MOHON AKTIFKAN JAVASCRIPT ANDA!
[KLIK DI SINI PETUNJUKNYA]

Mengenal Lebih Dalam Tentang Bokeh


Bokeh atau dikenal juga dengan istilah 'boke' adalah salah satu pelajaran yang paling populer dalam fotografi, karena bokeh dapat membuat foto Anda menjadi lebih menarik secara visual, bahkan untuk konsep foto yang sederhana sekalipun.

Kata bokeh ini berasal dari kata jepang yang secara harfiah diterjemahkan sebagai 'blur' atau 'kabut'. Sedangkan kata blur kadang juga disebut dengan istilah 'out of focus'. Akan tetapi bokeh memiliki karakteristik yang berbeda dari foto blur biasanya (standar blur / gaussian), sehingga tidak semua foto yang backgroundnya blur bisa dikatakan foto bokeh. Bingung? Ini yang akan saya coba jelaskan pada Anda semua. Semoga nantinya Anda bisa mengenali mana yang disebut bokeh, kemudian bagaimana cara membentuknya, apa saja karakternya dan faktor-faktor yang mempengaruhi bokeh. Jadi silahkan simak baik-baik.

Apa Itu Bokeh?


Pada dasarnya terbentuknya bokeh ini merupakan hasil dari intensitas blur pada suatu bagian dalam gambar (umumnya background), lalu menyebabkan bagian tersebut menghasilkan pola berbentuk bulat atau polygonal dan dalam jumlah yang banyak seperti yang ditunjukan pada foto pertama di atas. Bulatan-bulatan itulah yang dinamakan bokeh.

Mungkin foto di atas bukan contoh bokeh yang bagus tapi setidaknya bisa menyampaikan apa yang saya maksud di sini. Dan perlu Anda ingat bahwa "tidak semua" subjek atau bagian dalam gambar yang diblurkan bisa menciptakan bokeh. Jadi jangan Anda berfikir bahwa caranya cukup hanya membuat blur saja. Sekuat apapun intensitas blur, jika memang elemen tersebut tidak ada potensi untuk membentuk bokeh maka ia tidak akan pernah bisa menjadi bokeh. Itulah yang akan membedakan antara blur biasa (gaussian) dengan blur bokeh.


Bagaimana Cara Membentuk Bokeh?


Karena munculnya formasi bokeh diakibatkan oleh blur, maka yang pertama harus Anda pelajari adalah "bagaimana cara membuat latar belakang atau background menjadi blur" (silahkan baca di sini artikelnya). Pada artikel tersebut dijelaskan bahwa faktor kuat terbentuknya blur adalah jarak, pemilihan background dan aperture lensa.

Adapun objek yang bisa Anda pilih sebagai background yang akan diblur dan menghasilkan bokeh adalah objek yang berisi sekumpulan elemen yang mana tiap elemen memiki kontras yang berbeda-beda, entah itu berbeda dari segi warna atau kadar pencahayaan. Objek seperti itu yang paling mudah ditemukan adalah semisal dedaunan yang terdapat cahaya di sela-sela daun atau dedaunan yang beraneka warna. Objek lainnya yang populer adalah kumpulan bolamp (lampu jalan misalnya) juga bisa dijadikan background yang bisa menghasilkan bokeh. Contohnya foto saya di bawah ini:


Karakter Bokeh dan Desain Lensa


Bentuk aperture atau diafragma lensa memiliki pengaruh kuat pada kualitas bokeh. Untuk desain lensa yang menggunakan pisau aperture dengan bentuk konvensional, ketika aperturenya diperkecil dari bukaan maksimum, maka lubang aperture dalam lensa yang dibentuk oleh pisaunya akan berbentuk 'polygonal', sehingga karakter bokeh yang hasilkan juga memiliki karakter polygonal (tidak bulat). Contoh lensa populer yang menghasilkan bokeh polygonal adalah Canon 50mm EF f/1.8 II.

Setiap lensa tidak selalu memiliki jumlah dan bentuk pisau aperture yang sama. Namun karena alasan karakter polygonal, sehingga pengembangan membawa desain beberapa lensa menggunakan banyak pisau aperture dengan bentuk tepi pisau melengkung untuk membuat lubang aperture mendekati 'lingkaran' daripada polygonal, dan hasil bokehnya juga mendekati bulat. Produsen Minolta berada di garis depan yang mempromosikan dan memperkenalkan lensa dengan lubang mendekati bulat sejak tahun 1987. Namun saat ini sudah banyak produsen lain yang menawarkan lensa dengan lubang diafragma yang benar-benar melingkar (circular/rounded), sehingga bokeh menghasilkan karakter bulat halus, dan desain seperti ini kebanyakan diterapkan pada lensa keperluan portrait.


Saat ini tidak sulit untuk memanipulasi bokeh dengan peralatan sederhana buatan sendiri. Seperti menggunakan kertas yang dilubangi berbentuk hati (love) atau bintang, kemudian dijadikan masker dan dilekatkan di depan elemen lensa. Trik ini untuk menghasilkan bentuk bokeh yang unik sesuai dengan bentuk lubang yang dibuat.

Pada tahun 2015, Meyer Optik USA Inc. meluncurkan sebuah kampanye Kickstarter produk Trioplan f2.9 / 50, sebuah lensa baru yang memiliki tipikal yang sama dengan produk pendahulunya yang diproduksi oleh Hugo Meyer & Co. Namun kedua lensa tersebut menunjukkan karakteristik bokeh yang sama yaitu 'soap-bubble', yang masih populer hingga saat ini.

Contoh Bokeh Soap-Buble | Photo by Fredlab

Selain karakter bokeh di atas, ada beberapa bentuk bokeh yang tidak ideal seperti penggunaan lensa anamorphic yang menyebabkan bokeh muncul berbeda sepanjang sumbu horizontal dan vertikal lensa, dan menyebabkan bokeh menjadi 'ellipsoidal'.

Pengaruh Jumlah Pisau Aperture


Lensa dengan jumlah 11, 12, atau 15 pisau diafragma sering diklaim unggul dalam kualitas bokeh. Karena semakin banyak jumlah pisau apalagi desain tepi melengkung dapat membentuk lubang yang semakin mendekati lingkaran atau bahkan benar-benar bulat. Keuntungan lainnya dari jumlah pisau aperture yang banyak, lensa tidak perlu mencapai lubang yang lebar (fully open) untuk mendapatkan bentuk lingkaran yang lebih baik dan tidak lagi utuh polygonal.

Ilustasi Pengaruh Jumlah Pisau Terhadap Lubang Aperture

Di era dulu, lensa aperture lebar (f/2, f/2.8) sangat mahal harganya karena desain matematis yang kompleks. Seperti produsen Leica yang bisa mencapai bokeh yang baik di f/4.5. Tapi hari ini jauh lebih mudah untuk membuat lensa f/1.8, dan lensa dengan 9 pisau aperture di f/1.8 sudah cukup bagi lensa 85mm untuk mencapai bokeh yang bagus.

Pengembangan Lensa Terhadap Bokeh


Beberapa produsen lensa termasuk Nikon, Minolta, dan Sony membuat lensa yang dirancang dengan kontrol khusus untuk mengubah rendering dari area yang blur. Lensa Nikon 105 mm DC-Nikkor dan 135 mm DC-Nikkor (DC singkatan dari 'Defocus Control') memiliki ring kontrol yang memungkinkan untuk overcorrection dan undercorrection terhadap masalah 'spherical aberration' untuk mengubah bokeh di depan dan belakang focal plane lensa (bukan focal plane sensor).

Sedangkan lensa Minolta / Sony STF 135mm f/2.8 [T4.5] (STF untuk transisi fokus yang halus) adalah lensa yang dirancang khusus untuk menghasilkan bokeh yang menyenangkan. Hal ini dimungkinkan untuk memilih antara dua mekanik diafragma: satu dengan 9 pisau dan lainnya dengan 10 pisau. Lensa ini menggunakan 'filter apodization' untuk melunakkan tepi aperture dan menghasilkan blur halus dengan lingkaran bokeh yang secara bertahap memudar. Kualitas tersebut membuat lensa semacam ini menjadi satu-satunya di pasaran yang diperkenalkan pada tahun 1999 hingga 2014. Sedangkan pada tahun 2014 Fujifilm mengumumkan lensa yang juga menggunakan filter apodization serupa pada produknya yaitu lensa Fujinon XF 56mm f/1.2 R APD.

Sebenarnya pembahasan bokeh ini masih panjang, namun saya hanya menulis bagian-bagian yang penting saja. Setidaknya Anda mendapat banyak informasi tentang desain lensa dan pengaruhnya terhadap kualitas bokeh. Ini juga bisa memberi pertimbangan lain ketika Anda memilih lensa baru, apalagi jika minat Anda memotret dengan background blur. Dan untuk membantu Anda berkreasi dengan bokeh, silahkan baca artikel ini: "Trik Membuat Background Super Bokeh Menggunakan Aluminium Foil".
SHARE

PENULIS: M. HAJAR A.K

Pengunjung yang terhormat mohon untuk tidak menduplikat artikel ini. Hargai usaha saya menyusun semua artikel yang ada di blog KELASFOTOGRAFI.COM. Silahkan ambil referensi tapi jangan menduplikatnya.
KELAS FOTOGRAFI

Kami mendeteksi Adblock Anda sedang aktif.
Kemungkinan ada bagian artikel yang hilang.
Apakah Anda menggunakan UC Browser?
Mohon non-aktifkan Adblock di browser Anda atau gunakan browser selain UC Browser.
Kami rekomendasikan Anda menggunakan Google Chrome untuk tampilan laman yang lebih baik.

[ Lihat Cara Non-Aktifkan Adblock ]
TUTUP BOX INI