MOHON AKTIFKAN JAVASCRIPT ANDA!
[KLIK DI SINI PETUNJUKNYA]

Lebih Dalam Tentang Resolusi Sensor dan Piksel


Meskipun perlombaan megapiksel telah berlangsung sejak kamera digital telah ditemukan, namun beberapa tahun terakhir kita telah melihat peningkatan besar pada resolusi sensor kamera. Saat ini sangat mudah untuk kita menemukan seperti 41 megapiksel pada kamera ponsel dan 50.6 megapiksel pada kamera DSLR full-frame. Sepertinya kita sudah mencapai teoritis maksimum untuk penanganan noise dari ISO tinggi dengan generasi teknologi sensor sekarang ini. Oleh karenanya banyak produsen kamera memfokuskan upaya mereka lebih dalam pada kemasan resolusi, sambil menjaga ukuran sensor yang sama untuk menarik lebih banyak pelanggan agar meng-upgrade ke perangkat yang terbaru dan terbaik. Pada artikel ini, saya akan mencoba untuk menjelaskan beberapa terminologi dasar dalam hal resolusi dan mudah-mudahan membantu pembaca untuk memahami resolusi kamera dengan lebih baik lagi.

1. Resolusi Kamera: Faktor yang Mempengaruhi


Dalam fotografi digital, resolusi kamera dikaitkan dengan sejumlah faktor yang berbeda, yaitu:

  • Ukuran Cetak (Print) - biasanya ini menjadi faktor yang paling penting. Pada dasarnya, semakin  bertambah resolusi, semakin besar potensial ukuran cetak. Mencetak dari gambar digital dilakukan dengan memeras sejumlah Pixels Per Inch (PPI). Sebuah hasil cetak berkualitas tinggi dengan detail yang baik biasanya membutuhkah cetakan sekitar 300 PPI, sehingga ukuran potensi cetak dihitung dengan mengambil lebar dan tinggi gambar lalu dibagi dengan jumlah PPI. Misalnya, 12.1 MP resolusi gambar dari Nikon D700 memiliki dimensi gambar 4256 x 2832. Jika Anda ingin membuat hasil cetak berkualitas tinggi dengan banyak rincian pada 300 PPI, maka ukuran cetak akan terbatas pada sekitar 14.2" x 9.4" (4256/300 = 14.2 dan 2832/300 = 9.4). Cetakan yang lebih besar lagi bisa dumungkinkan, tetapi itu akan mengharuskan Anda menurunkan PPI pada angka yang lebih rendah, atau menggunakan alat khusus pihak ketiga yang menggunakan algoritma yang kompleks untuk "upscale" atau "up-sample" gambar untuk resolusi yang lebih tinggi. Tapi cara itu tidak selalu menghasilkan cetakan yang lebih baik. Singkatnya, resolusi yang lebih tinggi biasanya lebih dibutuhkan untuk kemampuan mencetak dengan ukuran yang lebih besar.
  • Opsi Cropping - semakin tinggi resolusinya, akan lebih banyak ruang yang berpotensi untuk gambar dicropping. Meskipun banyak fotografer menghindari cropping besar-besaran, tapi terkadang kita perlu melakukan itu agar subjek yang jauh dan kecil dalam gambar bisa lebih dekat dengan ukurannya yang lebih besar setelah gambar dicrop. Misalnya, fotografi olahraga atau wildlife sering mengharuskan cropping, agar subjek lebih dekat atau barangkali untuk menghilangkan elemen pengganggu yang ada di sekitar subjek utama. Namun hal itu akan mengurangi resolusi.
  • Down-Sampling -  manfaat dari sensor resolusi tinggi bahwa semakin tinggi resolusinya, maka semakin baik pilihan untuk mengubah ukuran (resize) atau "down-sampling" gambar. Seperti yang akan saya jelaskan lebih lanjut di bawah, kamera resolusi tinggi modern memiliki kinerja yang sama seperti kamera lainnya yang memiliki resolusi yang lebih rendah. Tetapi keuntungan utamanya adalah kemampuan untuk down-sampling ke resolusi yang lebih rendah dapat mengurangi sejumlah noise. Kemudian, ketika pengambilan gambar pada ISO rendah, sensor resolusi tinggi mampu menghasilkan cetakan yang lebih besar.
  • Ukuran Tampilan - selama 10 tahun terakhir, kita telah melihat kemajuan yang signifikan pada teknologi layar. Contoh nyatanya adalah monitor, LCD, proyektor, ponsel, dan perangkat lainnya yang mengalami peningkatan besar dalam hal resolusi. Kemudian peningkatan ruang pada perangkat-perangkat secara alami menyebabkan kebutuhan untuk menampilkan resolusi gambar yang lebih tinggi dan lebih detail. Misalnya saja monitor dan TV 4K (lebih dari 8 megapiksel) yang semakin populer dan sudah menjadi umum saat ini, telah menjadi beban bagi pengguna kamera untuk menghasilkan gambar dengan detail yang cukup untuk tampil dengan baik pada perangkat resolusi tinggi tersebut.

Berdasarkan semua faktor di atas, tampak bahwa resolusi yang lebih tinggi akan selalu menjadi alasan untuk hasil yang lebih baik. Tapi tentu saja itu tidak terjadi, karena ini tidak hanya tentang jumlah piksel saja, tapi juga kualitasnya. Lebih jauh pada pembahasan di bawah ini, saya akan menjelaskan apa artinya semua itu dalam hal ukuran sensor, ukuran piksel, dan lensa untuk menjelaskan tentang power dan teknik.

2. Resolusi Kamera: X MP vs Y MP


Ketika Nikon pertama kali memperkenalkan kamera D800 / D800E dengan resolusi sensor 36.3 MP format full-frame, saat itu banyak fotografer yang masih memotret dengan resolusi 12.1 MP kamera full-frame seperti Nikon D700 dan D3 / D3s. Dengan melakukan matematika sederhana, banyak yang mengklaim bahwa sensor 36.3 MP mewakili 3 kali resolusi 12.1 MP (12.1 MP x 3 = 36,3 MP) dan beberapa lainnya berasumsi bahwa upgrade ke DSLR seperti D800 dapat menghasilkan cetakan 3 kali lebih besar. Apakah benar seperti itu? Sementara jumlah total piksel efektif memang merupakan tiga kali lebih besar ketika membandingkan 36.3 MP vs 12.1 MP, namun perbedaan dalam resolusi linear sebenarnya jauh lebih kecil. Itu karena resolusi sensor dihitung dengan mengambil jumlah total piksel horizontal dan mengalikannya dengan jumlah total piksel vertikal, mirip dengan bagaimana Anda menghitung luas persegi panjang. Dalam kasus D700 yang memiliki ukuran gambar 4256 x 2832, resolusi sensor setara 12.052.992, yang dibulatkan sekitar 12.1 megapiksel. Tapi jika kita melihat Nikon D800, ukuran gambarnya adalah 7360 x 4912 dan karena resolusi sensornya 36.152.320, maka dibulatkan sekitar 36.15 megapiksel (perbedaan antara 36.15 vs 36.3 berasal dari fakta bahwa beberapa piksel seperti optikal hitam dan tiruan di sekitar tepi sensor yang digunakan untuk memberikan data tambahan).

Sekarang jika kita membandingkan jumlah piksel horizontal antara D700 dan D800, hasilnya adalah 4256 vs 7360. Ini meningkat hanya 73%, bukan 200% (3x lipat) seperti yang diasumsikan oleh banyak orang. Pada dasarnya jika Anda bisa mencetak 14.2" x 9.4" pada 300 PPI dari hasil D700, lalu untuk D800 akan berpotensi menghasilkan 24.5" x 16.4" pada 300 PPI. Oleh karena itu, bergerak naik dari 12 MP ke 36 MP akan menjelaskan asal angka 73% dan "bukan 3x cetakan yang lebih besar". Memang, sangat rentan untuk keliru antara menghitung luas seluruh area gambar dan hanya menghitung lebar horizontal, sehingga sangat penting untuk memahami perbedaan ini.

Jadi seandainya Anda ingin menghasilkan cetakan 2x lebih besar di PPI yang sama, Anda hanya perlu kalikan resolusi sensor kamera Anda dengan angka 4. Misalnya saja Anda memiliki Nikon D700 dan Anda bertanya-tanya apa jenis resolusi sensor yang Anda butuhkan untuk menghasilkan cetakan 2x lebih besar dari kamera Anda D700, maka caranya kalikan resolusi sensornya yaitu 12.1 MP x 4, dan jawabannya Anda membutuhkan kamera yang memiliki sensor 48.4 MP. Nah, apabila sewaktu-waktu Anda ingin mengupgrade DSLR Anda karena alasan ini, maka cari kamera yang memiliki sensor sekitar 48.4 MP seperti DSLR Canon 5DS yang memiliki sensor 50.6 MP. Untuk memahami perbedaan-perbedaan dalam resolusi, cara terbaik adalah dengan melihat ilustrasi perbandingan di bawah ini untuk perbedaan resolusi sensor terpopuler dari kamera digital modern, mulai dari 12.1 MP sampai 50.6 MP:


Seperti yang Anda lihat, meskipun fakta bahwa angka resolusi sensor meningkat secara signifikan ketika menghitung perbandingan 12.1 MP dan 50.6 MP, namun perbedaan yang sebenarnya hanya pada lebar horizontal. Tetapi jika Anda menghitung perbedaan total area, maka perbedaan memang akan terlihat signifikan. Coba lakukan riset sederhana dengan mengambil 4 gambar dari D700 lalu gabung menjadi 1 frame dan Anda akan lihat hasilnya bahkan masih pendek bila dibandingkan dengan gambar dari sensor 50.6 MP, seperti yang ditunjukkan di bawah ini:


Ingat semua materi ini dalam pikiran Anda ketika mencoba membandingkan kamera dan pertimbangkan tentang perbedaan dalam resolusi.

3. Ukuran Sensor, Ukuran Piksel dan Perbedaan Dalam Resolusi


Resolusi sensor masih jauh untuk dianggap sebagai fitur kamera yang paling penting, karena masih ada yang harus dipertimbangkan yaitu ukuran fisik sensor dan ukuran fisik piksel dari kamera tersebut. Anda mungkin akan melihat dua kamera dengan resolusi yang sama, tapi salah satunya mungkin memiliki sensor yang secara signifikan lebih besar dari yang lainnya. Sebagai contoh, Nikon D7100 memiliki sensor 24.1 MP, sedangkan Nikon D750 memiliki sensor 24.3 MP, keduanya memiliki resolusi sensor yang sama. Namun jika Anda melihat ukuran fisik sensornya, D7100 memiliki ukuran sensor 23.5 x 15.6mm, sedangkan sensor pada D750 berukuran 35.9 x 24.0mm. Itu artinya Nikon D750 memiliki 52% lebih besar pada lebar linear atau sekitar 2x lebih besar pada total area sensor. Terlepas dari kenyataan bahwa kedua kamera menghasilkan lebar gambar yang sama yaitu 6000 x 4000 (D7100) dan 6016 x 4016 (D750), tapi ukuran fisik setiap piksel pada sensor D750 adalah 52% / 1.52x lebih besar dibandingkan D7100. Itulah bagaimana dua kamera dapat memiliki resolusi yang sama dan karenanya berpotensi dapat membuat ukuran cetak yang serupa.

Jika kita membagi lebar sensor kamera dengan lebar gambar yang dihasilkan dari kamera tersebut, kita dapat menghitung perkiraan ukuran tiap-tiap piksel. Dalam kasus D7100, mengambil lebar 23.5mm kemudian dibagi lebar gambar 6000 maka menghasilkan sekitar 3.92 µm. Sedangkan membagi 35.9mm pada Nikon D750 dengan 6016 akan menghasilkan sekitar 5.97 µm untuk ukuran pikselnya.

Jadi apa pengaruh ukuran piksel terhadap gambar? Pada dasarnya, piksel yang lebih besar dapat mengumpulkan lebih banyak cahaya daripada piksel yang lebih kecil, yang diartikan menjadi lebih baik untuk kualitas gambar dan penanganan noise per-piksel. Namun ada beberapa peringatan yang perlu diingat:

  • Kualitas hampir sama pada tingkat ISO rendah - jika menembak dengan ISO rendah antara nilai 100 - 400, biasanya cuma ada sedikit perbedaan dalam hal penanganan noise antara piksel. Dalam kasus D7100 dan D750, keduanya menghasilkan gambar praktis bebas noise ketika menggunakan ISO 100 - 400. Namun, akan ada perbedaan nyata ketika menggunakan ISO tinggi mulai dari ISO 800, yang hasilnya tentu lebih unggul D750. Jadi piksel yang lebih besar cenderung lebih cocok untuk menembak dalam cahaya rendah yang mana Anda memerlukan tingkat ISO yang lebih tinggi. 
  • Jika ukuran sensornya sama tetapi resolusi berbeda maka piksel yang lebih kecil tidak selalu menghasilkan lebih banyak noise - sensor dengan resolusi lebih besar berarti Anda bisa mencetak ukuran lebih besar. Sejak noise biasanya tidak dievaluasi pada basis per-piksel, tetapi lebih pada kesetaraan ukuran cetak, maka Anda harus mencetak pada ukuran yang sama untuk mengevaluasi noise dari dua resolusi sensor yang berbeda. Mari kita contoh kasus dari Nikon D750 yang sensornya 24.3 MP dan Nikon D810 terbaru yang sensornya 36.3 MP. Sejak D810 memiliki resolusi yang lebih besar, ukuran piksel-nya terasa lebih kecil dari pada D750 (4.88 µm vs 5.97 µm), yang berarti bahwa itu berpotensi lebih banyak noise jika Anda memperbesar ke tampilan 100%. Namun, jika kita membuat ukuran cetakan yang setara dari kedua kamera tersebut, dengan mengubah ukuran cetak dari D810 dan menyesuaikan dengan ukuran cetak D750, dengan mengurangi 36.3 MP menjadi 24.3 MP, maka Anda akan melihat hasilnya pada ukuran cetak yang sama akan menunjukkan kadar noise yang sama pula. Lihat gambar di bawah gambar ini yang merupakan hasil dari kedua kamera, tetapi untuk D810 ukurannya telah dikecilkan menjadi 24.3 MP:

Kiri: Nikon D750, kanan: Nikon D810 | ISO 1600

Seperti yang Anda lihat, kedua foto terlihat sangat mirip untuk masalah noise, meskipun D810 secara teknis seharusnya memiliki noise lebih kental karena memiliki ukuran piksel yang lebih kecil.

Sekarang saya ajak Anda untuk contoh kasus yang lebih menarik. Jika orang-orang bingung dan bertanya apakah hasil gambar dari 38 MP pada kamera ponsel Nokia 808 PureView bisa bersaing dengan hasil gambar dari 36.3 MP pada DSLR full-frame Nikon D810? Ini sama saja perbandingan antara sensor kecil berukuran 13.3 x 10.67mm pada kamera ponsel versus sensor berukuran 35.9 x 24mm pada DSLR full-frame. Maka diperoleh perbedaan 270% untuk lebar sensor atau 6x pada total area gambar. Jadi meskipun fakta bahwa Nokia 808 memiliki resolusi lebih tinggi dari Nikon D810, tapi ukuran pikselnya sangat lemah yaitu 1.4 µm, jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan 4.88 µm pada D810. Tentu saja hasil perbandingan akan membuat gambar dari kamera ponsel terlihat seperti lumpur bila dibandingkan dengan gambar dari Nikon D810. Meskipun Nokia 808 PureView berpotensi dapat membuat cetakan yang lebih besar, D810 jelas akan menghasilkan kualitas cetakan yang lebih baik dan lebih detail, karena sistem kamera secara keseluruhan mampu mengambil keuntungan dari 36.3 MP sensor full-frame. Adapun resolusi nyata dari kamera ponsel Nokia jauh lebih buruk bila Anda mencoba membandingkan dengan DSLR. Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak pengaruh dari resolusi untuk pencetakan daripada megapiksel. Sekarang mari kita melompat pada ketajaman lensa dan bagaimana sebuah lensa menyelesaikan kekuatan resolusi dan piksel dari sensor kamera.

4. Ketajaman Lensa dan Penyelesaian Detail


Fakta menarik berikutnya yang harus Anda ingat bahwa angka megapiksel yang besar dari sensor sebuah kamera menjadi tidak berguna apabila lensa yang digunakan terlalu lemah untuk menyelesaikan detail yang cukup untuk menyediakan data untuk setiap piksel. Seperti halnya Nokia 808 PureView yang memiliki resolusi 38 MP, tapi berapa banyak detail yang bisa ditampilkan jelas pada tingkat piksel? Bagaimana jika dibandingkan dengan hasil 36 MP dari Nikon D810 dengan sebuah lensa yang kuat? Faktanya kinerja nyata dalam hal resolusi sangat jauh kurang dari 38 MP, dan sebenarnya lebih dekat dengan 5 MP bahkan mungkin lebih kecil dari itu. Kadang saya heran pada seseorang yang sangat percaya diri mencoba membandingkan kamera sensor kecil bersama lensa yang kecil pula dengan DSLR full-frame bersama lensanya yang berkualitis tinggi. Kemudian masalah lainnya adalah difraksi, yang mana kamera sensor yang lebih kecil akan mengalami difraksi terbatas di lubang aperture yang lebih besar, yang juga akan sangat bisa mengurangi ketajaman dan resolusi efektif.

Ketika Anda melakukan komparasi terhadap ukuran sensor kamera yang sama dengan resolusi yang berbeda, Anda harus ingat bahwa kamera dengan resolusi yang lebih tinggi akan selalu menghasilkan lebih banyak tekanan pada lensa dalam hal menyelesaikan detail yang cukup untuk kualitas gambar. Misalnya saja "lensa A" mungkin melakukan cukup baik pada kamera 12 MP, namun gagal untuk menyelesaikan detail yang cukup pada 24 MP, yang mana ini membuat keunggulan resolusi tinggi menjadi tidak berguna lagi.

Meskipun produsen besar Nikon dan Canon telah aktif merilis lensa khusus dirancang untuk resolusi sensor yang lebih tinggi, Anda mungkin harus tetap mengevaluasi ulang setiap lensa yang dibeli sebelumnya, untuk melihat mana yang bisa memberikan kekuatan untuk menyelesaikan detail dan mana yang perlu diganti. Dalam kasus lensa yang lebih tua, banyak yang memiliki kualitas yang lemah di pertengahan frame dan kinerja yang buruk di sudut frame. Dan itu mungkin tidak diinginkan untuk beberapa jenis fotografi seperti landscape dan arsitektur.

5. Keterampilan Teknis


Memiliki kamera kelas tinggi tidak secara otomatis bahwa Anda akan menghasilkan kualitas gambar yang selalu baik. Satu hal yang perlu dicatat di sini bahwa kamera adalah mesin yang perlu dioperasikan dengan benar agar bekerja dengan maksimal. Jika Anda memiliki kamera dengan resolusi tinggi ditambah sebuah lensa terbaik namun Anda masih menghasilkan gambar yang buruk, seperti kurang detail untuk membuat kualitas cetak yang baik, maka skill fotografi dan pengetahuan Anda dalam mengoperasikan kamera perlu dipertanyakan. Selain mampu memanfaatkan cahaya dengan baik dan teliti membingkai atau mengkomposisi adegan, Anda juga perlu memiliki keterampilan teknis yang cukup untuk menghasilkan gambar yang tajam. Kamera resolusi tinggi pada dasarnya "memperkuat" segala sesuatu menjadi lebih berpotensi, entah itu untuk masalah kamera shake yang disebabkan oleh teknik tangan yang salah ketika memegang kamera, getaran shutter yang berasal dari internal kamera, teknik fokus yang buruk, tripod tidak stabil, atau faktor lainnya yang menyebabkan gambar jadi buram atau blur yang tidak diinginkan.

Jadi jika suatu saat Anda memutuskan untuk upgrade ke kamera yang memiliki resolusi sensor yang lebih tinggi, sebaiknya pertimbangkan ketrampilan teknis Anda, dan meluangkan waktu untuk belajar teknik yang tepat dalam menangkap gambar. Banyak hal yang perlu dievaluasi dalam rangka menghasilkan gambar yang tajam, di antaranya yaitu mengevaluasi cara Anda mengontrol nafas dan tangan saat menggunakan shutter speed minimum, penggunaan tripod yang kokoh, penggunaan live view untuk fokus genting, penggunaan lensa pada bukaan aperture optimal dan masih banyak lagi. Karena jika tidak memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang cukup, maka kamera kelas pro pun tidak akan bisa membantu Anda menghasilkan cetakan berkualitas tinggi.

Baik, cukup sekian pembahasan mengenai resolusi kamera, semoga bermanfaat!!
SELENGKAPNYA

Ulasan Lensa Yongnuo 50mm f/1.8


Yongnuo adalah produsen aksesori kamera dari Cina yang selama ini lebih dikenal karena produk flash mereka yang kompatibel dengan sebagian besar produsen DSLR ternama. Namun hadirnya lensa Yongnuo 50mm f/1.8 yang hanya bisa digunakan pada body Canon EOS (untuk saat ini), sepertinya mereka sudah melebar hingga ke pembuatan klon lensa dari produsen besar. Oleh sebab itu lensa Yongnuo 50mm f/1.8 ini sering kali dikomparasi dengan kualitas lensa Canon 50mm EF f/1.8 II. Dan itu akan Anda temukan di beberapa review lensa selain dari blog ini. Untuk saat ini lensa Yongnuo hanya tersedia untuk mount Canon EF, tapi tidak menutup kemungkinan Yongnuo akan mengeluarkan versi untuk produsen lainnya termasuk Nikon.

Di Indonesia, Yongnuo 50mm f/1.8 ini dijual dengan harga kisaran Rp. 750.000,- (harga bisa saja berubah atau berbeda). Tentu saja harga tersebut lebih murah dari harga lensa Canon 50mm EF f/1.8 II. Tapi apakah kualitasnya bisa menyamai Canon 50mm? Mari kita cari tahu.

Kelebihan dan Fitur Yongnuo 50mm f/1.8


Beratnya hanya 120g, lensa ini lebih ringan 10g dari lensa Canon 50mm f/1.8. Build-quality sebagian besar sama seperti Canon, yang mana barel lensa hampir seluruhnya menggunakan material plastik hitam yang ringan seperti bayonet. Semuanya terasa agak rapuh dan mungkin tidak akan mengatasi banyak penyalahgunaan, seperti terjatuh, benturan, dll. Tapi berat yang enteng dan ukurannya yang kompak membuat Yongnuo 50mm f/1.8 ini menjadi kombinasi yang bagus dengan body Canon EOS 5D MARK III, yang dalam hal ini digunakan untuk menguji lensa ini.

Yongnuo 50mm f/1.8 + Body Canon EOS 5D Mark III

Autofocus (AF) pada Yongnuo 50mm f/1.8 ini cukup cepat, meskipun akurasinya tidak istimewa berdasarkan hasil uji, dan seperti halnya Canon 50mm f/1.8, jalannya motor autofocus membuat ring fokus ikut bergerak. Itu metode motor AF konvesional yang mana pengguna tidak boleh memutar ring ketika mode AF sedang aktif. Sedangkan dalam mode fokus manual (MF), tidak ada redaman diterapkan pada ring fokus, sehingga untuk penyesuaian harus memutar ring dengan halus dan ini cukup rumit untuk meraba fokus.

Fokus tidak bekerja secara internal, tapi elemen depan lensa tidak berputar, sehingga lensa ini juga ideal untuk dipasangi filter Polarizing dan Graduated. Elemen depan yang dimaksud juga sama seperti lensa Canon 50mm yaitu memiliki diameter filter 52mm. Artinya Anda bisa menggunakan filter yang sama digunakan oleh Canon 50mm untuk lensa Yongnuo ini. Jarak fokus minimum (MFD) lensa yaitu 45cm. Ini kisaran jarak yang umum digunakan kebanyakan lensa prime / fix dengan focal length 50mm dan aperture f/1.8. Secara keseluruhan, lensa ini begitu dekat dengan desain dan penanganan dari Canon EF 50mm f/1.8 II, yang saya sebut-sebut sepanjang pembahasan di atas.

Canon 50mm EF f/1.8 II vs Yongnuo 50mm f/1.8

Performa Yongnuo 50mm f/1.8


Pada diafragma (aperture) terbuka maksimal, ketajaman di tengah frame sangat baik, meskipun kurang tajam di tepi frame. Menurunkan aperture dapat meningkatkan kinerja di seluruh frame, meskipun perbedaannya lebih dramatis di bagian tengah ketimbang sekitar tepi frame. Puncak kinerja terbaik di tengah frame dapat dicapai di bukaan f/4. Pada bukaan aperture tersebut Anda akan melihat ketajaman yang luar biasa dari Yongnuo 50mm f/1.8 ini. Sedangkan ketajaman ke arah tepi frame membutuhkan bukaan yang lebih sempit lagi untuk mengejar kualitas seperti itu, dan hanya bisa mencapai tingkat yang baik dengan bukaan f/8 dan puncak ketajaman yang sangat baik antara f/11 dan f/16. Jadi, Anda yang menggunakan Yongnuo 50mm f/1.8 ingat informasi di atas, itu berdasarkan hasil data MTF di bawah ini:


Grafik MTF di sebelah kiri adalah hasil analisis untuk kualitas ketajaman lensa yang saya sebutkan di atas. Sedangkan grafik MTF sebelah kanan adalah hasil analisis penyimpangan lensa. Bingung cara bacanya? Itu baru grafik MTF konvensional yang masih lebih mudah dibaca ketimbang grafik MTF dari produsen Canon dan Nikon.

Penanganan Penyimpangan Lensa


Pada bukaan terlebar f/1.8, kadar vignette di sudut-sudut gambar lebih gelap sekitar 2.54 stop dari area tengah gambar, dan itu akan hilang jika diafragma dipersempit ke f/5.6. Pada bukaan tersebut pencahayaan akan merata di seluruh area gambar. Kemudian, ada distorsi barrel yang menjadi tipikal lensa prime dengan aperture maksimal kisaran f/1.8. Berdasarkan pemeriksaan dengan Imatest, terdeteksi 1,4% distorsi barrel pada lensa Yongnuo 50mm f/1.8 ini. Distorsi itu akan mudah kita lihat jika diuji pada objek yang memiliki garis lurus sejajar dengan tepi frame (dinding batu bata misalnya). Dan pola distorsinya seragam di seluruh frame.

Sementara referensi lain mengatakan bahwa hasil uji lensa untuk masalah chromatic (CA) jenis longitudinal hampir tak terlihat. Ini adalah hasil yang menarik, berbeda dari apa yang dihasilkan oleh Canon 50mm f/1.8 II, yang kadarnya sedikit lebih tinggi. Tapi untuk masalah chromatic jenis lateral, hasilnya malah terbalik. Jika Canon 50mm mencapai paling maksimal 0,05% dan akan turun jika aperture dipersempit. Sedangkan hasil Yongnuo ini "2x" lebih tinggi dari kadar yang ditemukan pada Canon 50mm tersebut.

Perlu dicatat juga, tidak ada lens hood disertakan sepaket dengan lensa Yongnuo 50mm f/1.8. Meski demikian, elemen depan lensa tersembunyi dan cukup baik untuk melindungi lensa, sehingga hood mungkin tidak begitu diperlukan. Tapi di lain sisi, menembak tanpa hood ke arah sumber cahaya yang kuat seperti matahari, dapat mengakibatkan hilangnya kontras dalam jumlah tertentu. Dan sumber cahaya yang kuat di luar frame juga dapat menyebabkan flare. Sedangkan untuk penanganan flare dan ghosting, jauh lebih baik Canon 50mm II.

Kesimpulannya tidak ada yang begitu istimewa dari Yongnuo 50mm f/1.8. Sedari awal memang disebutkan bahwa lensa ini cenderung mengikuti Canon 50mm f/1.8 II. Tapi hasil komparasi masih lebih unggul Canon. Hal yang wajar, mengingat harga jual lensa ini juga murah dan konsumen mungkin akan tertarik dengan hal itu. Sebagai pertimbangan lainnya mungkin Anda bisa menarik kesimpulan berdasarkan sampel gambar di paling bawah.

Spesifikasi Lensa


  • Hanya untuk mount Canon EF 
  • Bisa dipasang pada body Canon APS-C dan Full-Frame 
  • Focal Length: 50mm 
  • Aperture Max: f/1.8 
  • Aperture Min: f/22 
  • Jumlah Pisau Aperture: 7 
  • Angle of View: 46° 
  • Tidak ada stabilizer
  • Jarak Fokus Minimum (MFD): 1.48' (45cm) 
  • Rasio Pembesaran: 0.15x 
  • Berat: 120g 
  • Ukuran Filter: 52mm
  • Tidak ada bonus Lens Hood 

Sampel Gambar


FL 50mm | 1/200s, f/1.8, ISO 100 | Canon EOS 5D Mark III

FL 50mm | 1/1250s, f/1.8, ISO 200 | Canon EOS 5D Mark III

FL 50mm | 1/60s, f/1.8, ISO 400 | Canon EOS 5D Mark III

FL 50mm | 1/100s, f/6.3, ISO 100 | Canon EOS 5D Mark III

FL 50mm | 1/2500s, f/1.8, ISO 100 | Canon EOS 5D Mark III

Sampel gambar di atas telah diperkecil dan akan mempengaruhi kualitas gambar yang sebenarnya.
SELENGKAPNYA

Ulasan Lensa Tamron SP AF 90mm f/2.8 Di Macro


Tamron 90mm f/2.8 Di Macro adalah lensa tele makro yang populer karena ukuran fisiknya yang sederhana dan kualitas gambar yang baik, kinerja AF (autofocus) lumayan dengan harga yang wajar. Ukurannya yang kecil dan ringan membuat Tamron 90mm f/2.8 Di Macro mudah untuk dikendalikan hanya dengan tangan Anda. Build-qualitynya layak meskipun mungkin tidak sehebat lensa Sigma 105mm f/2.8 EX DG Macro dalam kualitas membangun lensa. Tamron 90mm f /2.8 ini tersedia untuk mount Canon, Nikon, Sony / Maxxum dan Pentax / Samsung. Di Indonesia, lensa Tamron SP AF 90mm f/2.8 Di Macro dijual sekitar Rp. 5.200.000,- (harga bisa saja berbeda / berubah).

Macro pada lensa Tamron ini bukan sekedar label yang kadang diragukan oleh kosumen. Lensa ini benar-benar dapat melakukan reproduksi ukuran dengan rasio pembesaran "1:1" pada jarak fokus terdekat (baca di sini tentang magnification ratio). Kemudian, ring fokus manualnya halus dan ukurannya juga baik. Hanya saja ketika dalam mode AF bekerja suaranya sedikit "berisik".

Kinerja AutoFocus (AF)


Seperti Sigma 105mm, lensa Tamron 90 f/2.8 ini memanfaatkan sebuah ring fokus yang bergerak "dorong / tarik" untuk menjalankan / melepas kopling AF dalam lensa. Kemudian, lensa Tamron ini tidak menggunakan tombol switch konvensional yang pada umumnya sebagai saklar untuk mengganti mode AF / MF. Perhatikan gambar di bawah ini:


Gambar di atas menunjukkan posisi AF / MF dan cincin biru yang mengindikasikan bahwa fokus lensa dalam kedaan manual focus (MF). Lensa Tamron 90mm f/2.8 Di Macro ini memiliki kinerja AF yang layak. Meskipun kecepatannya lambat tapi sangat berguna. Suaranya agak berisik, tapi akurasi fokusnya baik bahkan dalam mode AI Servo. Dan tentu tidak ketinggalan, ring fokus tidak berubah selama mode AF aktif. Tapi kelemahan dari lensa ini adalah tidak ada stabilizer.

Bagian yang unik dari lensa ini adalah tersedia sebuah tombol dial untuk membatasi fokus (lihat gambar di bawah). Hal ini sedikit lebih sulit untuk meraba posisi tombol dial di berbagai pengaturan yang berbeda agar bekerja dengan baik. Dalam posisi terbatas, Tamron 90 f/2.8 Macro ini akan melakukan autofocus antara jarak 11,4" (290mm) dan 15,75" (400mm) atau 17,7" (450mm) dan fokus tak terhingga (infinity). Di antara jarak ditandai dalam warna putih dan bisa dilihat dalam jendela fokus lensa. Sedangkan pada pengaturan penuh (full), berbagai jarak autofocus akan tersedia.


Secara keseluruhan, mungkin Canon USM AF Macro jauh lebih baik, tapi Tamron 90mm f/2.8 masih sedikit unggul daripada Sigma 105 dalam hal ini.

Di bawah ini adalah tiga buah lensa yang memiliki peruntukkan yang sama dan kelebihan yang bersaing. Dari kiri ke kanan adalah Sigma 105mm f/2.8 EX DG Macro, kemudian Tamron 90mm f/2.8 Di Macro dan terakhir Canon EF 100mm f/2.8 USM Macro. Lensa Tamron dan Sigma sudah tersedia dengan lens hood (1 paket), sedangkan Canon, tersedianya hood hanyalah opsional. Seperti yang terlihat jelas di bawah, ketiga lensa makro tersebut menjadi lebih serupa dalam ukuran ketika diperpanjang 100% pada perbesaran maksimal dari 1:1 atau 1.0x.


Ketajaman


Seperti kebanyakan lensa makro yang sangat tajam, begitu juga halnya dengan Tamron 90mm f/2.8 Di Macro. Bahkan mungkin di masa keluarnya produk ini paling dikenal karena ketajamannya. Lensa Tamron ini tajam saat aperture terbuka lebar dan menunjukkan sedikit perbaikan bila aperture sedikit dipersempit (terutama di sudut-sudut frame). Jika Anda memotret pada jarak subjek makro, kemungkinan besar Anda akan menggunakan lubang aperture yang sangat sempit untuk mendapatkan DOF yang sangat lebar / penuh. Hanya saja difraksi akan menjadi musuh terbesar untuk lensa ini. Hasil foto akan menjadi soft (tidak terlalu tajam) di atas bukaan f/16.

Penanganan Penyimpangan Lensa


Untuk masalah flare masih cukup baik dikendalikan dan jauh lebih baik daripada Sigma, tapi sedikit di bawah Canon. Beberapa chromatic aberration (CA) terlihat di sudut-sudut pada bukaan f/2.8, tapi ini akan hilang bila aperture diturunkan beberapa stop. Sedangkan masalah distorsi tidak signifikan sama sekali (masalah sepele). Begitupula dengan vignetting yang kadarnya tidak berpengaruh bahkan jika lensa ini dipasang pada body full frame. Kesimpulannya, kinerja menangani masalah umum lensa mirip dengan Sigma dan sedikit lebih baik dari Canon.

Blur dan Bokeh


Dengan 9 pisau aperture, Tamron 90 Macro ini memiliki bokeh dan kualitas blur yang layak. Tapi kualitas bokeh sulit untuk dibandingkan dengan dua lensa makro lainnya yang saya sebutkan di atas, karena perbedaan focal length ketiga lensa ini sangat tipis. Focal length 90mm mungkin terasa lebih pendek daripada Sigma dengan focal length 105mm dan 100mm pada Canon, dan itu menghasilkan background blur background yang sedikit less-diffused. Untuk hasil gambarnya silahkan Anda lihat paling bawah.

Tanpa Lens Hood dan dipasang pada body Pentax K10D

Keunggulan lainnya pada lensa Tamron 90mm f/2.8 ini sama seperti Sigma 105mm f/2.8 yang elemen depannya tersembunyi / masuk ke dalam, sehingga lebih aman dari benturan (lihat gambar di atas). Tapi ada yang perlu saya sampaikan di sini bahwa ada potensi masalah dengan lensa pihak ketiga (third-party). Sejak Tamron melakukan perubahan terhadap manufaktur AF pada lensanya, selalu ada kemungkinan bahwa sebuah body DSLR baru tidak mendukung lensa Tamron yang berusia lebih tua. Dulu masalah ini pernah terjadi. Kadang-kadang lensa kompatibel dengan body dan kadang-kadang juga tidak. Kedua, ada risiko masalah yang mengakibatkan lensa dan body produsen kamera saling melempar tanggung jawab dan menyalahkan satu sama lain. Namun, garansi 6 tahun oleh Tamron USA jauh lebih unggul daripada garansi standar 1 tahun oleh Canon (meskipun banyak kartu kredit yang bisa menambah waktu garansi untuk produk Canon).

Singkatnya bahwa lensa Tamron 90mm f/2.8 Di Macro hanyalah sebuah lensa yang cukup bagus tapi bukan "super". Dan lensa ini bisa diandalkan untuk fotografi makro, portrait atau penggunaan lainnya yang membutuhkan kisaran focal length 90mm.

Spesifikasi Lensa


  • Bisa digunakan pada body APS-C dan Full-Frame
  • Konstruksi lensa: 10 elemen / 9 grup
  • Angle of View: - (belum ada data)
  • Focal length: 90mm (setara 144mm pada Full-Frame, cropfactor 1.6x)
  • Aperture: f/2.8 (max) dan f/32 (min) 
  • Jumlah pisau aperture: 9
  • Tidak ada stabilizer atau Vibra Compensation (VC)
  • Fokus minimum: 0.29 m (11.42")
  • Rasio pembesaran: 1:1 (half size)
  • Jenis motor fokus: Micromotor 
  • Ring fokus bisa rotasi penuh (FTM)
  • Metode fokus: Extending-Front 
  • Tersedia jendela fokus
  • Berat: 405 g (0.89 lb)
  • Diameter: 72 mm (2.81")
  • Panjang: 97 mm (3.82") 
  • Ukuran filter: 55mm

Sample Gambar


FL 90mm | Canon EOS 350D | 1/8s, f/16.0, ISO 400

FL 90mm | Canon EOS 350D | 1/1600s, f/3.2, ISO 400

FL 90mm | Canon EOS 350D | 1/200s, f/8.0, ISO 200

FL 90mm | Canon EOS 350D | 1/2000s, f/2.8, ISO 400

Sampel gambar di atas telah diperkecil dan mempengaruhi kualitas gambar yang sebenarnya.
SELENGKAPNYA

Memotret Seseorang Menggunakan Refleksi Cahaya Dari Jendela

Backlight yang berasal dari jendela dianjurkan untuk foto portrait (subjek manusia) dalam ruangan. Alasannya? Anda dapat mencerahkan dan melembutkan tekstur pada subjek yang dihasilkan oleh pantulan cahaya menggunakan reflektor sambil menerapkan exposure compensation. Pada artikel ini saya akan memberikan Anda panduan dari fotografer "Teppei Kohno" untuk bagaimana membuat foto portrait indoor dengan memanfaatkan refleksi cahaya dari jendela.

Tapi sebelumnya ada dua pengetahuan penting yang harus Anda pahami supaya Anda mudah mengerti apa yang saya tulis di artikel ini. Pertama, pahami apa itu "backlight" (baca di sini), dan yang kedua pelajari fungsi "exposure compensation" pada kamera (baca di sini). Kalau sudah menguasai dua materi tersebut, silahkan kembali ke artikel ini dan simak baik-baik panduan dari fotografer Teppei Kohno berikut ini:

Langkah 1: Cari sumber cahaya yang lembut


EOS 5D Mark III/ EF50mm f/1.8 STM/ FL: 50mm/ Manual exposure (f/2.8, 1/125 sec.)/ ISO 200/ WB: Auto
Accessory items used: tripod | Image credit © Teppei Kohno

Kontras antara area yang terang dan gelap akan sangat nampak ketika backlight terlalu kuat. Dalam contoh kasus ini, Kohno mengamati kondisi pencahayaan dan memilih menggunakan backlight pada waktu mendung atau cahaya redup. Pada waktu seperti itu ia mudah menangani kerasnya cahaya dan efektif untuk menghasilkan tekstur yang lembut pada kulit subjek. Dan subjeknya tidak lain adalah si model cantik yang ada dalam foto di atas. Awas, jangan gagal fokus ya gaess!!

Langkah 2: Mencerahkan subjek dengan reflektor dari bawah


EOS 5D Mark III/ EF50mm f/1.8 STM/ FL: 50mm/ Manual exposure (f/2.8, 1/125 sec.)/ ISO 200/ WB: Auto
Accessory items used: tripod and board reflector | Image credit © Teppei Kohno

Resiko dari backlight yaitu mengakibatkan penggelapan pada bagian depan subjek yang membelakangi cahaya. Resiko itu yang diilustrasikan dalam foto pada Langkah 1 di atas. Untuk mengatasi masalah tersebut, langkah pertama adalah gunakan papan reflektor untuk memantulkan (refleksi) cahaya dari bawah kembali ke bagian depan subjek tanpa menyesuaikan nilai eksposur.

Board reflector | Image credit © Teppei Kohno

Merefleksikan cahaya tidak hanya membantu mencerahkan subjek saja, tetapi dapat menambah sentuhan lembut dan dimensi untuk warna kulit pada saat yang bersamaan.

Langkah 3: Mencerahan gambar dengan exposure compensation


EOS 5D Mark III/ EF50mm f/1.8 STM/ FL: 50mm/ Manual exposure (f/2.8, 1/60 sec.)/ ISO 200/ WB: Auto
Accessory items used: tripod and board reflector | Image credit © Teppei Kohno

Selanjutnya, gunakan exposure compensation untuk mencerahkan gambar. Pada bagian ini, penting untuk mengikuti langkah menggunakan reflektor di atas, kemudian diikuti dengan menambah exposure compensation beberapa stop untuk menyempurnakan kecerahan ketika cahaya dari reflektor saja tidak cukup. Paham? Anda bisa mengetahui beberapa nilai kompensasi yang kira-kira dibutuhkan dengan menganalisa hasil gambar yang hanya menggunakan reflektor saja. Setelah itu, tentukan exposure compensation untuk menembak adegan berikutnya. Terus lakukan penyusaian jika hasilnya masih kurang atau justru kelebihan cahaya.

Langkah 4: Mengatur angle untuk menambah kedalaman komposisi


EOS 5D Mark III/ EF50mm f/1.8 STM/ FL: 50mm/ Manual exposure (f/2.8/ 1/80 sec.)/ ISO 200/ WB: Auto/ 50mm (equivalent to 35mm in 35mm format)
Accessory items used: tripod and board reflector | Image credit © Teppei Kohno

Langkah 3 sebelumnya merupakan ilustrasi pemotretan yang dilakukan tepat di depan subjek. Sedangkan pada Langkah 4 ini adalah waktunya untuk menentukan sudut pengambilan gambar (angle) untuk menambahkan sentuhan yang lebih menarik pada komposisi gambar. Pelajari tentang angle di sini. Secara bersamaan cara ini untuk menambah kedalaman pada latar belakang (background). Perhatikan gambar di atas, ada ruang sengaja disisakan di sebelah kiri frame untuk menampilkan properti sederhana yaitu sebuah telepon rumah.

# Tips Tambahan


Tenik backlight dari jendela ini efektif untuk adegan di mana Anda ingin menangkap subjek portrait dalam pencahayaan lembut (soft ambience). Namun, berurusan dengan backlight dapat menjadi tugas yang menantang. Contoh-contoh di atas diambil pada hari sedang mendung, dan backlight saat itu lebih mudah untuk ditangani dibandingkan dengan pada hari yang cerah ketika sinar matahari sangat kuat, yang menyebabkan latar belakang untuk berubah kelebihan cerah dan kehilangan detil, sehingga sulit untuk membawa keluar tekstur warna kulit subjek.

Jika Anda mengalami masalah di atas, cobalah untuk mengurangi kontras antara area terang dan gelap sambil menambahkan lebih banyak cahaya ke area gelap (shadow) dengan papan reflektor. Cara alternatif bisa menggunakan bantuan cahaya flash yang ringan. Sedangan metode lainnya adalah posisikan kamera Anda pada sudut atas atau dari samping untuk menghilangkan cahaya yang tidak diinginkan. Ini tidak akan mungkin untuk mereproduksi tekstur halus dari subjek di latar depan hanya dengan menambah exposure compensation saja. Satu pertimbangan penting selama pemotretan bahwa pastikan dimensi dan tekstur warna kulit yang lebih terlihat dalam gambar. Coba perhatikan gambar di bawah:

Image credit © Teppei Kohno

Pada kotak sebelah kiri dalam gambar di atas adalah zoom untuk menunjukan bahwa ada tekstur lembut pada kulit wajah subjek. Sekali lagi ya gaes "jangan gagal fokus", hehe.. Selain itu ada "cathlight" pada mata subjek. Dikatakan bahwa jika mata manusia tanpa cathlight maka mata terlihat kosong dan mati. Sementara foto di atas menunjukan cathlight ada di sisi bawah dalam mata subjek, dan itu menunjukan posisi sumber cahaya yaitu posisi reflektor. Artinya, posisi papan reflektor tetap berada di tempat yang sama seperti pada Langkah 2, sedangkan sudut pengambilan gambar atau anglenya bergeser di sebelah kanan frame dan sedikit ke atas.

BACA JUGA: Tips Memotret Anak Balita Di Ruang Terbuka (Outdoor)
SELENGKAPNYA

Langkah-Langkah Cara Menghilangkan Jamur Pada Lensa


Salah satu masalah yang bisa membuat fotografer frustasi itu adalah ketika ia menemukan jamur tumbuh pada elemen-elemen internal lensa mereka. Ini tidak main-main. Jamur pada lensa umumnya ditemukan pada lensa tua. Tapi masalah ini tidak pilih merek, kualitas, dan lensa mahal sekalipun bisa berpotensi terserang jamur jika tidak dirawat dengan baik. Seperti lensa yang terus berada di tempat yang lembab dalam waktu yang sangat lama, maka jamur-jamur buruk yang ditakuti mungkin akan muncul di lensa Anda.

Saya sudah membahas ini dengan banyak orang yang pernah mengalami masalah tersebut. Mereka melakukan berbagi upaya untuk mencoba membersihkan jamur keluar dari lensa, dengan menggunakan berbagai alat pembersih lensa. Namun ada beberapa hal yang harus Anda ingat: Anda tidak dapat menghapus jamur dengan larutan pembersih lensa yang standar. Alkohol, cairan ringan, dan etanol tidak bekerja dengan baik untuk masalah ini. Begitupula dengan campuran minyak siku yang dikombinasikan dengan solusi di atas, hanya akan mengakibatkan "goresan" dan kerusakan lapisan (coating) pada lensa Anda. Pada akhirnya Anda semakin frustrasi.

Pada artikel ini, saya ingin berbagi dengan Anda tips sederhana untuk cara menghilangkan jamur dari lensa tanpa resiko merusak lensa itu sendiri. Jika Anda bersedia dan berani melalukan tips ini, kemudian Anda berhasil, maka Anda bisa menggunakan tips ini untuk membersihkan lensa-lensa jadul dari kamera tua agar bisa digunakan kembali. Apakah Anda tertarik?

Kalu Anda setuju maka mari kita sepakati hal berikut: Saya tidak bertanggung jawab jika Anda lalai saat membersihkan lensa dan menyebabkan lensa Anda rusak. Jika Anda ragu, sebaiknya tinggalkan artikel ini dan serahkan pembersihan lensa pada ahlinya. Sepakat?

1. Alat Yang Dibutuhkan


Berikut adalah daftar alat dan bahan yang Anda perlukan untuk membantu Anda melakukan pekerjaan ini:

  • Lens Spanner: Ini adalah alat (kunci pas) khusus untuk membongkar lensa. Alat ini sudah tersedia di Indonesia, bahkan Anda bisa membelinya di lapak online (cek di sini).
  • Obeng JIS: Untuk lensa buatan Jepang, Anda memerlukan seperangkat obeng JIS (Japanese Industrial Standard). Model kepala pada obeng ini mirip dengan obeng standar yang sering kita lihat, tapi alat ini sedikit berbeda. Sekrup tipe JIS memiliki kedalaman dan bentuk yang unik, sehingga dikhawatirkan akan merusak sekrup lensa jika Anda membuka lensa menggunakan obeng biasa. Silahkan cek di sini alatnya.
  • Lampu: Untuk membersihkan lensa, sangat ditekankan untuk Anda melakukannya dalam ruangan tertutup, karena dikhawatirkan debu atau kotoran masuk ke dalam lensa. Dan karena ini di dalam ruangan, sehingga tidak cukup jika hanya mengandalkan lampu ruangan saja. Gunakan juga bantuan lampu belajar atau apa saja yang bisa membantu pekerjaan Anda.
  • Piring Makan: Mungkin menurut Anda ini tidak ada hubungannya. Piring makan yang bersih dan steril dibutuhkan untuk meletakkan perangkat-perangkat sensitif dari lensa kamera. 
  • Mangkuk Kecil: Selain piring, mangkuk juga diperlukan untuk merendam perangkat yang akan dibersihkan.
  • Pinset: Yang jelas ini bukan untuk mencabut bulu ketek. Teknisi portable selalu membutuhkan alat ini, begitupula dalam tips ini. Tapi ingat, pinset juga harus steril.
  • Sarung Tangan Nitril: Anda memerlukan sarung tangan nitril agar tangan Anda selalu kering untuk mencegah jari-jari Anda meninggalkan bekas pada permukaan elemen lensa.
  • Kacamata Pelindung: Ini dianjurkan untuk menjaga kerusakan pada mata ketika mata sedang berfokus serius pada perangkat-perangkat kecil dari lensa kamera.
  • Hidrogen Peroksida: Sediakan juga bahan ini. Anda bisa membelinya di Apotik.
  • Amonia: Untuk amonia, usahakan agar Anda membeli amonia yang tidak memiliki wewangian. Karena zat aroma yang ditambahkan dikhawatirkan memiliki potensi merusak elemen lensa yang dibersihkan.
  • Cotton Ball: Sediakan juga bola kapas atau cotton ball.
  • Kain Mikrofiber: Kain mikrofiber khusus pembersih lensa bisa Anda temukan di toko-toko elektronik. Tapi ingat, jangan gunakan yang bekas pakai, sebaiknya sediakan kain mikrofiber yang masih baru.

2. Membongkar Lensa


Dalam artikel ini, saya akan mengambil contoh dari pembersihan lensa tua "Konica Hexanon AR 40mm f/1.8". Lensa jadul ini memiliki jamur yang parah pada pada elemen belakang lensa. Ini adalah contoh kasus yang sangat buruk, karena jamur yang tumbuh di bagian itu akan benar-benar mempengaruhi kualitas gambar. Jamur tidak berada di luar dari elemen belakang, tapi di antara dua elemen dalam lensa. Masalah seperti ini biasanya tidak begitu nampak kecuali jika Anda melihatnya di bawah cahaya yang terang. Ini pengalaman yang harus Anda ingat ketika memeriksa lensa bekas yang akan dibeli.



Baik, mari kita mulai membersihkan. Gunakan obeng JIS Anda untuk melepaskan sekrup yang mengunci mount lensa. Dalam kasus ini, ada 4 sekrub menempel pada mount lensa yang harus dilepas terlebih dahulu.


Setelah melepas mount lensa, Anda bisa melepaskan ring aperture dari tubuh lensa agar lebih mudah mengakses ke elemen belakang lensa. Mungkin Anda berfikir tak perlu melepaskan ring aperture, tapi karena dalam praktek ini Anda akan membongkar lensa, jadi sekalian saja ring aperture dibersihkan juga.

Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan: antara cincin aperture dan tubuh lensa ada bola baja kecil yang memiliki sebuah coil spring atau lapisan spring di belakangnya yang harus dilepas dengan hati-hati (coba periksa lensa Anda barangkali ada). Kemudian, ketika Anda akan mengangkat ring aperture hati-hati dengan kotorannya. Dalam kasus lensa tua ini, ring memiliki lumayan banyak minyak dan kotoran.


Setelah ring aperture dilepas, kita bisa masuk ke bagian belakang tubuh lensa. Saya sarankan Anda melakukan sedikit pembersihan awal dalam setiap langkah-langkah pembongkaran lensa. Selanjutnya gunakan lens spanner. Alat ini memiliki dua batang spreader baja, yang di mana dua batang spanner dapat diatur jaraknya sesuai lebar ring lensa yang akan dilepas keluar dari belakang lensa.


Kalau ring penahan sudah dilepas dari lensa, sekarang kita bebas membuka elemen lainnya. Ada beberapa cara untuk melepas elemen kaca: posisi lensa dibalik di atas tangan Anda untuk melihat apakah kaca bisa keluar jatuh. Biasanya kaca akan jatuh dengan sendirinya ketika lensa dibalik. Tapi jika itu tidak berhasil, coba pasang kembali ring penahan, lalu gunakan benda tumpul (jangan logam) dan dengan lembut Anda ketuk sisi-sisi ring penahan. Trik ini untuk mendorong beberapa gerakan agar kaca mudah dilepas.


Pada kasus lensa ini, elemen belakang dengan mudahnya jatuh ke tangan teknisi. Elemen kaca ini sangat tipis dan mudah pecah. Anda bisa menggunakan kain lembut untuk meletakkan semua ring dan elemen kaca di tempat steril sesuai dengan urutannya. Perhatikan juga posisi elemen kaca yang cembung dan cekung sehingga Anda tidak keliru ketika memasukkan kembali semua elemen ke dalam lensa.

Pada foto di bawah, Anda dapat melihat sebuah kaca yang masih berada di dalam lensa. Itu elemen khusus yang memiliki jamur di atasnya. Ketika elemen kaca sebelumnya diangkat, elemen lainnya ikut terangkat juga tapi tidak dengan elemen kaca yang satu ini.


Konstruksi grup lensa tua ini membutuhkan untuk melepas sebuah ring spacer antara elemen yang paling belakang dan elemen internal. Hati-hati ketika melepas setiap elemen, seperti yang saya katakan di atas biasanya elemen lain ikut keluar dan perhatikan jangan sampai terjatuh.

Ketika membalik lensa di atas tangan Anda, perhatikan elemen seperti apa yang keluar. Untuk elemen yang sensitif letakkan di atas kain. Elemen yang permukaan kaca jangan disentuh permukaannya. Karena elemen-elemen internal lensa memiliki lapisan yang lembut dan mudah tergores.


Selanjutnya kita akan berurusan dengan elemen inti yang mempunyai masalah jamur di atasnya. Jamurnya cukup banyak hampir menutupi permukaan cekung dari elemen kaca tersebut. Pada gambar di atas coba Anda perhatikan ada elemen hitam di sekitar tepi kaca. Kadang-kadang itu berbahan tipis yang akan mengendur ketika direndam dalam larutan kimia. Elemen hitam yang membungkus kaca ini berfungsi untuk mengurangi masalah refleksi internal lensa. Jika mulai mengendur atau keluar ketika pembersihan, sebaiknya segera dibersihkan lalu dipasang kembali pada elemen kaca.



3. Membersihkan Jamur


Anda bisa menggunakan beberapa jarum suntik untuk mengukur cairan hidrogen peroksida dan amonia yang akan digunakan untuk membersihkan elemen lensa. Solusi lainnya bisa juga dengan menggunakan tutup botol amonia untuk mentakar semua bahan kimia yang digunakan. Pakailah sarung tangan dan kacamata. Pastikan Anda bekerja di ruangan yang berventilasi, karena asap amonia cukup kuat.

Dalam kasus lensa tua ini, digunakan 5 mililiter masing-masing peroksida dan amonia, sehingga volume keseluruhannya 10 mililiter. Aduk campuran hingga rata. Sebelum mengisi piring dengan campuran larutan kimia, letakkan kain pembersih lensa (lens wipe) atau yang serupanya tapi sekali pakai di atas permukaan piring. Ini akan melindungi elemen tergores ketika direndam.


Ingat, pelan-pelan ketika memasukkan elemen yang berjamur ke dalam piring berisi larutan kimia. Rendam selama 2 menit. Anda akan melihat ada gelembung yang artinya larutan sedang bekerja menggerogoti jamur. Setelah beberapa menit direndam, gunakan bola kapas (cotton ball) untuk menghapus dengan lembut setiap jamur yang tersisa.

Jika jamur masih saja melekat di permukaan elemen, coba masukkan kembali dalam larutan dan simpan lebih lama untuk direndam. Biasanya kasus jamur yang parah bahkan memerlukan sekitar 20 menit untuk benar-benar menghilangkan semua jamur.


Setelah semua jamurnya hilang, ambil elemen dan bilas di wastafel. Jangan digosok, Anda cukup membiarkan air kerang jatuh langsung di atas permukaan elemen, dan lakukan cara yang sama untuk setiap sisi elemen. Setelah selesai membilas, keringkan elemen menggunakan lens poofer (jika ada). Kalau airnya sudah hilang, gunakan kain microfiber bersih untuk membersihkan elemen lensa dengan lembut.

Selanjutnya coba Anda periksa elemen tersebut di bawah cahaya. Cek di semua sisi elemen untuk memastikan bahwa semua jamur benar-benar sudah hilang. Pastikan juga tidak ada debu, noda atau bekas jari Anda pada permukaan elemen (makanya pakai kaos tangan). Jika semua baik-baik saja, letakkan elemen pada kain microfiber lembut dan bersih, kemudian bungkus untuk mencegah debu hinggap di atasnya. Nah, sekarang lakukan proses pembersihan yang sama pada elemen-elemen lensa lainnya.


Setelah semua elemen dibersihkan, giliran body lensa yang dibersihkan sebelum semua elemen kembali dipasang pada lensa. Mulai dari bagian depan lensa dibersihkan dan ditiup menggunakan blower khusus lensa. Jangan lupa memeriksa aperture dan pastikan dalam kondisi sempurna. Berikutnya, membersihkan bagian belakang lensa. Anda bisa menggunakan sikat gigi untuk membersihkan kotoran keluar dari ring aperture. Gunakan minyak khusus (misalnya #30 dari Jepang) dicampur takik untuk membantu memperhalus kinerja aperture.


Untuk mount lensa tua ini direndam dalam alkohol isopropil (91%) dan hasilnya benar-benar baik. Oya, setiap lensa mungkin sedikit berbeda dalam hal konstruksi lensa. Untuk lensa Konica tua ini memiliki pengancing dalam mount lensa. Yang jelas Anda harus mengeluarkan mount jika ingin membersihkannya.

Setelah proses pembersihan benar-benar selesai dan tidak ada yang tinggal, silahkan rakit kembali lensa Anda dengan teliti dan hati-hati. Total waktu untuk menyelesaikan pembersihan ini kurang lebih 2 jam atau bisa jadi lebih lama. Berikut penampakkan lensa tua Konica Hexanon AR 40mm f/1.8 setelah dibersihkan:


Baik, selamat mencoba dan ingat "hati-hati" saat membersihkan. Jika Anda ragu, sebaiknya serahkan saja pembersihan lensa pada ahlinya. Jangan lupa baca juga artikel "Tips Cara Menyimpan Dan Merawat Kamera DLSR" dan artikel "4 Langkah Membersihkan Debu Pada Kamera Canon".
SELENGKAPNYA

Rahasia Foto Levitasi di Atas Air


Dalam artikel saya sebelumnya mengenai levitasi (baca di sini), di situ saya menuliskan kalau adegan levitasi yang ekstrim dan rada-rada "tidak masuk akal", rahasinya adalah adegan ditembak 2x kemudian hasilnya di merger lewat Photoshop. Nah, pada artikel ini saya akan menunjukan semua itu pada Anda. Ini bukan eksperimen saya, melainkan tips trik dari fotografer Christopher James.

Belum lama ini Christopher James memposting foto levitasi "before-after" dalam akunnya di Reddit. Foto-foto itu lah yang akan saya tampilkan dalam artikel ini bersama tips trik dari dia (lihat paling bawah).
Tapi sebelum kita masuk ke pembahasan tips trik, mari kita lihat seperti apa rahasia foto levitasi di atas air oleh fotografer Christopher James:









Setelah puas melihat foto-foto di atas, pasti Anda penasaran apa saja yang dilakukan Christopher James dalam membuat foto levitasi di atas. Berikut tips dan triknya:

# Gunakan lensa sudut lebar (wide angle)


Dalam mengambil adegan levitasi, James memotret menggunakan lensa dengan focal length 35mm atau lebih rendah dari itu. Menurut dia, itu untuk menciptakan kedalaman pada gambar dan modelnya secara bersamaan. Awalnya pada sebagian besar adegan ia menembak menggunakan lensa 85mm, tapi hasilnya penuh kekacauan. James terus mencaritahu di mana letak masalahnya sehingga subjek seperti keluar dari adegan dan seolah-olah ditempel lewat software editing.

Ia kemudian menyadari bahwa masalah itu akibat dari kompresi yang ditemukan pada panjang focal length lensa. Kompresi membuat segalanya begitu datar sampai-sampai james tidak bisa realistis percaya model dan adegan yang terhubung pada titik-titik yang berbeda dari jarak kejauhan, yang mana itu terlihat seperti efek dan manipulasi software.

Kemudian James menembak adegan sekitar 35mm atau lebih rendah untuk membawa distorsi yang secukupnya, untuk membuat model terlihat kurang lebih seperti objek 2D yang melayang di atas air atau tanah.

# Pastikan model secara fisik terhubung dengan adegan


Cara lain untuk menghindari subjek terlihat "copy-paste" menggunakan software adalah memastikan model Anda membuat kontak dengan lingkungan dengan cara yang unik. Karena jika mereka sedang mengambang di langit tanpa koneksi ke adegan, maka semua terlihat palsu. Tapi dengan memastikan model tetap memiliki bayangan, refleksi, meletakkan tangan di tanah, atau bahkan rambut dijatuhkan ke air, itu akan membuat pemirsa tahu bahwa model benar-benar ada di sana, dan bukan ditempel menggunakan Photoshop. Jadi, cobalah untuk menyertakan setidaknya 2 "koneksi" jika Anda ingin menunjukan adegan levitasi yang membuat orang tercengah melihatnya.

# Menggunakan Low Angle


Apakah Anda tahu jenis-jenis angle atau sudut pengambilan gambar? Coba baca di sini artikelnya. Pada kasus ini, James menurunkan sudut pandang atau menggunakan low angle. Menurutnya cara itu akan membuat semakin besar kesenjangan antara subjek dan tanah. Jika Anda menembak lebih tinggi dari posisi low angle, tidak masalah jika itu tingginya sekitar 2 inci atau 2 kaki, dan selama itu masih bisa menunjukan model melayang di atas air.

# Masalah berat badan


Ini salah satu tantangan besarnya. James berjam-jam menghabiskan waktunya bertanya-tanya mengapa beberapa gambar bekerja dengan baik, sementara yang lain tidak. Ini semua tentang di mana model Anda meletakkan berat badan mereka.

Masalahnya, saat itu James berharap modelnya bisa bertahan ketika duduk dan bertumpu di pantat mereka dengan terlihat sangat alami. Jadi jika dia mengambil gambar seseorang duduk di atas kursi dan kemudian subjek kursi dihapus, maka adegan tampak sangat ekstrim dan pemirsa akan bertanya-tanya bagaiaman ia melakukan itu? Tapi masalah yang dihadapi adalah berat badan modelnya. Sehingga jika model duduk bertumpu pada pantatnya dengan tubuh melengkung, maka masalah berat badan akan membuat model terlihat kaku, gemetar dan menunjukan model sedang berkuat menahan berat tubuhnya. Ini masalah!!

Saran james adalah gunakan bagian tubuh yang paling berat untuk bertumpu, bisa dengan berbaring dan bertumpu pada punggung belakang, atau duduk tapi menurunkan satu kaki untuk menjaga keseimbangan. Tapi jika Anda menggunakan bantuan seseorang, maka buat adegan seolah "imposible" dan tunjukan kalau aksi si model tidak dibantu oleh orang lain. Apapun caranya, idenya adalah menunjukan lekungan tubuh yang normal saat melayang, bukan hanya sekedar duduk dan berdiri pada sesuatu.

# Pakaian


Pakaian yang direkomendasikan untuk dikenakan model adalah menggunakan "kain flowy". Kain seperti itu mudah kusut oleh gerakan tubuh, sehingga membuat pemirsa tahu bahwa ada gerakan dari si model yang seolah benar-benar bergerak melayang dalam adegan levitasi. James memilih gaun dan rok putih. Jangan terlalu banyak corak atau motif, itu akan menggangu mata pemirsa ketika fokus ke subjek.

# Bahasa tubuh


Bagian ini yang benar-benar sulit dan tentu saja yang paling banyak memakan waktu saat proses pengambilan gambar. Ternyata benar, sangat sulit untuk membuat seseorang terlihat seperti mereka mengambang dengan alami, tenang dan tidak terlihat sedang berusaha mengangkat tubuh atau menyeimbangkan pada satu kaki. Namun, ada beberapa cara tips mengatasi masalah ini:

  1. Kerjakan dengan santai dan jangan membuat model tertekan. Kalau perlu sekali-sekali Anda melucon dan buat model Anda senyum dan tertawa. Ini akan mengendurkan leher dan bahu juga.
  2. Instruksikan model agar tangannya tidak harus dikepal atau terbuka penuh. Minta lah dia untuk tenang dan bayangkan diri sedang mengambang. Lemaskan jari-jari tangannya sehingga sedikit terbuka dan setengah mencakar.
  3. Posisi jari-jari kaki menunjuk sehingga kaki terlihat meruncing. Ketika sedang mengambang tidak ada alasan untuk kaki terlihat datar.

# Melakukan 2x tembakan


Sebenarnya tidak cukup 2x tembakan bila ingin hasil yang memuaskan. Tapi maksud dari 2x tembakan di sini bahwa harus ada 2 gambar yang Anda anggap cukup bagus untuk diolah di Photoshop. Ini bagian yang lupa dimasukkan oleh James, jadi biar saya saja yang tambahkan. Sebelum Anda memotret model melakukan levitasi, lakukan dulu tembakan kosong tanpa model dalam adegan. Dan tembakan kedua baru lah si model masuk untuk melakukan levitasi. Jadi hasilnya ada dua gambar yakni gambar tanpa model dan gambar dengan model melakukan levitasi. Ini lah yang saya maksud 2 gambar. Tapi ingat, kedua gambar harus diambil dengan cara yang konsisten. Mulai dari pengaturan frame, angle, dan pengaturan kamera agar pencahayaan kedua foto tersebut tidak berbeda. Kalau saya pribadi menggunakan tripod agar frame tidak bergeser.

# Mengolah gambar


Bagian Iini juga tidak ada dalam penjelasan James. Selanjutnya kedua gambar tersebut digabung menggunakan Photoshop. Gambar tanpa model berada di bawah dan gambar berisi model berada di atas. Kemudian hapus benda yang digunakan si model untuk bertumpu, entah itu kursi, batu, dll. Paham? Kalau Anda mahir dengan Photoshop tentu ini hal yang sangat mudah. Intinya yang rumit di sini adalah proses pengambilan gambarnya ketimbang pengolahan gambar.

Semoga bermanfaat dan selamat mencoba!!

Perhatian! Semua foto-foto di atas memiliki hak cipta Christopher James. Mohon untuk tidak disalahgunakan.
SELENGKAPNYA
KELAS FOTOGRAFI

Kami mendeteksi Adblock Anda sedang aktif.
Kemungkinan ada bagian artikel yang hilang.
Apakah Anda menggunakan UC Browser?
Mohon non-aktifkan Adblock di browser Anda atau gunakan browser selain UC Browser.
Kami rekomendasikan Anda menggunakan Google Chrome untuk tampilan laman yang lebih baik.

[ Lihat Cara Non-Aktifkan Adblock ]
TUTUP BOX INI