MOHON AKTIFKAN JAVASCRIPT ANDA!
[KLIK DI SINI PETUNJUKNYA]

Tips Memotret Anak Balita Di Ruang Terbuka (Outdoor)

Photo Credit © M. Hajar A.K

Memotret anak-anak adalah kegiatan yang menyenangkan. Saya sendiri menyukai beberapa genre fotografi, namun untuk saat ini saya memfokuskan diri memotret anak-anak atau keluarga. Memotret anak itu ada yang mudah dan ada yang sulit. Memotret bayi dan anak usia 2 tahun ke atas masih jauh lebih mudah. Sedangkan anak usia 1-2 tahun tergolong sulit untuk diambil gambarnya. Mengapa? Karena anak usia seperti itu atau balita yang hyper-aktif, apalagi sudah bisa berjalan adalah subjek yang terus bergerak. Kemudian tidak semua anak usia 1-2 tahun mengerti instruksi fotografer, sehingga ini menjadi tantangan tersendiri bagi fotografer anak. Sedangkan bayi hanya berdiam di tempatnya dan gerakannya mudah dikontrol, sementara anak usia 2 tahun ke atas lebih mudah memahami instruksi sehingga lebih mudah untuk diambil gambarnya.

Materi ini tidak terlepas dari konsep indoor dan outdoor. Sekalipun di sini kita berbicara tentang subjek yang hyper-aktif, namun pemotretan dalam studio jauh lebih mudah dan terkendali, ketimbang memotret anak di luar ruangan. Sebab mereka akan merasa bebas, senang, dan berlari sana-sini. Jika yang menjadi fotografer adalah Anda sebagai orangtuanya, apa yang Anda lakukan pada saat itu? Bagaimana cara Anda membekukkan gerakan anak? Bagaimana cara Anda mengunci fokus pada anak yang terus bergerak? Menjaga keseimbangan framing dan masih banyak tantangan lain yang harus bisa diselesaikan oleh fotografer anak. Percayalah, ini tidak mudah!

Berdasarkan pengalaman pribadi saya yang memotret anak-anak di ruang terbuka (outdoor) dan hanya mengandalkan cahaya alami (natural light), maka saya menulis tips ini yang semoga saja bermanfaat untuk Anda. Speedlight tidak berlaku banyak di sini, karena di sini saya tidak berbicara subjek diam yang mudah dijangkau flash, melainkan anak balita sebagai subjek yang terus bergerak. Berikut tips dari saya:

1. Memilih Lensa Yang Tepat


Photo Credit © M. Hajar A.K

Sebaiknya gunakan lensa yang ringan semisal lensa prime / fix 50mm atau setara dengan itu. Tidak masalah jika Anda menggunakan lensa lain, seperti lensa zoom untuk fleksibilitas. Tapi alangkah lebih baik lagi jika lensa yang Anda gunakan memiliki stabilizer (IS/VR). Alasannya seperti yang saya katakan di atas bahwa anak balita adalah subjek yang terus bergerak, sehingga kemungkinan tangan Anda bersama lensa terus bergerak pula mengikuti gerakan anak. Oleh sebab itu Anda membutuhkan lensa yang memiliki IS/VR untuk mencegah bluring akibat getaran dari tangan Anda saat memotret. Soal konsekuen blur / motion akibat gerakan anak solusinya bukan lagi dengan stabilizer, melainkan dengan pengaturan shutter speed (lihat penjelasannya di bawah). Jadi kemungkinan buruk yang saya maksud di sini ada dua, pertama adalah bluring akibat gerakan / getaran tangan fotografer, kedua adalah blur / motion akibat gerakan anak itu sendiri.

2. Sebaiknya Ada Pendamping Anak


Photo Credit © M. Hajar A.K

Saran saya sebaiknya harus ada salah satu orangtua yang mendampingi anak saat pemotretan. Untuk beberapa sesi, mintalah agar orangtua berinteraksi dengan anak, menghiburnya dan bermain dengannya agar anak tidak canggung apalagi sampai takut dengan fotografer. Namun orangtua anak tetap menjaga jarak agar tidak masuk ke dalam frame. Sekalipun Anda memotret anak sendiri, sebaiknya ada orang yang mendampingi untuk mencegah hal-hal yang berbahaya ketika anak berlari sana-sini.

3. Pemilihan Kostum


Photo Credit © M. Hajar A.K

Memotret anak-anak bisa masuk dalam kategori fotografi keluarga atau dokumenter atau bahkan portrait model. Setiap fotografer anak memilki passion tersendiri tentang konsep yang telah didiskusikan dengan orangtua anak. Ada orangtua yang ingin anaknya berpose dengan kostum yang bagus seperti mengenakan busana ala tuan putri, jas anak laki-laki, kostum orang dewasa versi anak, dll. Tapi ada beberapa fotografer yang memotret anaknya sendiri dengan kostum natural yaitu pakaian seadanya yang dikenakan anak sehari-hari. Untuk konsep natural seperti itu bisa dikatakan sebagai foto dokumentasi anak yang menceritakan kegiatan anak di lingkungannya dan menampilkan interaksi serta ekspresi yang natural. Saya sendiri sebagai fotografer anak menggunakan konsep natural dan tidak ada penekanan anak harus berpakaian bagus dan rapi. Karena saya ingin menampilkan mereka apa adanya. Namun untuk membuatnya seimbang, maka saya meperindah foto adegan sederhana tersebut saat proses olah digital (post-processing). Yang saya jelaskan di sini cuma gambaran awal untuk Anda. Kostum yang bagus atau busana apa adanya, itu tergantung selera Anda. Tapi ingat, sebaiknya kostum yang bagus disesuaikan dengan tempat Anda memotret mereka.

4. Pengaturan Kamera Yang Perlu Diperhatikan


Photo Credit © M. Hajar A.K

Sekali lagi saya katakan bahwa anak yang saya maksud di sini adalah anak usia 1-2 tahun. Anak seusia itu biasanya mulai aktif-aktifnya dan belum mengenal instruksi. Jadi yang harus dilakukan adalah mata Anda harus selalu siaga di viewfinder dan sambil memantau pengaturan kamera Anda. Pengaturan penting kamera yang saya rekomendasikan untuk Anda yang pemula yaitu:
  • Gunakan mode pemotretan Shutter Priority (simbol S pada Nikon, simbol Tv pada Canon). Karena subjek terus bergerak, maka saya sarankan Anda untuk fokus pada pengaturan yang mengontrol gerakan yaitu 'shutter speed'. Anda bisa lebih mudah melakukan itu bila menggunakan mode Shutter Priority, karena pada mode tersebut Anda hanya perlu mengatur nilai shutter speed, kemudian aperture diatur secara auto oleh program. Sedangkan untuk ISO gunakan nilai rendah yaitu 100 atau sesuaikan dengan kebutuhan Anda. Baca di sini cara mengatur shutter speed dan di sini cara mengatur ISO.
  • Gunakan mode menembak terus-menerus (continuous-shoot). Pengaturan ini terletak pada menu Drive Mode kamera. Dengan mode continuous Anda bisa mengambil gambar dari setiap gerakan Anak tanpa ragu kehilangan momen lucu anak. Tapi Jika Anda terlatih gunakan saja mode shoot tunggal (singgle-shoot) untuk menghemat shutter-count (jumlah kutip). Baca di sini cara merubah pengaturan Drive Mode.
  • Untuk pengaturan fokus pada lensa gunakan Manual-Focus (MF) untuk mempermudah Anda mengunci fokus pada Anak yang terus bergerak. Sedangkan untuk pengaturan fokus pada kamera silahkan ubah pengaturan AF Mode dan pilih Al-Servo atau Al-Focus pada DSLR Canon, dan Autofocus-Continuous (AF-C) atau AF-A pada DSLR Nikon. Sebaiknya baca penjelasan AF Mode dan cara merubahnya agar Anda paham maksud rekomendasi saya (baca di sini).

5. Siapkan Properti Yang Disukai Anak


Photo Credit © M. Hajar A.K

Untuk pemotretan terkonsep biasanya sudah termasuk pemilihan properti yang disesuaikan dengan kostum dan lokasi pemotretan. Tapi dengan membawa benda kesukaan anak entah itu boneka, mainan atau bunga bisa membuat anak lebih santai. Ini strategi mencairkan suasana hati anak. Karena biasanya anak-anak akan malu, canggung atau bahkan takut ketika melihat wajah yang baru mereka lihat. Saya yakin Anda menginkan anak Anda tersenyum atau tertawa dalam gambar, maka gunakan strategi ini. Cara ini juga efektif untuk membuat anak balita diam dan tidak lari sana-sini. Sebab mereka akan fokus pada benda kesukaannya, dengan begitu Anda akan lebih leluasa mengekspose mereka dari berbagai sudut pemotretan (angle).

6. Pengaturan Frame


Photo Credit © M. Hajar A.K

Perlu Anda ketahui bahwa tidak mudah mengatur frame yang baik pada subjek yang terus bergerak. Mungkin Anda harus bekerja keras dengan mata Anda untuk membuat komposisi yang bagus dan menjaga keseimbangan (balance) agar gambar tidak miring sana-sini. Saya memahami hal itu, dan pengaturan frame yang saya sarankan di sini lebih condong kepada pemilihan 'Type of shot' yaitu memotret anak dalam jangkauan luas (extreme-long-shot atau long-shot), kemudian jangkauan sempit (close-up) untuk mengekspose ekspresi anak, kemudian pengaturan frame landscape dan frame potrait. Soal komposisi dan balance itu tergantung pada kemampuan Anda memotret. Tapi usahakan gambar menghasilkan frame yang bagus dan tidak miring sana-sini.

7. Memperindah Foto Dengan Background Blur


Photo Credit © M. Hajar A.K

Karena di sini kita berbicara soal pemotretan di luar ruangan dan subjek anak yang terus bergerak sehingga konsep menggunakan flash eksternal tidak cocok di sini. Cara paling kreatif untuk memperindah foto Anda pada situasi tersebut adalah merapkan background blur atau bokeh. Ini pembahasan yang lumayan panjang dan Anda yang pemula mungkin akan sulit menerapkan ini meskipun banyak yang bilang foto background blur itu tidak sulit. Untuk pembahasan ini saya tulis terpisah dari artikel ini dan silahkan baca di sini tutorialnya.

8. Menggambarkan Kasih Sayang Orangtua


Photo Credit © M. Hajar A.K

Setelah selesai mengambil foto anak, mungkin Anda perlu mengambil gambar anak bersama ayah / ibunya. Tapi jangan adegan yang biasa-biasa saja seperti anak dan ibu yang duduk berdampingan. Ambil gambar yang menunjukan adegan kasih sayang seperti menggendong anak, memeluk atau mencium anak. Adapun adegan menarik lainnya misalnya bermain atau adegan yang bisa menggambarkan sebuah keluarga. Bila tidak dengan orangtua, mungkin dengan kakek / neneknya atau dengan saudaranya.

Photo Credit © M. Hajar A.K

Ini cuma tips sederhana yang mungkin menurut Anda terlalu subjektif hanya berdasarkan asumsi pribadi saya. Dan saya sangat memahami bahwa setiap fotografer memiliki cara masing-masing. Saya hanya ingin berbagi, tapi jika tips ini masih kurang, Anda bisa mencari referensi dengan melihat karya orang lain, kemudian pelajari konsep mereka untuk pemotretan di luar ruangan. Semakin banyak referensi, semakin banyak ide yang bisa membantu mengembangkan kreatifitas Anda.

Jika Anda benar-benar pemula yang belum tahu banyak soal teknis kamera, sebaiknya baca artikel ini: "10 Pengetahuan Dasar Fotografi Yang Perlu Anda Pelajari". Artikel tersebut memuat sejumlah daftar materi penting bagi pemula. Entah memotret anak atau hal lain, materi tersebut umum dan perlu Anda kuasai.
SHARE

PENULIS: M. HAJAR A.K

Pengunjung yang terhormat mohon untuk tidak menduplikat artikel ini. Hargai usaha saya menyusun semua artikel yang ada di blog KELASFOTOGRAFI.COM. Silahkan ambil referensi tapi jangan menduplikatnya.

Artikel Lainnya

KELAS FOTOGRAFI

Kami mendeteksi Adblock Anda sedang aktif.
Kemungkinan ada bagian artikel yang hilang.
Apakah Anda menggunakan UC Browser?
Mohon non-aktifkan Adblock di browser Anda atau gunakan browser selain UC Browser.
Kami rekomendasikan Anda menggunakan Google Chrome untuk tampilan laman yang lebih baik.

[ Lihat Cara Non-Aktifkan Adblock ]
TUTUP BOX INI