MOHON AKTIFKAN JAVASCRIPT ANDA!
[KLIK DI SINI PETUNJUKNYA]

Membuat Video Dari Koleksi Foto Essay


Mungkin saya bukan orang pertama yang memiliki ide ini, tapi di sini saya berbicara soal fotografi, bukan digital-Art yang maksud saya video berisi kumpulan gambar animasi atau lainnya yang didesain melalui software desain grafis. Memang benar, membuat video dari koleksi foto pribadi bukanlah hal baru. Namun akan membosankan dan terlihat biasa-biasa saja jika video hanya terdiri kumpulan foto yang tidak memiliki hubungan satu sama lain.

Foto essay atau rangkaian foto cerita akan lebih menarik dan memudahkan untuk disimak jika didokumentasikan ke dalam video. Cara ini bisa Anda gunakan untuk fotografi komersil, misalnya pembuatan video prewed yang berisi koleksi foto perjalanan mulai dari masa perkenalan sampai akhirnya ke pelaminan. Apalagi jika setiap gambar menunjukan visual yang tidak biasa-biasa saja. Di bawah ini contoh video dari koleksi foto anak-anak saya, yang saya ambil pada waktu dan tempat yang sama. Silahkan ditonton dulu biar enak baca artikel ini, okok??



Belum lama ini saya memotret mereka di tanah lapang. Awalnya saya tidak berencana untuk membuat foto essay. Saya hanya terus menmbak dan menembak. Saya memotret mereka secara candid dan menghabiskan banyak frame demi menangkap satu atau dua adegan yang sesuai dengan ekspektasi saya. Nah, secara kebetulan saja dari foto-foto tersebut memiliki adegan yang cukup untuk dibuatkan cerita dalam bentuk video. Daripada saya hapus, maka muncul lah ide untuk membuat video dari foto essay. Dalam artikel ini saya akan menjelaskan langkah-langkah yang saya lakukan dalam pembuatan video dari koleksi foto pribadi.

#1. Mengolah Gambar


Sebelum foto diproses menjadi video, saya melakukan pengeditan sederhana seperti mengoreksi shadow dan highlight, memperbaiki ketajaman dan menerapkan vignette buatan. Kemudian merubah rasio gambar dari rasio 3:2 menjadi 16:9 (gambar secara otomatis akan dicrop). Alasan saya merubah rasio gambar agar adegan dalam video tampil penuh tidak ada bagian kosong (hitam) dalam frame. Karena rencananya video akan saya upload di Youtube. Selanjutnya saya mengecilkan sizenya menjadi 1280px pada sisi terpanjangnya (lebar). Alasannya ingin hemat paket data, hehe.. karena bahan foto akan saya upload di salah satu layanan pengedit video gratis, kemudian diolah secara online. Anda tidak harus mengikuti cara saya memperkecil size foto Anda.

Software yang saya gunakan yaitu Adobe Photoshop CC yang memiliki fitur Camera RAW dengan tool yang mirip dengan Adobe Lightroom. Dengan menggunakan Camera RAW ini lah saya membuat vignette buatan agar gambar terlihat lebih dramatis.

#2. Menggunakan Editor Video Online


Di laptop saya ada software ringan untuk membuat video ala kadarnya. Ya, karena saya memang bukan penggemar videographer. Tapi kemudian saya lebih memilih menggunakan aplikasi edit video gratis berbasis online dan saya memilih Supeflix. Tema yang tersedia tidak banyak tapi cukup keren dan saya suka. Cara daftarnya mudah dan cara menggunakannya juga tidak sulit. Berikut panduannya:

  1. Silahkan klik di sini untuk masuk menggunakan layanan Supeflix. Anda bisa login menggunakan akun Facebook atau Google+ Anda, atau mendaftar secara manual menggunakan email Anda.
  2. Kemudian klik di sini untuk memilih tema video. Sebelum memilih, Anda bisa melihat seperti apa efek dari masing-masing tema. Untuk video anak-anak saya di atas menggunakan tema "Tiles". Silahkan klik tombol "Make Video".
  3. Selanjutnya secara otomatis Anda akan dibawa ke halaman editor. Nah, di halaman itulah Anda akan mulai membuat video dengan mengupload foto Anda satu-persatu atau sekaligus. 
  4. Silahkan Anda bereksperimen. Anda bisa menambahkan file gambar, video dan musik. Kemudian menambahkan teks untuk tiap adegan. Tersedia juga efek transisi yang bisa Anda atur secara manual. Saya pikir tidak perlu lagi saya jelaskan panjang lebar cara menggunakan layanan Supeflix. Tombol-tombol memiliki nama dan petunjuk yang jelas dan mudah ditebak untuk apa saja fungsinya.

Kelebihan Stupeflix video bisa disave jika Anda belum ingin mempublishnya. Kemudian video yang sudah terlanjur dipublish masih dapat diedit kembali. Selain itu, Anda bisa menyimpan video di PC / laptop Anda dalam kualitas HD atau kualitas low.

#3. Menggunakan Musik Free Royalty


Jika Anda berniat mengunggah video di Youtube maka perhatikan bagian ini. Video tidak boleh menggunakan musik atau lagu yang memiliki hak cipta orang lain. Mau band favorit, lagu Korea, India, jika hak cipta orang lain maka itu dinyatakan sebagai pelanggaran. Solusinya Anda bisa menggunakan musik "free royalty", silahkan klik di sini. Kemudian pilih kategori musik yang sesuai dengan konten video Anda. Jadi misalnya video Anda berisi adegan anak-anak yang lucu, maka gunakan kategori musik anak dengan hentakan musik ceria. Tapi tergantung momennya juga sih!!

#4. Menggunakan Jasa Penerjemah


Langkah ini cuma opsional saja. Biar terkesan keren, saya menggunakan teks dalam bahasa Inggris. Tapi karena tidak yakin dengan kemampuan bahasa Inggris saya, maka saya menggunakan layanan dari Flitto. Kalau ada di antara kalian seorang penerjemah di Flitto, sampaikan salamku "terima kasih". :)

Dalam membuat foto essay, Anda bisa menggunakan pendekatan dengan metode EDFAT, metode yang digunakan oleh fotografer jurnalis (baca di sini). Jangan bertanya mengapa video saya di atas justru tidak ada implementasi dari teori EDFAT. Karena seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa saya tidak memiliki rencana membuat foto essay, tapi kebutulan saja foto-foto tersebut mendukung untuk dibuatkan cerita dalam bentuk video. Dan artikel ini hanya berbagi ide, daripada foto numpuk di laptop Anda? Atau barangkali ini bisa menjadi peluang bisnis baru untuk jasa fotografi Anda.

Okey, semoga bermanfaat ya!!
SHARE

PENULIS: M. HAJAR A.K

Pengunjung yang terhormat mohon untuk tidak menduplikat artikel ini. Hargai usaha saya menyusun semua artikel yang ada di blog KELASFOTOGRAFI.COM. Silahkan ambil referensi tapi jangan menduplikatnya.
KELAS FOTOGRAFI

Kami mendeteksi Adblock Anda sedang aktif.
Kemungkinan ada bagian artikel yang hilang.
Apakah Anda menggunakan UC Browser?
Mohon non-aktifkan Adblock di browser Anda atau gunakan browser selain UC Browser.
Kami rekomendasikan Anda menggunakan Google Chrome untuk tampilan laman yang lebih baik.

[ Lihat Cara Non-Aktifkan Adblock ]
TUTUP BOX INI