MOHON AKTIFKAN JAVASCRIPT ANDA!
[KLIK DI SINI PETUNJUKNYA]

Materi Penting Fotografi yang Sering Dilupakan


Sering kali saya menemukan pemula mengabaikan hal pokok yang merupakan bagian dari esensi fotografi. Prinsip yang berbeda-beda dari setiap fotografer bisa saja menjadi penyebabnya. Selain itu, ketergantungan dengan permainan software juga besar pengaruhnya yang mengakibatkan banyak pemula lebih senang memanipulasi daripada belajar menghasilkan tembakan terbaiknya. Tentu itu tidak terjadi begitu saja, apalagi sebagai pemula Anda mengabaikan kaidah dan pedoman fotografi yang ada sejak dulu.

Di sini saya mencoba menuliskan hasil pengamatan saya tentang hal-hal yang kerap diabaikan oleh kebanyakan fotografer, khususnya pemula. Anda harus memahaminya secara terbalik, jika saya mengatakan ini "sering dilupakan" maka artinya itu harus Anda ingat. Berikut materi yang sudah seharusnya tidak diabaikan oleh setiap fotografer:

1. Mencari Point of Interest (POI)


Kebanyakan situasi, POI tidak hadir begitu saja atau bahkan terelewatkan karena kecerebohan fotografer. Pentingnya POI sehingga ia diibaratkan "ruh" dari sebuah gambar, dan POI merupakan cara yang paling kuat mendeskripsikan gambar Anda. Jadi setiap kali Anda melihat adegan maka biasakan untuk mencari di mana letak Poin of Interest sebelum Anda menembak adegan tersebut. Sedangkan cara terbaik memilih POI adalah dengan memahami definisi dari POI itu sendiri. Ini bisa menjadi luas, tergantung juga bagaimana fotografer mendefinisikannya. Tapi seperti apa POI dikenal selama ini telah saya jelaskan pada artikel khusus tentang POI (baca di sini).

Masih banyak pemula yang mengabaikan POI kemudian memperkuat gambar mereka dengan olah digital. Itu proses belajar yang salah. Tanpa Poin of Interest, sebuah gambar bisa menjadi ngambang bahkan tidak ada pesan yang dapat ditangkap oleh pemirsa. Perlu diingat bahwa fotografi itu tidak selalu tentang gambar seorang wanita yang kulitnya harus mulus bebas flag, kalau perlu gunakan Photoshop untuk mewujudkan itu. Tidak! Gambar tersebut akan menjadi lebih menarik bila Anda mampu mendeskripsikan wanita tersebut sebagai subjek utama. Mata, bahasa tubuh, mimik wajah bisa menjadi alat untuk tujuan itu. Atau tidak, hadirnya subjek / elemen lain dalam adegan juga bisa membantu menjelaskan apa yang dilakukan oleh subjek utama dan dengan apa / siapa ia berinteraksi. Ini cuma contoh skenario yang semua tergantung kreatifitas Anda sebagai fotografer.


2. Bermain Komposisi


Sering kali pemula menggunakan komposisi tengah, baik itu memotret landscape atau portrait, mereka selalu menempatkan subjek di tengah frame. Tidak ada yang salah dengan komposisi tengah, karena bagaimanapun itu bagian dari komposisi. Hanya saja jika Anda terus-terusan melakukan itu artinya cara pandang Anda melihat adegan itu monoton dan tidak ada peningkatan terhadap skill fotografi Anda. Skill dalam fotografi tidak selalu tentang mahir menggunakan kamera. Jadi sebaiknya Anda melakukan inovasi dan mengembangkan cara menyusun komposisi agar gambar menjadi lebih kuat, unik dan menarik. Anda tidak harus bingung memulai dari mana. Para fotografer profesional telah menunjukan bagaimana cara mereka menyusun komposisi, kemudian itu menjadi referensi turun menurun yang diadopsi hingga sekarang ini. Komposisi itu beragam, ada banyak contoh komposisi fenomenal yang bisa Anda gunakan. Saya telah menulis pembahasan komposisi yang lumayan panjang beserta contoh-contoh komposisi yang bisa Anda pelajari (silahkan baca di sini).

Tentu saja sulit mengingat semua pedoman komposisi secara bersamaan. Salah satu tips yang bisa Anda coba adalah memilih komposisi mana yang paling Anda sukai dan menarik menurut Anda. Kemudian mempraktekkannya satu-persatu di lapangan. Tidak harus ke bagian yang rumit, Anda bisa memulai membiasakan diri dengan menggunakan Rule of Thirds dan tidak terpaku menempatkan subjek di tengah saja. Anda harus mencoba mencari tahu apa pengaruhnya jika subjek di posisikan di kiri-kanan-atas-bawah frame. Kemudian pelajari juga materi lain yang erat kaitannya dengan komposisi yaitu sudut pengambilan gambar atau angle. Pelajari bagaimana cara menggunakan angle dan lihat seperti apa visualisasi yang dihasilkan oleh tiap-tiap angle (baca di sini pembahasan angle).

Sampai ke materi ini harap diingat bahwa POI dan komposisi berada dalam satu deretan dan saling berkaitan. Jangan diabaikan lagi, tempatkan kedua materi ini dalam ingatan setiap kali Anda memotret. Setelah Anda menemukan POI, kemudian berfikir untuk bagaimana membingkai adegan dan menyusun komposisi dengan baik.

3. Memilih Mode Metering yang Tepat


Sekarang saya menyinggung bagian teknis kamera. Perhatian utama fotografer adalah cahaya. Ya, ini ada kaitannya dengan eksposur. Bila selama ini kita belajar memahami segitiga eksposur (shutter speed, aperture, ISO) agar mampuh menghasilkan pencahayaan yang baik (normal exposure), tapi rupanya banyak yang lupa peran fungsi dari metering kamera. Berkat metering yang bertugas mengukur cahaya pada subjek / objek, menjadi tolak ukur sehingga kita dapat menentukan berapa nilai ideal untuk masing-masing shutter speed, aperture dan ISO. Tidak memahami bagaimana metering bekerja akan keliru memilih mode metering, dan kesalahan memilih mode metering akan membuat Anda bingung mengapa pencahayaan tidak merata pada seluaruh adegan. Apakah metering keliru atau Anda yang tidak memahami?

Biasanya kesalahan memilih mode metering dikarenakan sejak awal tidak mengetahui cara kerjanya atau bisa jadi sering mengabaikan memilih mode metering yang tepat. Mungkin karena dianggap tidak signifikan. Padahal mode metering yang tepat akan membantu Anda menghasilkan pencahayaan yang baik pada bagian gambar yang Anda prioritaskan. Memang mustahil mendapatkan pencahayaan yang stabil dan merata pada kondisi pencahayaan yang rumit. Misalnya pada posisi backlight dengan cahaya matahari, sudah pasti Anda dihadapkan dua konsekuen "under" atau "over", dan kamera memiliki keterbatasan akan hal itu. Tapi paling tidak Anda memiliki solusi untuk mengatasi satu bagian dari seluruh bagian lainnya dalam adegan. Jadi jika kasusnya Anda memotret seseorang pada posisi backlight maka Anda harus bisa menyelesaikan pencahayaan pada area subjek. Nah, pada saat itulah Anda harus pandai memilih mode metering yang tepat. Itu baru satu contoh kasus, bagaimana jika menghadapi kondisi pencahayaan rumit lainnya? Hal semacam itu mungkin tidak lagi penting karena mudah diselesaikan saat post-processing. Itulah kesalahan fotografer hari ini yang tidak mau belajar menghasilkan tembakan terbaik mereka dan lebih mengandalkan permainan software. Dengan prinsip seperti itu apa Anda yakin bisa bertarung dalam kompetisi fotografi yang umumnya membatasi olah digital?

Kembali pada metering, pembahasan metering ini cukup kompleks dan artikel saya tentang metering juga tidak kalah panjang (baca di sini artikelnya). Semoga saja Anda yang pemula mau mepelajarinya dan benar-benar memahami cara kerja masing-masing mode metering (baca di sini untuk mode-mode metering).

4. Menerapkan Teknik Pengambilan Gambar (Type of Shot)


Teknik pengambilan gambar atau Type of Shot memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan angle. Tidak sedikit juga pemula yang cereboh mengatur frame dan salah membingkai objek. Kasus yang paling sering terjadi ketika menembak portrait, pemula tidak memperhatikan ada bagian penting yang hilang dari subjek karena dipotong oleh frame, atau karena salah memotong bagian dari subjek. Misalnya saja pose orang berdiri yang dipotong pada bagian pergelangan kaki. Seharusnya fotografer memilih Type of Shot yang bisa mengekspos seluruh bagian tubuh subjek, atau memotong frame dengan cara yang benar dengan menerapkan medium-shot atau close-up.

Memang ada beberapa teknik pengambilan gambar yang akan memotong bagian subjek tapi dengan cara yang benar tanpa meninggalkan estetika. Bukannya berarti Anda bisa memotong seenaknya, kecuali memang situasinya tidak memungkinkan. Untuk bagian ini pemula hanya perlu mengingat kembali jenis-jenis type of shot (baca di sini artikelnya). Tidak ada pendalaman khusus seperti rumitnya menguasai teknik komposisi. Ini pun menjadi bagian dari menyusun komposisi. Saya malah curiga karena menghindari terpotongnya bagian pada subjek sehingga banyak pemula cenderung menempatkan subjek di tengah sebagai komposisi aman. Ya, alasan itu masih lebih baik daripada memotret seseorang tanpa etika, memotong kepala, tangan dan kaki karena cereboh bukan bagian dari pedoman fotografi. Hal sepele seperti itu perlu dihindari dan mulai membiasakan diri memotret dengan benar.

Di antara banyaknya pengetahuan fotografi, empat materi di atas paling sering diabaikan fotografer, dan mungkin kedepannya saya akan menambahnya jika memang ada hasil pengamatan baru. Apabila Anda salah satunya yang mengabaikan semua materi di atas maka bisa disimpulkan Anda tidak lagi mengikuti pedoman fotografi. Jangan hanya bertumpu pada olah digital. Gambar yang melibatkan olah digital akan tetap terlihat sebagai produk fotografi selama Anda mengikuti kaidah dan pedoman fotografi yang sebenarnya. Tetaplah mengingat esensi fotografi. Jika menurut Anda manipulasi menggunakan software jauh lebih baik, sebaiknya tentukan tempat Anda, fotografi atau digital art. Semoga saja tidak, dan saya harap apa yang saya tulis ini menjadi pengingat untuk kita semua termasuk saya sendiri untuk menjadi fotografer yang lebih baik lagi dan mengedapankan esensi fotografi yang sebenarnya.
SHARE

PENULIS: M. HAJAR A.K

Pengunjung yang terhormat mohon untuk tidak menduplikat artikel ini. Hargai usaha saya menyusun semua artikel yang ada di blog KELASFOTOGRAFI.COM. Silahkan ambil referensi tapi jangan menduplikatnya.
KELAS FOTOGRAFI

Kami mendeteksi Adblock Anda sedang aktif.
Kemungkinan ada bagian artikel yang hilang.
Apakah Anda menggunakan UC Browser?
Mohon non-aktifkan Adblock di browser Anda atau gunakan browser selain UC Browser.
Kami rekomendasikan Anda menggunakan Google Chrome untuk tampilan laman yang lebih baik.

[ Lihat Cara Non-Aktifkan Adblock ]
TUTUP BOX INI