MOHON AKTIFKAN JAVASCRIPT ANDA!
[KLIK DI SINI PETUNJUKNYA]

Pengaturan Kamera Untuk Fotografi Konser Oleh Todd Owyoung

Memilih pengaturan kamera yang tepat untuk fotografi konser dapat menjadi tugas menakutkan, bahkan untuk fotografer musik berpengalaman. Karena menangkap adegan konser merupakan salah satu hal yang paling menantang dalam fotografi. Di sini kita tidak bisa berinteraksi langsung dengan subjek, kita tidak memiliki kontrol atas pencahayaan yang terus berubah-ubah, dan kita tidak leluasa mendapat akses ke setiap sudut pengambilan gambar.

Dalam artikel ini saya tidak berbicara soal tips praktek di lapangan, melainkan rekomendasi pengaturan kamera untuk fotografi konser oleh Todd Owyoung, seorang fotografer spesialis live music, lifestyle dan portrait. Tapi sebelum Anda menarik kesimpulan, perlu dipahami bahwa beda fotografer beda cara, sehingga mungkin ini berbeda bagi beberapa fotografer pro lainnya. Setidaknya perbedaan membawa pengalaman baru bagi kita semua.

Modus Pemotretan


Pengaturan ini dikenal juga sebagai "Exposure Mode", yaitu pengaturan untuk memilih mode kerja kamera, mulai dari auto yang dikendalikan program sampai ke mode manual yang dapat dikendalikan penuh oleh pengguna. Menurut Todd, mode Manual Exposure (M) akan menjadi pilihan terbaik untuk fotografi konser. Karena rentang dinamis yang besar dari sebuah konser, di mana bisa ada lampu yang sangat terang dan bayangan di dalamnya. Setiap mode metering kamera dapat dengan mudah tertipu dan menghasilkan eksposur yang minim. Sehingga menurutnya mode manual adalah cara yang jauh lebih konsisten mengekspos gambar lebih daripada mode semi-auto seperti Aperture Priority (A / Av) atau Shutter Priority (S / Tv).

Jadi, rekomendasi Todd Owyoung untuk modus pemotretan adalah modus atau mode Manual Exposure (M). - Baca di sini pembahasan lengkap modus pemotretan.

Aperture / Diafragma


Pengaturan yang satu ini mudah menurut Todd. Ia merekomendasikan untuk menggunakan aperture terlebar (maksimum) dari lensa yang Anda gunakan saat menembak di fotografi konser. Ini mudah ditebak maksudnya bahwa cara ini untuk mendapatkan cahaya dalam jumlah besar. Mengapa? Bahkan konser yang paling terang akan dinilai redup bila dibandingkan dengan kondisi pencahayaan di siang hari, sehingga aperture lebar diperlukan untuk mengumpulkan cahaya sebanyak mungkin.

Menggunakan lensa zoom dalam fotografi musik, Todd akan berani memperkecil aperture jika dia sudah bisa mendapatkan cahaya yang cukup dengan shutter speed 1/500s  atau lebih tinggi. Sedangkan ketika Todd memotret dengan lensa prime aperture cepat seperti f/1.4 atau f/1.8, ia bahkan masih menembak dengan aperture terlebar, karena pencahayaan sering minim dan dia memerlukan lensa aperture cepat.

Saran Todd untuk aperture adalah menembak dengan aperture terlebar atau aperture maksimum lensa Anda. - Baca di sini penjelasan aperture atau difragma.

Shutter Speed


Ketika keadaan memungkinkan, Todd ingin menembak dengan kecepatan 1/250s atau lebih cepat lagi, tapi ini hanya memungkinkan untuk pertunjukan mewah. Sementara konser oleh band / artis lokal biasanya menggunakan pencahayaan yang biasa-biasa saja, sehingga pada kondisi seperti itu Todd menetapkan shutter speed di kisaran antara 1/100s -1/200s sebagai kecepatan minimum. Kisaran ini cukup cepat untuk membekukan tingkat gerakan wajar dan menghindari goyangan kamera (camera shake), itu yang paling utama. Sedangkan shutter speed di bawah 1/100s, ada kesempatan lebih besar untuk terjadi motion blur atau gerakan yang berbayang pada gambar, terutama saat menangkap aksi band-band yang bergerak lebih cepat.

Rekomendasi shutter speed oleh Todd yaitu minimum 1/100 -1/200s, atau lebih cepat bila kondisi memungkinkan. - Baca di sini penjelasan shutter speed.

ISO


Todd mengatakan bahwa tingkat ISO sampai dengan 3200 akan menghasilkan kualitas yang sangat baik hampir untuk semua kamera DSLR. Sedangkan pada kamera kompak yang memiliki mode P & S seperti kamera prosumer, ISO 1600 atau lebih rendah akan menghasilkan hasil yang terbaik.

Semua itu menjelaskan bahwa ketika cahaya terbatas (yang hampir selalu terjadi untuk fotografi konser indoor), Todd tidak pernah ragu-ragu untuk mendongkrak nilai ISO apa pun selama itu bisa menghasilkan eksposur terbaik. Hal ini terutama berlaku ketika salah satu ISO atau shutter speed harus berubah untuk mencapai eksposur yang tepat. Bahkan Todd kadang sengaja menimbulkan banyak noise untuk gambar memiliki efek grain.

Untuk ISO, Todd hanya mengatakan "Whatever gets the job done!". Intinya jangan takut ambil resiko hanya karena masalah noise dan lakukan apapun untuk tembakan terbaik. - Baca di sini aplikasi pembersih noise.

AF Mode


Karena dalam sebuah konser banyak subjek terus bergerak, sehingga Todd menembak dengan AF-C (continuous) pada DSLR Nikon miliknya. AF Mode tersebut sama dengan mode AI Servo pada DSLR Canon. Pada mode tersebut fokus akan bekerja untuk tetap mengunci fokus pada subjek yang terus bergerak, ini memungkinkan Todd melacak gerakan mereka sampai saatnya ia akan menekan tombol shutter release. Jadi, untuk mata pelajaran dinamis fotografi live music, mode AF-C jangan dilupakan untuk memudahkan pekerjaan fotografer.

Rekomendasi Todd untuk AF Mode adalah gunakan AF-C (Nikon) atau AI Servo AF (Canon). - Baca di sini jenis-jenis AF Mode.

White Balance (WB)


Todd Owyoung 99% menembak dengan Auto WB di semua kegiatan fotografinya. Saat pemotretan dengan White Balance tertentu akan menawarkan kualitas gambar yang lebih baik jika Anda mengetahui nilai kelvin yang tepat. Akan tetapi, kesempatan dan kemampuan untuk secara tepat menetapkan nilai Kelvin selama live music berlangsung akan terbatas untuk mendapatkan WB yang terbaik.

Jadi untuk White Balance direkomendasiakan untuk menggunakan Auto WB, agar Anda dapat dengan mudah menyusaikan temperature saat tahap pengolahan gambar. - Baca di sini jenis-jenis White Balance.

RAW atau JPG


Sebaiknya gunakan format gambar RAW. Karena bila menggunakan JPG akan membuat Anda menyesal jika ada kesalahan pengaturan kamera yang menyebabkan hasil gambar berbeda dari apa yang Anda harapkan. Pertunjukan konser bukan kondisi yang terkendali, pada situasi tersebut fotografer lebih sering meraba atau bahkan mengira-ngira pengaturan yang tepat. Daripada mengambil resiko, lebih baik Anda menggunakan RAW sehingga Anda hanya perlu fokus pada pengaturan eksposur. Karena RAW memungkinkan Anda untuk dapat mengoreksi gambar jika ada kesalahan pengaturan, termasuk kembali memilih White Balance yang tepat setelah sebelumnya menggunakan Auto WB.

Ya, Todd menyarankan untuk menggunakan format RAW. - Baca di sini perbandingan RAW vs JPG.

Drive mode


Todd menyarankan untuk menembak dengan mode Continuous Shooting atau menembak secara terus menerus. Karena pada momen "high key" dan Anda ingin frame rate yang tinggi, maka Anda telah siap. Sebagai seorang fotografer konser, menembak secara terus menerus adalah cara yang disarankan agar tidak ketinggalan momen penting dalam sebuah konser.

Rekomendasinya adalah gunakan Drive Mode "Continuous Shooting". - Baca di sini jenis-jenis shooting pada Drive Mode.

Sampel Gambar dan Info Exposure


Tidak lupa dalam panduan ini Todd menunjukan beberapa sampel gambar dari pengalamannya saat menembak di pertunjukan konser. Menurutnya itu akan sangat membantu Anda untuk memberikan beberapa contoh hidup dari fotografi konser dengan pengaturan kamera, lensa dan kamera yang sesuai. Gambar-gambar ini berasal dari portofolio Todd dan ia berpikir bahwa mereka adalah representasi yang baik dari semua saran di atas untuk pengaturan eksposure yang ia gunakan.

Nikon D800 and Nikon 24-70mm f/2.8 at 58mm. Exposure: 1/400 second, f/2.8, ISO 2000. © Todd Owyoung

Nikon D3 and Nikon 24-70mm f/2.8 at 24mm. Exposure: 1/200 second, f/2.8, ISO 3200. © Todd Owyoung

Nikon D700 and Nikon 70-200mm f/2.8 at 190mm. Exposure: 1/500 second, f/3.5, ISO 800. © Todd Owyoung

Nikon D800 and Nikon 16mm f/2.8 fisheye at 16mm. Exposure: 1/400 second, f/3.5, ISO 3200. © Todd Owyoung

Nikon D3 and Nikon 70-200mm f/2.8 at 150mm. Exposure: 1/500 second, f/2.8, ISO 1600. © Todd Owyoung

Nikon D3 and Nikon 24-70mm f/2.8 at 24mm. Exposure: 1/400 second, f/3.2, ISO 1000. © Todd Owyoung

Nikon D3 and Nikon 70-200mm f/2.8 at 200mm. Exposure: 1/250 second, f/2.8, ISO 3200. © Todd Owyoung

Nikon D3 and Nikon 24-70mm f/2.8 at 24mm. Exposure: 1/400 second, f/2.8, ISO 2000. © Todd Owyoung

Nikon D3 and Nikon 24-70mm f/2.8 at 24mm. Exposure: 1/250 second, f/2.8, ISO 1600. © Todd Owyoung

Nikon D3 and Nikon 14-24mm, f/2.8 at 24mm. Exposure: 1/500 second, f/2.8, ISO 1600. © Todd Owyoung

Nikon D3 and Nikon 70-200mm f/2.8 at 120mm. Exposure: 1/160 second, f/2.8, ISO 2000. © Todd Owyoung

Nikon D3 and Nikon 14-24mm f/2.8 at 14mm. Exposure: 1/40 second, f/2.8, ISO 3200. © Todd Owyoung

Mudah-mudahan semua gambar-gambar di atas akan memberikan Anda ide yang baik dari pengaturan yang akan digunakan dalam fotografi konser. Berikut rekap ulang pengaturan yang direkomendasikan Todd Owyoung:

  • Modus Pemotretan: Manual Exposure (M)
  • Aperture: Maksimum (wide open)
  • Shutter Speed: 1/100s - 1/200s atau lebih cepat
  • ISO: 1600-3200 (lakukan apapun untuk tembakan terbaik)
  • AF Setting: AF-C (Nikon) / AI Servo AF (Canon)
  • White Balance: Auto WB
  • Format Gambar: RAW
  • Drive Mode: Continuous Shooting

Semoga bermanfaat, jangan lupa baca juga: Inspirasi Foto Hitam Putih dan Komposisi Kuat Oleh Kai Ziehl.
SHARE

PENULIS: M. HAJAR A.K

Pengunjung yang terhormat mohon untuk tidak menduplikat artikel ini. Hargai usaha saya menyusun semua artikel yang ada di blog KELASFOTOGRAFI.COM. Silahkan ambil referensi tapi jangan menduplikatnya.
KELAS FOTOGRAFI

Kami mendeteksi Adblock Anda sedang aktif.
Kemungkinan ada bagian artikel yang hilang.
Apakah Anda menggunakan UC Browser?
Mohon non-aktifkan Adblock di browser Anda atau gunakan browser selain UC Browser.
Kami rekomendasikan Anda menggunakan Google Chrome untuk tampilan laman yang lebih baik.

[ Lihat Cara Non-Aktifkan Adblock ]
TUTUP BOX INI