna yang lebih menyolok, sehingga cukup sulit untuk menanganinya di tahap pengolahan gambar. Jika Anda menemukan masalah tersebut, maka cara terbaik adalah dengan menggunakan teknik yang saya jelaskan dalam artikel ini untuk mengurangi dampak flare dan ghosting dan ini berpotensi bahkan menghilangkan ghosting yang buruk.

Keempat, karena matahari ditempatkan di bagian tengah atas frame, ghosting muncul di sisi berlawanan dari frame, seperti apa yang terjadi pada gambar pertama sebelumnya. Jadi misalnya Anda menempatkan matahari di sisi kiri atas frame, maka ghosting muncul di sisi kanan bawah frame, begitu pula sebaliknya. Ingatlah hal ini ketika memotret landscape, karena mungkin Anda akan malas untuk kembali ke lokasi pemotretan dan akhirnya sangat kecewa ketika melihat hasil gambar di komputer Anda. Dalam beberapa kasus, munculnya flare dan ghosting pada lubang aperture yang lebih besar benar-benar dapat membahayakan gambar, mengurangi kontras dan itu sesuatu yang hampir mustahil untuk bisa diatasi pada tahap pengolahan / pengeditan gambar.

Ada beberapa alasan lain mengapa flare dan ghosting muncul seperti yang terjadi pada gambar di atas, tapi saya tidak akan masuk ke rincian itu, karena saya sudah membahasnya pada artikel mengenai flare dan ghosting (sekali lagi lihat di sini artikelnya).

Selanjutnya, mari kita lihat gambar lainnya yang mana flare dan ghosting membawa efek yang jauh lebih buruk:

NIKON D750 + 24mm f/1.8 @ 24mm, ISO 100, 1/125, f/11.00
Photo credit © Nasim Mansurov

Dalam kasus ini, alasan utama munculnya garis cahaya aneh berwarna ungu (yang sulit untuk memperbaikinya di photoshop) adalah akibat penempatan posisi matahari dalam frame. Pemilihan sudut dan penempatan tertentu seperti foto di atas akan benar-benar membuat sinar matahari memantul di dalam lensa, menciptakan flare yang tampak aneh dan berakhir dengan ghosting (lihat tepi kanan bawah pada gambar di atas).

Dan jika diakali dengan menggeser posisi matahari lebih jauh ke kiri atas, maka sinar ungu menghilang:

NIKON D750 + 24mm f/1.8 @ 24mm, ISO 100, 1/60, f/11.0
Photo credit © Nasim Mansurov

Namun, masih saja terlihat beberapa kerusakan dan Anda bisa melihat itu di sisi kanan bawah frame, yang mempengaruhi kontras pada area tersebut dan meninggalkan jejak flare ungu, bahkan ukurannya jauh lebih besar.

2. Solusi Atasi Flare dan Ghosting Menggunakan "Jari"


Sederhana tapi efektif, boleh dicoba!! Anda hanya perlu melakukan 2x tembakan secara konsisten (pengaturan kamera dan sudut pengambilan gambar harus sama). Kemudian gunakan jari Anda untuk menutup matahari. Seperti apa teknik jari ini terlihat, silahkan perhatikan gambar di bawah ini:

NIKON D750 + 24mm f/1.8 @ 24mm, ISO 100, 1/60, f/11.0
Photo credit © Nasim Mansurov

Anda bisa menggunakan "ibu jari (jempol)" untuk menutupi matahari. Seperti yang Anda lihat, cara ini benar-benar ampuh menghilangkan flare dan ghosting. Jangan khawatir soal penampakkan jari dalam frame, oleh karena itu dalam trik ini kita melakukan 2x tembakkan dan ibu jari akan dihapus saat pengolahan gambar. 

Berikut langkah demi langkah memanfaatkan teknik jari pada matahari:

  • Idealnya Anda membutuhkan sebuah tripod untuk mengambil gambar yang konsisten, agar adegan dalam frame tidak bergeser. Jika Anda tidak memiliki tripod, Anda bisa meletakkan kamera Anda ke sebuah benda yang bersih. Jika mengambil gambar hanya mengandalkan tangan kemungkinan besar akan mempengaruhi hasil akhir.
  • Atur komposisi pengambilan Anda termasuk mengatur posisi matahari dalam frame.
  • Kemudian setting kamera Anda pada pengaturan yang ideal. Pengaturan harus konsisten, nilai eksposur (shutter speed, aperture, ISO) tidak boleh berbeda di setiap tembakkan. Jika Anda khawatir pencahayaan tidak stabil maka gunakan Auto Exposure Lock (baca di sini).
  • Setelah semua sudah siap, lakukan pengambilan gambar pertama, gunakan ibu jari Anda untuk menghalangi matahari dalam frame. Agar tidak merepotkan antara mengontrol kamera dengan mengangakat jari, gunakan saja tembakkan dengan "hitungan mundur 2s", caranya dengan merubah pengaturan Drive Mode kamera Anda (baca di sini petunjuknya).
  • Ulangi lagi pengambilan gambar, namun kali ini keluarkan jari Anda dari frame, lalu biarkan kamera mengambil adegan matahari termasuk konsekuennya terhadap munculnya flare dan ghosting (ini akan diatasi di Photoshop). 
  • Perhatikan hasil gambar Anda, jika gambar pertama dan kedua berbeda maka ulangi lagi cara di atas. Gambar harus identik sama, setidaknya eksposur, posisi matahari dan subjek lainnya dalam gambar tidak bergeser atau berbeda di setiap gambar. Mengerti maksud saya?

Setelah Anda selesai mengambil gambar dan menurut Anda hasilnya sudah cukup, selanjutnya gambar-gambar tersebut perlu diolah / diedit melalui Photoshop.

3. Pengolahan Gambar (Post-Processing)


Kalau Anda sering menggunakan Photoshop, pasti Anda bisa menebak apa yang akan dilakukan selanjutnya. Kedua gambar tersebut akan ditimpa / digabung ke dalam satu file, dengan posisi gambar pertama (yang ada ibu jari) berada di posisi atas. Perhatikan gambar di bawah ini:



Jika Anda menggunakan Lightroom, Anda dapat dengan mudah melakukan ini dengan memilih kedua gambar, kemudian klik kanan pada salah satu gambar yang dipilih, lalu pilih "Edit In" -> "Open as Layers in Photoshop". Perhatikan gambar di bawah ini:


Selanjutnya dalam Photoshop, gunakan fitur penghapus yang bernama "Erase tool" untuk menghapus subjek ibu jari, sehingga subjek matahari pada gambar kedua (posisi bawah) akan terlihat. Mengerti gak? Tool tersebut di tandai dengan "icon penghapus", dan lakukan penghapusan secara hati-hati dan halus, jika ada kesalahan Anda hanya tinggal menekan tombol Ctrl+Shift+Z.


Kalau Anda mahir dengan Photoshop, Anda bisa menggunakan teknik masking atau apalah untuk mengedit gambar ini. Bagi seorang Photoshoper ini adalah pekerjaan yang sangat mudah. Oya, kemungkinan ada perbedaan eksposur pada kedua gambar. Jadi sekali lagi kalau Anda benar-benar mahir dengan Photoshop, saya yakin Anda bisa atasi perbedaan itu dengan mudah. Berikut hasil akhir setelah gambar di olah:

NIKON D750 + 24mm f/1.8 @ 24mm, ISO 100, 1/60, f/11.0
Photo credit © Nasim Mansurov

4. Ketika Trik Ini Tidak Bekerja Dengan Baik


Mungkin dalam beberapa situasi Anda akan menemukan bahwa teknik ini tidak bisa bekerja secara efektif. Kadang-kadang ukuran matahari jauh lebih besar saat pengambilan gambar pada focal length yang lebih panjang, sehingga mengandalkan satu jari saja tidak cukup. Solusinya cukup mudah, gunakan saja beberapa jari sekaligus atau bahkan seluruh tangan Anda. Kedengarannya memang sedikit konyol sih!! Jikalau pun jari atau tangan Anda masih belum cukup, gunakan sesuatu yang lebih besar lagi yang bisa menutupi penampakkan matahari. Berikut adalah hasil akhir dari gambar pertama di atas:

NIKON D750 + 24mm f/1.8 @ 24mm, ISO 100, 1/15, f/16.0
Photo credit © Nasim Mansurov

Saya berharap trik ini bermanfaat bagi Anda, karena ini sangat sederhana dan layak dicoba. Dan trik ini benar-benar bekerja selama Anda menerapkannya dengan benar. Jadi untuk hasil terbaik, sering-sering lakukan latihan. Jangan lupa, perdalam pengetahuan Anda tentang pengolahan gambar menggunakan Photoshop.

BACA JUGA: Tips Membentuk Distorsi Perspektif Pada Foto Landscape 
SHARE

PENULIS: M. HAJAR A.K

Pengunjung yang terhormat mohon untuk tidak menduplikat artikel ini. Hargai usaha saya menyusun semua artikel yang ada di blog KELASFOTOGRAFI.COM. Silahkan ambil referensi tapi jangan menduplikatnya.

Artikel Lainnya

KELAS FOTOGRAFI

Kami mendeteksi Adblock Anda sedang aktif.
Kemungkinan ada bagian artikel yang hilang.
Apakah Anda menggunakan UC Browser?
Mohon non-aktifkan Adblock di browser Anda atau gunakan browser selain UC Browser.
Kami rekomendasikan Anda menggunakan Google Chrome untuk tampilan laman yang lebih baik.

[ Lihat Cara Non-Aktifkan Adblock ]
TUTUP BOX INI