MOHON AKTIFKAN JAVASCRIPT ANDA!
[KLIK DI SINI PETUNJUKNYA]

Materi Penting Fotografi yang Sering Dilupakan Pemula


Sering kali saya menemukan pemula mengabaikan hal pokok yang merupakan bagian dari esensi fotografi. Prinsip yang berbeda-beda dari setiap fotografer bisa saja menjadi penyebabnya. Selain itu, ketergantungan dengan permainan software juga besar pengaruhnya yang mengakibatkan banyak pemula lebih senang memanipulasi daripada belajar menghasilkan tembakan terbaiknya. Tentu itu tidak terjadi begitu saja, apalagi sebagai pemula Anda mengabaikan kaidah dan pedoman fotografi yang ada sejak dulu.

Di sini saya mencoba menuliskan hasil pengamatan saya tentang hal-hal yang kerap diabaikan oleh kebanyakan fotografer, khususnya pemula. Anda harus memahaminya secara terbalik, jika saya mengatakan ini "sering dilupakan" maka artinya itu harus Anda ingat. Berikut materi yang sudah seharusnya tidak diabaikan oleh setiap fotografer:

1. Mencari Point of Interest (POI)


Kebanyakan situasi, POI tidak hadir begitu saja atau bahkan terelewatkan karena kecerebohan fotografer. Pentingnya POI sehingga ia diibaratkan "ruh" dari sebuah gambar, dan POI merupakan cara yang paling kuat mendeskripsikan gambar Anda. Jadi setiap kali Anda melihat adegan maka biasakan untuk mencari di mana letak Poin of Interest sebelum Anda menembak adegan tersebut. Sedangkan cara terbaik memilih POI adalah dengan memahami definisi dari POI itu sendiri. Ini bisa menjadi luas, tergantung juga bagaimana fotografer mendefinisikannya. Tapi seperti apa POI dikenal selama ini telah saya jelaskan pada artikel khusus tentang POI (baca di sini).

Masih banyak pemula yang mengabaikan POI kemudian memperkuat gambar mereka dengan olah digital. Itu proses belajar yang salah. Tanpa Poin of Interest, sebuah gambar bisa menjadi multi-tafsir bahkan tidak ada pesan yang dapat ditangkap oleh pemirsa. Perlu diingat bahwa fotografi itu tidak selalu tentang gambar seorang wanita yang kulitnya harus mulus bebas flag, kalau perlu gunakan Photoshop untuk mewujudkan itu. Tidak! Gambar tersebut akan menjadi lebih menarik bila Anda mampu mendeskripsikan wanita tersebut sebagai subjek utama. Mata, bahasa tubuh, mimik wajah bisa menjadi alat untuk tujuan itu. Atau tidak, hadirnya subjek / elemen lain dalam adegan juga bisa membantu menjelaskan apa yang dilakukan oleh subjek utama dan dengan apa / siapa ia berinteraksi. Ini cuma contoh skenario yang semua tergantung kreatifitas Anda sebagai fotografer.


2. Bermain Komposisi


Sering kali pemula menggunakan komposisi tengah, baik itu memotret landscape atau portrait, mereka selalu menempatkan subjek di tengah frame. Tidak ada yang salah dengan komposisi tengah, karena bagaimanapun itu bagian dari komposisi. Hanya saja jika Anda terus-terusan melakukan itu artinya cara pandang Anda melihat adegan itu monoton dan tidak ada peningkatan terhadap skill fotografi Anda. Skill dalam fotografi tidak selalu tentang mahir menggunakan kamera. Jadi sebaiknya Anda melakukan inovasi dan mengembangkan cara menyusun komposisi agar gambar menjadi lebih kuat, unik dan menarik. Anda tidak harus bingung memulai dari mana. Para fotografer profesional telah menunjukan bagaimana cara mereka menyusun komposisi, kemudian itu menjadi referensi turun menurun yang diadopsi hingga sekarang ini. Komposisi itu beragam, ada banyak contoh komposisi fenomenal yang bisa Anda gunakan. Saya telah menulis pembahasan komposisi yang lumayan panjang beserta contoh-contoh komposisi yang bisa Anda pelajari (silahkan baca di sini).

Tentu saja sulit mengingat semua pedoman komposisi secara bersamaan. Salah satu tips yang bisa Anda coba adalah memilih komposisi mana yang paling Anda sukai dan menarik menurut Anda. Kemudian mempraktekkannya satu-persatu di lapangan. Tidak harus ke bagian yang rumit, Anda bisa memulai membiasakan diri dengan menggunakan Rule of Thirds dan tidak terpaku menempatkan subjek di tengah saja. Anda harus mencoba mencari tahu apa pengaruhnya jika subjek di posisikan di kiri-kanan-atas-bawah frame. Kemudian pelajari juga materi lain yang erat kaitannya dengan komposisi yaitu sudut pengambilan gambar atau angle. Pelajari bagaimana cara menggunakan angle dan lihat seperti apa visualisasi yang dihasilkan oleh tiap-tiap angle (baca di sini pembahasan angle).

Sampai ke materi ini harap diingat bahwa POI dan komposisi berada dalam satu deretan dan saling berkaitan. Jangan diabaikan lagi, tempatkan kedua materi ini dalam ingatan setiap kali Anda memotret. Setelah Anda menemukan POI, kemudian berfikir untuk bagaimana membingkai adegan dan menyusun komposisi dengan baik.

3. Memilih Mode Metering yang Tepat


Sekarang saya menyinggung bagian teknis kamera. Perhatian utama fotografer adalah cahaya. Ya, ini ada kaitannya dengan eksposur. Bila selama ini kita belajar memahami segitiga eksposur (shutter speed, aperture, ISO) agar mampuh menghasilkan pencahayaan yang baik (normal exposure), tapi rupanya banyak yang lupa peran fungsi dari metering kamera. Berkat metering yang bertugas mengukur cahaya pada subjek / objek, menjadi tolak ukur sehingga kita dapat menentukan berapa nilai ideal untuk masing-masing shutter speed, aperture dan ISO. Tidak memahami bagaimana metering bekerja akan keliru memilih mode metering, dan kesalahan memilih mode metering akan membuat Anda bingung mengapa pencahayaan tidak merata pada seluaruh adegan. Apakah metering keliru atau Anda yang tidak memahami?

Biasanya kesalahan memilih mode metering dikarenakan sejak awal tidak mengetahui cara kerjanya atau bisa jadi sering mengabaikan memilih mode metering yang tepat. Mungkin karena dianggap tidak signifikan. Padahal mode metering yang tepat akan membantu Anda menghasilkan pencahayaan yang baik pada bagian gambar yang Anda prioritaskan. Memang mustahil mendapatkan pencahayaan yang stabil dan merata pada kondisi pencahayaan yang rumit. Misalnya pada posisi backlight dengan cahaya matahari, sudah pasti Anda dihadapkan dua konsekuen "under" atau "over", dan kamera memiliki keterbatasan akan hal itu. Tapi paling tidak Anda memiliki solusi untuk mengatasi satu bagian dari seluruh bagian lainnya dalam adegan. Jadi jika kasusnya Anda memotret seseorang pada posisi backlight maka Anda harus bisa menyelesaikan pencahayaan pada area subjek. Nah, pada saat itulah Anda harus pandai memilih mode metering yang tepat. Itu baru satu contoh kasus, bagaimana jika menghadapi kondisi pencahayaan rumit lainnya? Hal semacam itu mungkin tidak lagi penting karena mudah diselesaikan saat post-processing. Itulah kesalahan fotografer hari ini yang tidak mau belajar menghasilkan tembakan terbaik mereka dan lebih mengandalkan permainan software. Dengan prinsip seperti itu apa Anda yakin bisa bertarung dalam kompetisi fotografi yang umumnya membatasi olah digital?

Kembali pada metering, pembahasan metering ini cukup kompleks dan artikel saya tentang metering juga tidak kalah panjang (baca di sini artikelnya). Semoga saja Anda yang pemula mau mepelajarinya dan benar-benar memahami cara kerja masing-masing mode metering (baca di sini untuk mode-mode metering).

4. Menerapkan Teknik Pengambilan Gambar (Type of Shot)


Teknik pengambilan gambar atau Type of Shot memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan angle. Tidak sedikit juga pemula yang cereboh mengatur frame dan salah membingkai objek. Kasus yang paling sering terjadi ketika menembak portrait, pemula tidak memperhatikan ada bagian penting yang hilang dari subjek karena dipotong oleh frame, atau karena salah memotong bagian dari subjek. Misalnya saja pose orang berdiri yang dipotong pada bagian pergelangan kaki. Seharusnya fotografer memilih Type of Shot yang bisa mengekspos seluruh bagian tubuh subjek, atau memotong frame dengan cara yang benar dengan menerapkan medium-shot atau close-up.

Memang ada beberapa teknik pengambilan gambar yang akan memotong bagian subjek tapi dengan cara yang benar tanpa meninggalkan estetika. Bukannya berarti Anda bisa memotong seenaknya, kecuali memang situasinya tidak memungkinkan. Untuk bagian ini pemula hanya perlu mengingat kembali jenis-jenis type of shot (baca di sini artikelnya). Tidak ada pendalaman khusus seperti rumitnya menguasai teknik komposisi. Ini pun menjadi bagian dari menyusun komposisi. Saya malah curiga karena menghindari terpotongnya bagian pada subjek sehingga banyak pemula cenderung menempatkan subjek di tengah sebagai komposisi aman. Ya, alasan itu masih lebih baik daripada memotret seseorang tanpa etika, memotong kepala, tangan dan kaki karena cereboh bukan bagian dari pedoman fotografi. Hal sepele seperti itu perlu dihindari dan mulai membiasakan diri memotret dengan benar.

Di antara banyaknya pengetahuan fotografi, empat materi di atas paling sering diabaikan fotografer, dan mungkin kedepannya saya akan menambahnya jika memang ada hasil pengamatan baru. Apabila Anda salah satunya yang mengabaikan semua materi di atas maka bisa disimpulkan Anda tidak lagi mengikuti pedoman fotografi. Jangan hanya bertumpu pada olah digital. Gambar yang melibatkan olah digital akan tetap terlihat sebagai produk fotografi selama Anda mengikuti kaidah dan pedoman fotografi yang sebenarnya. Tetaplah mengingat esensi fotografi. Jika menurut Anda manipulasi menggunakan software jauh lebih baik, sebaiknya tentukan tempat Anda, fotografi atau digital art. Semoga saja tidak, dan saya harap apa yang saya tulis ini menjadi pengingat untuk kita semua termasuk saya sendiri untuk menjadi fotografer yang lebih baik lagi dan mengedapankan esensi fotografi yang sebenarnya.
SELENGKAPNYA

Trik Mudah Menghilangkan Chromatic Dengan Photoshop

Chromatic aberration (CA) merupakan salah satu penyimpangan yang akan dialami oleh semua lensa pada kondisi pencahayaan tertentu. Tidak ada lensa super yang bisa menghindarinya jika memang kondisi pencahayaan sangat berpotensi menimbulkan chromatic pada sisi-sisi subjek. Sejauh ini produsen hanya berupaya untuk meminimalisir, dan karena faktor penyebabnya cukup kompleks, sehingga menciptakan lapisan khusus saja tidak cukup untuk menanganinya. Oleh karenanya pada beberapa software olah digital termasuk Adobe Photoshop dan Lightroom menyediakan tool atau fitur untuk menghapus chromatic pada gambar. Artinya bahwa chromatic ini adalah masalah yang cukup serius yang penanganannya tidak cukup bila berharap pada teknologi lensa.

Apa Itu Chromatic Abberation?



Apakah Anda pernah melihat ada garis "berwarna" di sepanjang tepi / pinggir subjek seperti yang ditunjukan oleh gambar di atas? Itulah yang disebut chromatic. Jika gambar dilihat pada tampilan kecil, mungkin chromatic tidak akan nampak. Tapi Anda akan melihatnya jelas setelah gambar dizoom lebih besar.

Chromatic Abberation juga dikenal dengan banyak istilah seperti color fringing dan purple fringing. Chromatic ini terbagi dua jenis yaitu laterral dan longitudinal. Tapi saya tidak akan membahas jauh tentang chromatic abberation, jadi untuk penjelasan lebih lengkapnya silahkan Anda baca di sini artikelnya.

Bagaimana Cara Menghilangkan Chromatic?


Sejauh ini, saya menemukan chromatic ketika menembak di bawah intensitas cahaya yang kuat, seperti di bawah sinar matahari saat berada di puncaknya. Tapi apapun penyebabnya, fotografer harus memiliki solusi untuk menyelesaikan masalah ini. Saya menemukan trik sederhana untuk menghilangkan chromatic menggunakan Photoshop. Jujur saja ini bukan ide saya, tapi trik ini benar-benar berhasil dan sangat membantu. Meskipun Photoshop telah menyediakan tool khusus untuk menangani chromatic, tapi bagi saya trik ini lebih mudah diterapkan dengan beberapa langkah sederhana. Silahkan disimak triknya:

1. Jalankan Photoshop Anda dan silahkan masukkan gambar yang memiliki masalah chromatic. Selanjutnya silahkan duplikat layer dengan menekan tombol "Ctrl + J" pada papan kyeboard. Sekarang ada dua layer yaitu "Background" dan "Layer 1" yang merupakan hasil duplikat. Lihat gambar di bawah:


2. Silahkan pilih "Layer 1" lalu ubah modenya dari "Normal" menjadi "Color". Perhatikan gambar di bawah:


3. Sampai langkah di atas belum terjadi perubahan pada gambar. Nah, sekarang baru kita akan menghilangkan chromatic. Sebelumnya lakukan zoom sebesar mungkin untuk melihat penampakkan chromatic dan hasil perbaikannya. Kemudian klik menu "Filter" pada menu atas, lalu pilih "Blur" --> "Gaussian Blur...". Setelah itu kotak dialog akan muncul untuk mengatur intensitar blur. Perhatikan gambar di bawah:


4. Pada kotak tersebut kita akan mengatur seberapa besar intensitas blur. Tapi karena Layer 1 dalam mode "Color" maka bukannya blur yang akan terjadi, tapi justru di sini kita akan menghilangkan chromatic. Silahkan naikkan secara bertahap nilai radiusnya mulai dari "0" sampai nilai yang bisa menghilangkan chromatic. Untuk contoh kasus di sini saya akan menggunakan nilai radius "8,0" (lihat kembali gambar di atas). Mungkin Anda akan menggunakan nilai yang berbeda, tergantung setinggi apa kadar chromatic yang muncul pada gambar. Semakin tinggi nilai radiusnya maka semakin besar kadar chromatic yang hilang.

5. Setelah mengatur nilai radiusnya dan chromatic benar-benar hilang, silahkan klik tombol "OK". Berikut perbandingan gambar sebelum dan setelah chromatic dihilangkan:


Perlu juga diingat bahwa konsekuen yang paling signifikan dari trik ini adalah terjadinya penurunan saturasi. Tapi itu bukan masalah serius, karena Anda masih dapat memperbaiki bahkan menambah saturasi tanpa khawatir akan mempengaruhi hasil perbaikan chromatic yang dilakukan sebelumnya. Oleh karenanya saya katakan bahwa cara ini lebih berkenan bagi saya pribadi, semoga begitupula dengan Anda.

Baik, mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi solusi dan semoga bermanfaat bagi Anda semua.
SELENGKAPNYA

Ulasan Lensa Canon EF 85mm f/1.2L II USM


Lensa Canon EF 85mm f/1.2L II USM adalah salah satu lensa Canon aperture terlebar dengan bukaan maksimal aperture f/1.2, yang mana lensa ini tentu sangat berguna untuk memotret dalam kondisi minim cahaya. Selain itu, aperture sebesar f/1.2 juga mampu menghasilkan intensitas blur yang menakjubkan. Kabarnya lensa ini membutuhkan banyak kaca untuk menjadi lensa cepat, dan itu pasti terdengar bagus. Kemudian terdapat cincin merah di elemen depan lensa yang menandakan bahwa ini lensa Canon seri-L. Ya, lensa Canon seri-L merupakan lensa yang digunakan fotografer kelas pro. Harganya juga tidak main-main, saat ini di Indonesia Lensa Canon EF 85mm f/1.2L II USM dijual dengan harga kisaran 20jt ke atas. Harga setinggi itu kira-kira apa saja kelebihannya?

Pada lensa versi sebelumnya, Canon EF 85mm f/1.2L USM didapati bahwa kecepatan fokusnya sangat lambat. Jika Anda menembak subjek diam mungkin tidak jadi masalah, tapi butuh kerja keras untuk memotret aksi olahraga di dalam ruangan. Sedangkan Canon EF 85mm f/1.2L II USM ini, kabar baiknya pihak Canon telah memanfaatkan USM (Ultrasonic Motor) terbaru untuk menjadikan lensa ini lebih cepat dari versi sebelumnya dan kinerja autofocus yang tidak berisik (silent). Selain itu, mekanisme fokusnya meningkat sekitar 1.6x lebih cepat dari versi sebelumnya. Itu peningkatan yang sangat signifikan.


Lensa Prime Canon EF 85mm f/1.2L II USM ini memiliki aperture dan kualitas gambar yang menjadikan itu lensa aksi olahraga dalam ruangan yang sangat baik. Sedangkan kinerja autofocus menurut beberapa analisis kecepatannya "lumayan", tapi tidak secepat lensa cepat Canon lainnya. Sekedar untuk diketahui bahwa yang dimaksud dengan "lensa cepat" adalah lensa yang memiliki bukaan aperture yang sangat lebar (umumnya f/1.2 - f/1.4) yang memungkinkan untuk menerima lebih banyak cahaya, sehingga fotografer bisa menggunakan shutter speed yang lebih cepat.

Calon konsumen mungkin akan bertanya-tanya apakah lensa Canon 85mm f/1.2L II ini bisa diandalkan untuk fotografi olahraga? Pastinya "iya". Lensa ini juga termasuk rekomendasi untuk memotret aksi olahraga. Alasan yang paling masuk akal untuk menentukan layaknya sebuah lensa bisa menembak subjek bergerak termasuk aksi olahraga adalah kecepatan fokus. Seperti dikatakan di atas, lensa ini lumayan cepat, setidaknya ada peningkatan dari versi sebelumnya. Berikut contoh gambar aksi olahraga menggunakan lensa Canon EF 85mm f/1.2L II USM dan kamera full-frame Canon 1D X:

Image Credit © The-digital-picture.com

Penanganan Penyimpangan Lensa


Lensa Canon EF 85mm f/1.2L yang dulu memiliki kualitas gambar yang sangat baik, sedangkan Canon EF 85mm f/1.2L II USM ini menggunakan lapisan Super Spectra dan elemen lensa yang dioptimalkan untuk menekan flare dan ghosting, maka seharusnya lensa 85mm f/1.2L II ini memiliki kualitas yang lebih baik lagi. Selain itu, terdapat juga anti-reflektif yang ditempatkan di dalam barel lensa. Review dari beberapa orang yang menggunakan lensa ini menemukan sedikit peningkatan kualitas gambar dan dalam situasi tertentu didapati kurangnya masalah flare (baca di sini apa itu flare dan ghosting).

Untuk masalah vignette, Canon EF 85mm f/1.2L versi pertama menunjukkan vignetting terlihat di f/1.2, bahkan jika digunakan pada DSLR crop-factor 1.6x. Sedangkan pada DSLR full-frame vignetting hampir hilang pada bukaan f/2. Begitupula dengan Canon 85 f/1.2L II yang identik sama untuk masalah vignette.

Lensa Canon EF 85mm f/1.2L II USM menunjukkan kadar chromatic aberration yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Ditemukan penyimpangan chromatic ketika lensa digunakan di bawah sinar matahari yang kuat dengan aperture terlebar f/1.2 . Tapi dengan beberapa software, chromatic aberration bisa dengan mudah diatasi saat pengolahan gambar. Sedangkan distorsi barrel hanya sedikit di temukan pada lensa Canon 85 f/1.2L II ini.

Kelebihan Lensa Canon EF 85mm f/1.2L II USM


Pada lensa versi pertama dinilai tajam bahkan pada bukaan f/1.2 dan akan lebih tajam lagi jika aperture sedikit diperkecil. Begitu pula dengan Canon EF 85mm f/1.2L II USM yang sangat mirip dengan kualitas ketajaman lensa versi pertama.

Menggunakan 8 pisau melingkar (circular) dengan bukaan maksimal aperture f/1.2 , Canon EF 85mm  f/1.2L II menghasilkan intensitas blur yang menakjubkan untuk lensa kelas focal length 85mm. Hasilnya sangat menarik, elemen-elemen pengganggu pada background dapat dibuat "hilang" karena kuatnya blur yang dibentuk oleh lensa ini. Tapi perlu juga diingat bahwa lensa ini memiliki bukaan f/1.2, yang mana Anda harus menembak subjek manusia dari jauh untuk mendapatkan fokus yang layak di area wajah, khususnya mata. Karena bukaan f/1.2 sangat lebar untuk dekat dengan blur. Di bawah ini dua contoh gambar dari lensa Canon EF 85mm f/1.2L II USM pada bukaan maksimal f/1.2 (kanan) dan bukaan tersempit f/16 (kiri):

Image Credit © The-digital-picture.com

Tidak seperti pendahulunya, lensa Canon EF 85mm f / 1.2L II USM dapat memberikan informasi jarak dengan algoritma flash E-TTL II. Keuntungannya ini sangat berguna untuk fotografi flash, yang mana Anda dapat menggunakan parameter ini untuk perhitungan eksposur flash.

Kesimpulannya bahwa selain keuntungan aperture lebar untuk kondisi minim cahaya, Canon EF 85mm f/1.2L II USM unggul untuk fotografi portrait, bahkan Canon menyebutnya "definitive portraiture lens". Focal length 85mm dikombinasikan dengan bokeh yang sangat baik dan sangat cocok untuk fotografi portrait.

Spesifikasi Canon EF 85mm f/1.2L II USM


  • Dapat digunakan pada Canon  APS-C dan Full-frame
  • Focal length: 85mm
  • Rentang aperture: f/1.2 - f/16
  • Angle of View: 28°30' (Diagonal)
  • Konstruksi lensa: 8/7
  • Jumlah pisau aperture: 8 bilah (circular)
  • Tidak ada stabilizer (IS)
  • Jenis motor AF: Ultrasonic Motor (USM)
  • Ring fokus manual bisa rotasi penuh (FTM)
  • Tersedia jendela "Distance Scale"
  • Tersedia fokus "Infinity"
  • Jarak fokus minimum (MFD): 37.4"
  • Rasio pembesaran: 0.11x
  • Berat lensa + Hood: 35.8oz
  • Ukuran filter: 72mm
  • Elemen depan tidak dapat berputar
  • Kompatibel dengan Extension Tube
  • Tidak kompatibel dengan Extender
  • Tersedia Lens Hood

Sampel Gambar Canon EF 85mm f/1.2L II USM


Menggunakan Canon EOS 1Ds Mark III - 1/2000s | f/1.2 | ISO 100
Image Credit © The-digital-picture.com

Menggunakan Canon EOS 1Ds Mark III - 1/2000s | f/1.2 | ISO 160
Image Credit © The-digital-picture.com

Menggunakan Canon EOS 1Ds Mark III - 1/500s | f/1.4 | ISO 100
Image Credit © The-digital-picture.com

Menggunakan Canon EOS 1Ds Mark III - 1/320s | f/1.2 | ISO 100
Image Credit © The-digital-picture.com

Menggunakan Canon EOS 6D - 1/125s | f/1.2 | ISO 200
Image Credit © The-digital-picture.com

Sampel gambar di atas telah diperkecil dari sumbernya dan mungkin akan mempengaruhi kualitas gambar yang sebenarnya.
SELENGKAPNYA

Panduan Dasar Menggunakan Flash Eksternal Pada Kamera Canon


Sejauh ini para fotografer portrait di seluruh dunia secara tidak langsung mengkategorikan diri mereka ke dalam dua kelompok, fotografer yang mengandalkan cahaya alami (natural light) dan fotografer yang menggunakan bantuan lighting tambahan (flash, dll). Bukan hanya untuk memotret manusia, flash eksternal atau alat serupanya juga sangat dibutuhkan untuk memotret produk. Untungnya setiap kamera digital modern (termasuk smartphone) sudah dilengkapi flash internal dengan fungsi standar. Tapi untuk beberapa kasus, hanya mengandalkan flash internal tidak cukup. Oleh sebab itu fotografer kelompok ke dua di atas menggunakan beberapa unit flash untuk memaksimalkan hasil dengan permainan lighting.

Pada artikel kali ini saya hanya akan menulis panduan dasar menggunakan flash eksternal pada kamera Canon. Saya akan menjelaskan prosedur pengoperasian sistem flash Auto E-TTL dengan menggunakan kamera Canon EOS 600D dan flash Speedlite 430EX II. Fotografi flash eksternal dikatakan jauh lebih mudah selama Anda menguasai teori dasar dan peran fungsi dari kamera dan unit flash yang Anda gunakan. Karena pengoperasiannya bervariasi sesuai model flash yang digunakan, maka silahkan merujuk pada buku panduan kamera dan flash Anda untuk penjelasan yang lebih rinci. Berikut 10 panduan dasar menggunakan flash ekxternal:

1. Cara Memasang Flash Eksternal


Pada bagian atas kamera terdapat tempat dudukkan flash eksternal yang disebut "hot shoe". Semua kamera DSLR menyediakan hot shoe. Tapi ingat, flash harus dalam keadaan mati (off) ketika dipasang / dilepas dari kamera. Berikut panduan memasang flash ke dalam hot shoe:
  • Masukkan flash dengan cara menggeser kaki flash seluruhnya hingga masuk ke dalam hot shoe.
  • Geser tuas pengunci kaki flash (food lock) sampai terdengar bunyi "klik" sebagai indikasi bahwa unit flash telah terkunci. 
  • Silahkan hidupkan kamera Anda dan hidupkan juga flash. 
  • Untuk melepaskan flash dari hot shoe kamera, silahkan geser tuas ke arah yang berlawanan sambil menekan tombol pelepas kunci.


Perhatikan juga bahwa beterai yang digunakan dalam flash sebaiknya satu merk dan memiliki daya yang sama. Jangan gunakan baterai yang berbeda merk atau mencampur baterai lama dengan baterai baru. Jadi misalnya baterai flash Anda sudah mulai low, maka ganti semua baterai, jangan hanya setengahnya dan jangan berbeda merk. Selain itu perhatikan juga posisi positif (+) dan negatif (-) baterai ketika dimasukkan ke dalam flash.

2. Mengubah Pengaturan Flash Dalam Kamera


Pada kamera Canon yang memiliki nama menu Flash control, Flash function dan Custom Functions, speedlite eksternal dapat dengan mudah diatur ulang. Namun untuk menghindari kesalahan pengaturan maka lebih amannya untuk mengatur ulang settingan flash dari awal. Berikut panduan mereset pengaturan flash di kamera Canon:
  • Setelah flash eksternal dipasang pada kamera, silahkan pilih salah satu mode pemotretan seperti mode Program AE (P) atau mode lainnya.
  • Tekan tombol MENU pada kamera, lalu masuk ke menu tab Shooting menu atau Set-up menu
  • Setelah itu pilih Flash control, lalu pilih External flash function setting, kemudian tekan tombol INFO atau tombol DISP untuk memulai Clear Speedlite settings (mereset ulang pengaturan flash). 
  • Kemudian pilih OK. Jika Anda menggunakan Canon EOS 70D atau Canon EOS 700D, cari dan pilih menu Clear settings, kemudian pilih Clear external flash set pada layar yang akan ditampilkan berikutnya.

Mereset pengaturan flash

Setelah melakukan reset, selanjutnya silahkan mengatur ulang settingan flash kamera Anda. Berikut panduannya:
  • Dalam menu Flash control, pilih Clear external flash Custom Functions settings, kemudian pilih OK dan menekan tombol SET di layar untuk mengatur ulang pengaturan flash eksternal. Untuk EOS 70D dan EOS 700D, cari dan pilih menu Clear settings, kemudian pilih Clear external flash Custom Functions settings di layar yang ditampilkan berikutnya.

Mengatur ulang settingan flash

3. Mengatur Flash Mode


Pada menu Flash mode, silahkan pilih salah satu mode antara E-TTL atau Manual untuk mengontrol unit flash Anda. Pengaturan flash dapat disesuaikan pada kamera atau pada unit flash yang Anda gunakan. Berikut perbedaan dari dua mode tersebut:
  • E-TTL untuk cara mudah mengambil gambar dengan seluruh foto dalam eksposur standar (baca di sini penjelasan eksposur). Ini direkomendasikan untuk pemula.
  • Manual untuk fotografer flash level profesional, seperti memanfaatkan beberapa unit flash untuk menciptakan efek bayangan (shadow).
Setelah memilih flash mode, selanjutnya sesuaikan pengaturan pada unit flash yang digunakan. Berikut panduannya:
  • Pada flash eksternal tekan tombol MODE, lalu pilih "ETTL" jika Anda menggunakan mode E-TTL atau pilih "M" jika Anda menggunakan mode manual.

Menyusaikan pengaturan di flash

4. Menyesuaikan Flash Output Jika Menggunakan Flash Manual


Menu Flash output hanya akan tampil ketika Anda memilih Flash mode "Manual", bukan mode "E-TTL". Angka dalam menu Flash output diindikasikan sebagai berikut:
  • 1/1 untuk full output pada unit flash yang terpasang.
  • 1/2 untuk separuh flash output pada unit flash yang terpasang.
  • 1/4 untuk seperempat dari full flash output pada unit flash yang terpasang. 
Harap diperhatikan juga bahwa metode pada flash mode Manual ini berbeda dengan flash exposure compensation pada mode E-TTL. Untuk mengatur nilai Flash Output dalam kamera Anda, silahkan tekan dan tahan tombol SEL/SET sebentar, lalu pilih flash output dengan menggunakan tombol "+/-", lalu tekan lagi tombol SEL/SET untuk mengkonfirmasi pilihan Anda.


Cara di atas termasuk juga gambar panduan merupakan contoh untuk penggunaan Speedlite 430EX II. Bila Anda menggunakan Speedlite 600EX-RT atau Speedlite 580 EX II maka perlu dilengkapi lagi dengan mode Multi flash (lihat gambar di bawah).


Langkah-langkah untuk pengaturan multi-flash sama seperti pengaturan E-TTL dan mode flash Manual, dan keduanya dapat dilakukan pada kamera atau unit flash.

5. Memilih Mode Pemotretan


Singkatnya bahwa mode pemotretan ini adalah pilihan mode yang akan Anda gunakan untuk memotret, yang mana setiap mode memiliki cara kerja yang berbeda-beda. Saya tidak akan bicara banyak soal materi ini, karena sudah saya bahas pada artikel lainnya (silahkan baca di sini).

Dial Mode untuk merubah mode pemotretan

Yang perlu Anda ingat pada bagian ini bahwa apabila Anda memilih flash mode "E-TTL", maka Anda bisa menggunakan mode pemotretan apapun. Hanya saja kekurangannya yaitu flash compensation tidak aktif pada mode pemotretan Auto dan Scene Landscape (ditandai dengan icon pemandangan). Selain kedua mode pemotretan tersebut, flash compensation akan aktif termasuk pada mode Program (P), Aperture priority (Av) dan Shutter-priority (Tv).

Sebaliknya, jika Anda menggunakan flash mode "Manual", maka dianjurkan Anda menggunakan mode pemotretan Manual (M). Pada mode Manual (M) ini, nilai untuk aperture, shutter speed dan ISO bisa Anda tentukan sesuai kebutuhan Anda. Kemudian Anda dapat menyesuaikan flash output secara manual berdasarkan semua nilai-nilai tersebut.

6. Mengatur Mode Shutter Sync. (Synchronization)


Setelah menentukan mode pemotretan yang akan digunakan, langkah selanjutnya mengatur mode shutter sync. pada kamera Canon Anda. Silahkan pilih High-speed sync apabila shutter speed yang Anda inginkan lebih tinggi daripada kecepatan maksimum unit flash Anda saat menyinkronkan. Jika Anda ingin melakukan Long Exposure (baca di sini apa itu Long Exposure), Anda bisa memilih First curtain sync atau Second curtain sync. Berikut dua cara mengatur Shutter sync.:

1. Untuk mengganti mode Shutter sync. melalui kamera, silahkan pilih mode yang diinginkan dari menu Shutter sync. di dalam menu External flash func. settings (lihat gambar di bawah).


2. Sedangkan untuk mengatur Shutter sync. menggunakan unit flash, Anda cukup menekan tombol High-speed sync (FP flash) / Shutter-curtain synchronization. Jadi bila Anda ingin beralih mode dari high-speed sync ke shutter-curtain sync atau malah sebaliknya, Anda cukup menekan tombol tersebut (lihat gambar di bawah).


7. Menyusaikan ISO Dalam Fotografi Flash


Pengaturan ISO secara langsung akan mempengaruhi eksposur pada gambar. Nilai ISO dapat disesuaikan apabila hasil gambar ternyata lebih gelap daripada yang diperkirakan. Untuk pembahasan lengkap tentang ISO silahkan baca di sini artikelnya.


Perlu diingat bahwa ada sedikit perbedaan hasil kerja ISO ketika Anda melibatkan flash, baik itu flash internal maupun eksternal. Perhatikan gambar di atas, yang merupakan perbandingan dari penggunaan ISO rendah (100) dengan ISO tinggi (1600), yang dibidik menggunakan flash. Perhatikan juga bahwa background pada gambar kanan jauh lebih terang dibandingkan background pada gambar kiri. Tapi tingkat kecerahan "subjek bunga" pada kedua gambar berbeda sangat tipis. Artinya subjek utama tidak banyak berubah, sedangkan background mengalami banyak perubahan.

Kasus seperti ini hanya bisa Anda capai bila menembak menggunakan flash. Artinya perubahan ISO ketika menggunakan flash tidak mempengaruhi banyak kecerahan pada subjek yang terkena cahaya flash, karena kecerahan berada dalam kendali paparan cahaya flash. Tapi jika Anda "tidak" menggunakan flash, maka ISO setinggi 1600 dapat mencerahkan seluruh bagian dalam gambar kanan di atas, termasuk subjek bunga yang kecerahannya tidak lagi seperti yang ditunjukan dalam gambar tersebut (mungkin lebih cerah dari itu).

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk meratakan pencahayaan ketika menembak menggunakan flash, bisa dengan menyusaikan nilai ISO, agar kecerahan pada subjek yang terkena cahaya flash dengan background menjadi seimbang. Paling sering bagian background tidak dapat dijangkau oleh cahaya flash, sehingga ISO tinggi membantu mendongkrak kecerahan pada background agar seimbang dengan subjek yang terkena flash.

8. Mencerahkan Background Menggunakan Exposure Compensation


Tombol untuk mengatur Aperture (Av) dan Exposure Compensation (+/-)

Maksud dan tujuannya sama dengan pembahasan ISO di atas yaitu untuk menyeimbangkan kecerahan antara background dengan subjek yang terkena flash. Di atas saya menuliskan solusi dengan ISO bukan berarti tidak ada cara lain, bukan berarti kasus ini hanya bisa diselesaikan dengan mengatur ISO saja. Tapi karena ini panduan dasar maka sebaiknya Anda memulai dari materi yang mudah dikuasai. Cara lain bisa ditempuh sesuai dengan analisa fotografer, misalnya dengan menambah unit flash atau menggunakan exposure compensation. Adapun materi tentang exposure compensation ini juga sudah saya tulis terpisah pada artikel lainnya, silahkan simak di sini pembahasan lengkapnya.

9. Menentukan Kecerahan Subjek Menggunakan Flash Output


Untuk menyesuaikan kecerahan pada subjek yang terkena cahaya flash, bisa dengan menyesuaikan pengaturan flash output. Silahkan gunakan flash exposure compensation jika Anda menggunakan flash mode "E-TTL" (bukan flash mode Manual). Hanya flash output yang perlu Anda sesuikan selama menggunakan flash exposure compensation.

Ingat, pengaruh flash exposure compensation berbeda dengan exposure compensation, namanya hampir sama tapi apa yang dipengaruhi oleh kedua pengaturan ini berbeda. Jika exposure compensation digunakan sebagai solusi untuk mencerahkan background saat menggunakan flash, maka flash exposure compensation digunakan untuk menyusaikan kecerahan pada subjek yang terkena cahaya flash. Kedua pengaturan ini ditandai dengan icon yang juga hampir sama. Bila exposure compensation ditandai dengan icon "+/-", sedangkan flash exposure compensation ditandai dengan simbol "petir" dan "+/-", seperti yang ditunjukan oleh gambar sebelah kiri di bawah ini:

Mengatur flash exposure compensation

Untuk tombol navigasi model mid- dan high-spec, penyesuaian dilakukan dengan menekan tombol flash exposure compensation dan memutar Main Dial. Untuk kamera seperti Canon EOS 600D, tidak dilengkapi dengan tombol flash exposure compensation tapi bukan berarti pengaturannya tidak ada, Anda bisa mengkases pengaturannya dengan memilih icon flash exposure compensation dalam monitor LCD (lihat kembali gambar sebelah kiri di atas). Kemudian jika memilih flash mode "Manual", maka flash output dapat disesuaikan secara langsung.

Main Dial yang berbeda pada beberapa model DSLR Canon

Pada beberapa model unit flash seperti Speedlite 430EX II, Speedlite 580EX II, dan Speedlite 600EX-RT, pengaturan flash exposure compensation dapat juga disesuaikan dalam unit flash. Namun jika Anda melakukan hal itu, maka otoritas pengaturan dikendalikan oleh unit flash, dan kemampuan penyesuaian pada kamera akan hilang. Oleh sebab itu, dianjurkan agar sebaiknya menyesuaikan flash exposure compensation hanya melalui kamera.

10. Tips Menyusaikan Kepala Flash (Flash Head)


Kepala flash yang disebut "flash head" (istilah yang akan saya gunakan) bisa diputar untuk menyusaikan pencahayaan dari flash sesuai kebutuhan fotografer. Misalnya saja untuk mendapatkan pencahayaan yang lebih lembut pada subjek manusia, Anda bisa mengarahkan flash head pada dinding atau langit-langit yang kemudian direfleksikan ke wajah subjek. Tapi ingat, ada beberapa model unit flash yang menggunakan flash head permanen dan tidak dapat diputar.

Contoh flash head diputar ke kiri

Salah satu keuntungan memotret menggunakan flash memungkinkan untuk Anda mengambil bidikan percobaan sebanyak yang diinginkan. Apabila hasil bidikannya melenceng dari yang diperkirakan, cara tersingkat untuk memperbaikinya adalah mengulanginya sambil mengubah pengaturan seperti mode pemotretan, shutter sync., atau nilai ISO, seperti yang dijelaskan di atas sebelumnya.

Selain mengubah posisi flash head, Anda juga dapat menyusuaikan lebar jangkauan cahaya dari flash. Tidak semua unit flash bisa melakukan hal ini, tapi speedlite memungkinkan untuk penyesuaian lebar jangkauan cahaya flash. Berikut dua cara mengatur lebar jangkauan cahaya flash:
  • Bila melakukan pengaturan pada kamera, silahkan pilih Zoom pada menu External flash function settings, lalu tentukan jangkauannya dalam satuan "mm". Apabila memilih Auto pada kamera, jangkauan cahaya flash yang optimal akan secara otomatis dipilih untuk mengimbangi lensa yang digunakan, dan simbol M dari M Zoom tidak akan muncul pada monitor flash.
  • Bila Anda ingin mengaturnya melalui unit flash, tekan tombol Zoom, lalu pilih jangkaunnya menggunakan tombol +/-, kemudian tekan tombol SEL/SET.


Untuk Speedlite 320 EX dan Speedlite 270 EX II, perlu melakukan penyesuaian tambahan yaitu menarik keluar flash head secara manual.

Langkah-langkah di atas mungkin lumayan panjang. Tapi bila Anda menyimak dengan baik dan mengikuti petunjuk dengan benar, akan membantu Anda untuk memahami cara kerja fotografi menggunakan flash. Kemudian perbanyak latihan menembak menggunakan flash dengan melakukan beberapa penyusaian, baik itu pengaturan di kamera atau di unit flash, atau merubah posisi flash head dan mengatur jangkauan cahaya flash. Semoga artikel ini membantu Anda mengembangkan keahlian fotografi menggunakan flash eksternal.
SELENGKAPNYA

Memotret Landscape Melalui Bola Kaca

Dalam fotografi, ide kreatif itu sering kali datang ketika kita mencoba sesuatu yang baru, kemudian memotret adegan dengan teknik yang datang dari inspirasi saat itu. Membuat foto landscape dalam sebuah bola kaca adalah salah satu contoh ide yang lahir dari orang-orang kreatif, karena memungkinkan Anda untuk menangkap adegan nampak seperti fish-eye sekalipun menggunakan lensa tele.

Beberapa orang telah menunjukan karyanya dengan memanfaatkan bolah kaca. Saya pikir ini layak untuk dibagikan pada Anda semua, tentang bagaimana kita belajar fotografi kreatif. Dan teknik menggunakan bola kaca ini mudah untuk dicapai dengan beberapa langkah sederhana. Silahkan simak artikel ini sampai selesai.

Bagaimana cara mengambil foto pemandangan dengan bola kaca?


Untuk bagaimana cara mendapatkan foto pemandangan atau landscape yang baik dengan bola kaca, Anda perlu menerapkan beberapa aturan dasar, dan pemahaman tentang ilmu di lokasi pemotretan juga ikut membantu. Berikut ini adalah langkah-langkahnya yang dijelaskan dengan singkat:

  • Pilih adegan yang biasanya Anda foto menggunakan lensa wide-angle (sudut lebar).
  • Memotret adegan tersebut dengan posisi matahari di belakang Anda, agar matahari menerangi adegan.
  • Menempatkan bola pada tempat yang tidak membuatnya terjatuh / tergelincir.
  • Mulai menyusun adegan ke dalam bola kaca.
  • Pastikan garis cakrawala tampil dengan rapi dalam bola, perhatikan juga latar belakang (background).
  • Letakkan fokus kamera pada adegan dalam bola, cara yang terbaik melakukan ini dengan menggunakan Live View dan fokus manual (MF).
  • Gunakan nilai aperture sekitar f/4, karena itu akan menjaga ketajaman pada subjek bola dan latar belakang tetap dalam kondisi blur.
  • Mulai mengambil beberapa gambar, dan ulangi jika Anda tidak puas dengan ketajaman dalam bola.
  • Memutar (rotasi) gambar ketika gambar diolah (post-processing) sehingga adegan dalam bola tidak terbalik. Dalam beberapa kasus, Anda juga boleh melewatkan langkah ini.

Mungkin sekilas terlihat sangat mudah untuk bagaimana baiknya setiap adegan tampil dalam bola kaca. Hal itu tidak terjadi begitu saja, butuh analisis yang cermat ketika memilih adegan yang akan direfleksikan ke dalam bola. Kemudian hal yang paling penting untuk dilakukan adalah menemukan topik menarik sebagai Poin of Interest (POI) yang akan ditonjolkan dalam bola. Setelah Anda memiliki parameter dasar, silahkan Anda membuat konsep sesuai kreasi Anda, dengan menggunakan beberapa cara yang berbeda untuk menghasilkan gambar-gambar yang bervariasi. Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa Anda gunakan untuk membuat foto landscape dalam bola kaca.

1 - Komposisi klasik



Ini jenis komposisi bola mengisi sebagian besar frame dan seluruh tepi bola terlihat / tak ada yang terhalangi. Hal ini akan menyebabkan pemandangan dalam bola kaca memiliki dampak langsung ke mata pemirsa karena berada di depan area yang blur. Jenis gambar seperti ini yang paling mudah diambil menggunakan lensa makro atau lensa tele dengan aperture f/4 untuk menciptakan bokeh yang bagus di sekitar bola.

2 - Lebih dekat pada subjek bola



Semakin dekat dengan bola kaca akan menonjolkan adegan dalam bola, ini juga memerlukan framing yang akan memotong banyak atau sekitar 30% bagian dari bola. Menggunakan komposisi yang berpusat dengan bagian atas dan bawah bola juga dapat bekerja untuk cara ini. Ini memiliki keuntungan bahwa bagian atas dan bawah dari adegan tidak dapat dengan mudah disimpulkan. Komposisi lainnya mengikuti aturan pertiga (Rule of Thirds), dengan tepi bola menunjukkan pada kiri atau kanan dari gambar.

3 - Berikan bola lebih banyak ruang



Ada banyak cara untuk memotret dengan bola kaca, dan menggunakan lensa wide-angle dengan teknik ini bisa sangat efektif. Dalam hal ini, adegan pada latar belakang bisa menjadi minimalis dengan bola menjadi aksen dari lokasi Anda memotret. Adegan mungkin menjadi tidak bagus bila dirotasi seperti yang direkomendasikan di atas sebelumnya, sehingga sebaiknya Anda mengekspose dengan baik adegan di latar belakang. Kesimpulannya bahwa adegan dalam bola maupun adegan di latar belakang harus menunjukan sebuah komposisi yang seimbang.

4 - Mengambil objek dari ketinggian



Sudut pandang yang tinggi untuk gambar bola kaca juga bekerja dengan baik. Mencari akses untuk memotret bangunan tinggi yang menghadap ke kota atau mendaki bukit, kedua pilihan tersebut sama baiknya dan layak dicoba. Setelah menemukan sudut pandang yang tinggi, cari posisi yang bagus untuk merefleksikan adegan ke dalam bola, yang bisa menunjukan puncak dari objek. Pastikan bola tidak jatuh atau tergelincir, berhati-hati dengan posisi seperti ini.

5 - Jangan lupa pemandangan dari bawa ke atas




Cara kreatif lainnya Anda bisa menempatkan bola di lantai / tanah sehingga setengah adegan akan diambil oleh area lantai. Bisa juga dengan memotret puncak bangunan dari bawah dengan posisi kamera berada di bawah bola, seperti yang ditunjukan gambar pertama di atas. Beberapa orang mengatakan ada beberapa situasi yang benar-benar bekerja dengan baik ketika menempatkan bola kaca di tanah, seperti ada refleksi dalam adegan dari permukaan tanah atau genangan air. Tanah merupakan elemen menarik untuk konsep foto seperti ini, atau bisa juga Anda menempatkan bola di atas tumpukan daun.

6 - Melibatkan unsur manusia



Pemandangan dalam bola kaca mungkin tidak selalu cocok untuk memasukkan elemen manusia di dalamnya. Latar belakang yang blur mungkin juga terlihat kurang menarik jika ada subjek manusia di dalam bola. Ada beberapa cara untuk mengakali hal ini, dengan tetap mempertahankan nuansa minimalis.


Misalnya gunakan tengan seseorang untuk memegang bola yang mana dalam bola tersebut terdapat adegan landscape. Atau sebaliknya, menempatkan subjek manusia dalam bola dan perlihatkan sebagian unsur alam di sekitar bola. Cara ini akan membuat seluruh adegan menjadi seimbang yang terdiri dari unsur manusia dan alam. Anda pastinya tidak menginginkan gambar yang monoton, seperti hanya menempatkan bola di depan background yang seluruhnya blur, itu terlalu biasa.

Di mana sebaiknya Anda mencoba teknik ini?


Lokasi landscape yang umum dapat bekerja dengan baik untuk gambar menggunakan bola kaca. Selain itu, cobalah memilih objek gedung-gedung tinggi di dalam kota atau aktivitas dari jalan yang ditembak dari ketinggian. Sedangkan area pantai atau padang pasir adalah lokasi yang memiliki kesan minimalis dan juga cocok untuk kreasi foto bola kaca.

Foto sunset di pantai dengan bola kaca adalah salah satu hal klasik dalam kreasi fotografi seperti ini. Pegunungan dan hutan adalah pilihan lokasi lainnya yang juga bagus untuk foto bola kaca. Intinya, Anda perlu menemukan lokasi yang menurut Anda bisa direfleksikan dengan baik ke dalam bola. Namun jangan lupa, akan lebih baik lagi jika Anda menemukan Point of Interest (POI) dari lokasi yang Anda pilih, yang bisa menonjolkan adegan landscape dalam bola kaca.
SELENGKAPNYA

Tutorial Fotografi Panorama Menggunakan DSLR

Saya menulis tutorial ini bagi mereka yang ingin belajar tentang fotografi panorama dan bagaimana cara memotret dan menjahit panorama menggunakan sebuah point. Teknik ini terdiri dari dua bagian. Pertama, memotret beberapa adegan menggunakan kamera, lalu kedua, menggunakan software khusus untuk menyelaraskan dan menjahit semua gambar untuk membentuk satu gambar panorama. Saya akan mencoba menunjukkan cara untuk membuat gambar panorama yang menakjubkan dari suatu objek termasuk landscape.


Mungkin Anda pernah berdiri di atas sebuah bukit atau semacam outlook dan menikmati pemandangan yang indah mulai dari kiri ke kanan, membuat Anda memindahkan kepala hanya untuk melihat semua adegan yang ada? Jika Anda memiliki salah satu momen seperti itu, saya yakin Anda benar-benar berharap ingin mengabadikan keindahan yang Anda saksikan menggunakan kamera digital. Sementara beberapa kamera modern memiliki kemampuan merekam video dan Anda pasti bisa menangkap seluruh adegan melalui video. Tapi bagaimana jika Anda ingin merekamnya dalam sebuah gambar? Kabar baiknya adalah bahwa teknologi saat ini memungkinkan kita untuk menangkap adegan tersebut melalui teknik fotografi panorama.

Apa Itu Fotografi Panorama?


Fotografi panorama juga dikenal sebagai "fotografi format lebar", adalah teknik khusus yang menjahit beberapa gambar yang dihasilkan oleh kamera yang sama, kemudian gambar-gambar tersebut digabung untuk membentuk satu foto lebar (vertikal atau horizontal). Istilah "panorama" secara harfiah berarti "melihat semua", dan pertama kali berasal dari pelukis yang ingin menangkap pandangan yang luas dari landscape.

Foto-foto panorama pertama dibuat dengan hanya menyelaraskan hasil cetak film yang tidak berubah dengan sangat baik, karena itu hampir tidak mungkin untuk sempurna menyelaraskan beberapa foto. Dengan penemuan komputasi personal, kemajuan dalam perangkat lunak komputer dan fotografi digital, sekarang jauh lebih mudah untuk menggabungkan beberapa gambar digital bersama-sama menggunakan software khusus. Bahkan, menggunakan teknik fotografi yang tepat dan peralatan panorama, sekarang mungkin untuk membuat panorama hampir sempurna pada resolusi yang sangat tinggi. Beberapa fotografer bahkan menjahit ratusan gambar resolusi tinggi untuk membuat panorama "gigapixel" raksasa. Hari ini, fotografi panorama digital yang cukup populer dan umum tidak hanya di kalangan fotografer landscape, tetapi juga di kalangan arsitektur dan fotografer cityscape.


Fotografi panorama bisa menjadi cukup kompleks dan mahal, tergantung pada apa yang Anda coba lakukan. Misalnya, menciptakan gambar panorama dalam fotografi arsitektur membutuhkan kamera dan lensa yang harus dikalibrasi pada peralatan panorama khusus, untuk mencegah garis lengkung, distorsi dan jahitan yang tidak tepat pada objek dekat. Akan tetapi Anda masih dapat berhasil mengambil gambar panorama landscape besar tanpa harus investasi pada peralatan kamera, asalkan Anda tahu bagaimana melakukannya dengan benar. Pada artikel ini, saya akan fokus pada mengambil gambar panorama baik mengandalkan genggaman tangan atau dengan bantuan tripod, tanpa harus menghabiskan anggaran pada setiap peralatan tambahan.

Jenis Foto Panorama


Sedangkan kata "panorama" secara otomatis mengasumsikan bahwa itu akan menjadi gambar lebar horizontal atau vertikal. Menurut pendapat saya, tidak harus selalu seperti itu. Jika saya menjahit beberapa gambar bersama-sama dan ternyata masih seperti gambar persegi, saya masih menganggap itu sebagai gambar panorama resolusi tinggi. Berikut adalah bagaimana saya mendefinisikan gambar panorama:

1) Wide Angle Panorama - sesuatu yang tampak seperti foto sudut lebar, yang mencakup kurang dari 180 derajat, entah itu horizontal atau vertikal. Panorama sudut lebar bahkan dapat terlihat seperti gambar biasa, kecuali mereka dijahit dengan tambahan beberapa foto lagi dan karena itu ia akan memiliki resolusi lebih.


2) 180 Degree Panorama - ini panorama yang mencakup 180 derajat dari kiri ke kanan. Jenis panorama ini terlihat sangat lebar, meliputi area yang luas.


3) 360 Degree Panorama - untuk panorama yang satu ini mencakup hingga 360 derajat. Jenis panorama ini terlihat lebih luas lagi dan meliputi seluruh adegan dalam satu gambar super lebar.


4) Spherical Panorama - juga dikenal sebagai "planets". Ini adalah panorama 360 derajat yang dikonversi ke gambar bola menggunakan teknik post-processing khusus.


Bagaimana Cara Memotret Panorama?


Sekarang mari kita membahas pokoknya, bagaimana cara Anda menangkap gambar yang akan digunakan untuk membuat panorama? Di sini saya menuliskan dua cara untuk menangkap gambar panorama:

1. Mengambil Gambar Horizontal - metode yang mudah dan cepat untuk membuat panorama, di mana resolusi tidak begitu penting. Berikut adalah contoh panorama yang terdiri dari dua gambar horizontal:


2. Mengambil Gambar Vertikal - cara yang lebih disukai untuk menangkap panorama. Gambar vertikal menangkap lebih banyak area langit dan tanah, sehingga menghasilkan panorama resolusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang horizontal. Berikut adalah empat tembakan vertikal yang kemudian dijahit menjadi satu foto panorama:


Saya pribadi mencoba menghindari menembak secara horizontal, karena khawatir kehilangan terlalu banyak resolusi akibat terjadi beberapa cropping yang diperlukan setelah panorama dijahit melalui software khusus. Panorama vertikal jauh lebih baik dalam hal itu dan mereka selalu menghasilkan resolusi yang lebih baik daripada panorama horizontal.

Coba Anda lihat kembali dua contoh gambar panorama di atas, semua gambar saling tumpang tindih sekitar 50%. Cara tersebut agar software apapun yang digunakan untuk menjahit gambar-gambar panorama, harus saling tumpang tindih dengan margin tertentu, sehingga poin keselarasan diidentifikasi dengan benar. Poin keselarasan berfungsi sebagai flag untuk algoritma jahitan yang mulus menggabungkan gambar dan memotong sisa gambar. Margin tumpang tindih adalah subjek dari opini dan sementara beberapa orang merekomendasikan 20-30% tumpang tindih, saya pribadi melakukannya dengan sekitar 50%.

Peralatan Kamera


  1. Kamera Digital - sejauh kemampuan kamera itu sendiri, kamera apapun harus bekerja dengan baik selama eksposur (aperture, shutter speed dan ISO) dapat dikunci. Idealnya, Anda membutuhkan sebuah kamera digital yang dapat menembak dalam mode Manual (M) penuh (lebih disarankan DSLR).
  2. Lensa - Saya menemukan lensa zoom yang paling berguna untuk fotografi panorama. Anda juga bisa memotret panorama dengan lensa fix / prime, tapi lensa zoom akan memberi Anda lebih banyak pilihan dan fleksibilitas, terutama dalam kondisi sulit di mana gerakan Anda terbatas. Jika Anda memiliki DSLR, setiap lensa zoom wide seperti 18-55mm atau 18-200mm bisa bekerja dengan baik untuk fotografi panorama.
  3. Filter Lensa - Saya sarankan Anda melepas filter dari lensa saat memotret panorama. Boleh saja Anda menggunakan filter selama itu tidak menimbulkan vignette apapun pada gambar (baca di sini apa itu vignette). Pastikan menghindari filter Circular Polarizing, karena filter itu akan mengacaukan langit pada gambar. Berikut ini adalah contoh panorama yang buruk karena filter:


  4. Tripod - keperluan tripod di sini adalah opsional, tetapi sangat dianjurkan untuk hasil terbaik. Baiknya gunakan tripod kokoh dan pastikan bahwa kepala cukup fleksibel untuk Anda melakukan pan dari kiri ke kanan dengan mudah.
  5. Panoramic Setup - setup panorama penuh sangat ideal untuk hasil terbaik, tapi itu sangat mahal ($500 +). Tidak dianjurkan untuk pemula karena kompleksitas penggunaan, tetapi itu yang harus dimiliki bagi para profesional yang ingin menjual gambar mereka.

Pengaturan Kamera


Sebelum Anda mulai mengambil gambar panorama, Anda harus mengubah beberapa pengaturan pada kamera Anda. Berikut adalah apa yang saya sarankan untuk mengatur kamera Anda:

  • Menembak dalam Mode "Manual (M)" - hal yang paling penting dalam panorama adalah konsistensi eksposur. Artinya gambar Anda harus memiliki eksposur yang sama. Jika kamera Anda bisa mengunci eksposur, Anda boleh menembak menggunakan mode pemotretan lain (baca di sini apa itu AE Lock). Tapi saya sarankan untuk menembak dalam mode Manual untuk mencegah kemungkinan buruk. Saya telah mengacaukan banyak panorama, dengan asumsi bahwa cara saya sudah benar ketika berharap pada Auto Exposure Lock (AE Lock), setelah itu saya mulai menembak secara eksklusif dalam mode Manual untuk mengambil bahan panorama yang lebih baik.
  • Set lensa Anda untuk Fokus Manual (MF) - akan lebih baik lagi jika lensa Anda memiliki fokus infinity (tak terhingga) agar Anda bisa melakukan fokus dengan baik pada objek yang jauh. Tapi yang terpenting di sini beralih ke fokus manual (MF) bukan autofocus (AF), agar lensa kamera tidak mengubah fokus setiap kali Anda mengambil gambar. 
  • ISO - jangan gunakan "Auto ISO", sebaiknya mengatur ISO pada nilai standar, entah itu 100 atau 200.
  • Aperture dan Shutter Speed - untuk gambar panorama, Anda akan menginginkan segalanya dalam keadaan fokus dengan baik. Oleh karena itu, pastikan bahwa Anda mengatur aperture pada bukaan yang diperkirakan dapat membuat fokus segala sesuatu dalam adegan termasuk elemen foreground. Tergantung juga pada focal length lensa, Anda bisa mengatur aperture untuk setidaknya f/8, tapi dianjurkan f/10 atau lebih tinggi (tergantung pada seberapa dekat subek paling dekat dengan kamera Anda). Setelah Anda mengatur aperture dengan tepat, selanjutnya silahkan mengatur shutter speed berdasarkan pembacaan metering seperti yang dijelaskan di bawah ini.
  • Metering - dalam hal ini metering bukan hanya berprioritas pada pengukuran area terang atau gelap dari adegan, melainkan mencoba untuk menemukan sesuatu yang manis di area tengah, lalu mengatur shutter speed berdasarkan area tengah tersebut untuk seluruh panorama. Cobalah mengambil beberapa gambar untuk memastikan bahwa gambar tidak terlalu terang atau terlalu gelap (baca di sini tentang metering).
  • Focal Length Lensa - lensa wide dan ultra-wide di bawah 24-28mm pada sensor full-frame dan 16-18mm pada crop-sensor biasanya memiliki masalah distorsi dan vignetting yang berat, yang dapat membuat sulit untuk menyelaraskan dan menjahit gambar dengan benar. Biasanya, focal length yang saya gunakan untuk melakukan panorama adalah antara 28mm s/d 50mm pada body full-frame dan 18mm s/d 35mm pada body crop-sensor.
  • Gunakan Format Gambar RAW - Saya selalu merekomendasikan untuk menembak dengan format RAW untuk hasil terbaik. Lihat artikel saya perbandingan RAW vs JPEG (baca di sini) untuk melihat mengapa Anda harus menembak dengan format RAW.
  • White Balance (WB) - ini yang tidak boleh dilupakan. Jika Anda menjatuhkan pilihan untuk menggunakan RAW maka untuk pengaturan White Balance gunakan "Auto". Sehingga jika ada perbedaan WB pada beberapa gambar masih bisa diperbaiki saat pengolahan gambar RAW. Sebaliknya, apabila Anda menggunakan JPEG maka tentukan dari awal WB yang akan digunakan dan WB harus konsisten pada semua gambar.

Teknik Memotret Panorama


Mari kita lanjutkan ke bagian yang menyenangkan, memulai menembak panorama. Setelah Anda memiliki setup peralatan dan siap untuk menuju ke lokasi, perhatikan petunjuk berikut:

  1. Mengidentifikasi area yang ingin Anda foto. Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengidentifikasi apa yang Anda ingin tangkap. Cara menemukan kandidat terbaik untuk foto panorama yaitu berdiri di atas gunung atau bukit, atau melihat ke bawah dari daerah ketinggian tanpa ada subjek lainnya di dekat kamera Anda. Hindari menembak panorama dengan pohon-pohon, semak-semak dan benda-benda lainnya di latar depan (foreground), kecuali jika Anda memiliki peralatan panorama khusus yang dikalibrasi. Jika Anda memotret adegan yang jauh dari Anda, panorama akan menjahit sempurna, karena software tidak akan harus berurusan dengan kesalahan paralaks (parallax error).
  2. Perhatikan angin dan benda bergerak lainnya. Angin dapat memindahkan daun pohon, rumput, air dan pasir di arah yang berbeda, yang akan merusak panorama Anda. Hanya menembak dalam kondisi berangin ketika angin kuat bergerak semuanya dalam satu arah. Hindari mengambil gambar bergerak dari gelombang air.
  3. Jika Anda akan menggunakan tripod, maka dirikan tripod pada permukaan yang rata. Penjepit kamera pada tripod harus dikencangkan. Pastikan bahwa Anda bebas menggeser kamera dari satu sisi ke sisi lainnya tanpa ada terjadi pergeseran sudut. Cobalah untuk melihat kesalahan dari keselarasan gambar dengan mencocokkan garis dalam Live View dengan garis cakrawala (horizon).
  4. Jika menembak dengan hanya mengandalkan genggaman tangan, maka jaga kamera dekat dengan mata Anda dan melihat melalui viewfinder bukan lagi melalui LCD. Lakukan pan dari kiri ke kanan dan melihat apakah Anda dapat menjaga kamera lurus dan sejajar terhadap cakrawala. 
  5. Perhatikan titik awal dan titik akhir saat Anda akan memotret. Tapi sebaiknya awali dengan mengambil gambar tunggal untuk memastikan apakah gambar sudah terlihat baik. Jika gambar terlihat buruk, coba periksa pengaturan eksposur Anda dan melakukan perubahan jika diperlukan.
  6. Arahkan kamera ke titik awal di sebelah kiri dan mengambil gambar pertama. Sebelum Anda memindahkan kamera, ingat menunjuk ke area mana titik fokus tengah dalam viewfinder, kemudian mulai menggerakkan kamera ke kanan, sampai di tepi tengah frame. Ini pada dasarnya berarti Anda akan melakukan tumpang tindih gambar baru dengan gambar pertama sekitar 50%. Mengambil gambar dan ulangi proses ini sampai ke titik akhir. Mengingat di mana titik fokus tengah menunjuk area mana adalah cara termudah dan paling aman bagi saya untuk memastikan bahwa gambar tumpang tindih tersebut telah cukup untuk dijahit dengan baik.
  7. Setelah selesai mengambil gambar, coba periksa semua gambar untuk memastikan tidak ada kesalahan. Setidaknya Anda bisa membayangkan bahwa gambar-gambar tersebut akan menghasilkan panorama yang baik.


Cara termudah dan tercepat membuat panorama dapat dilakukan dengan mengandalkan genggaman tangan. Percaya atau tidak sebagian besar panorama saya selesai di genggam, tanpa tripod. Hasilnya mungkin tidak sesempurna menggunakan tripod dan saya ingin mereka berada di beberapa kasus, tetapi hasilnya masih cukup baik untuk dicetak di atas kertas besar.

Menggunakan Panoramic Head


Jika Anda ingin serius dengan panorama, Anda harus memiliki Panoramic Setup yang baik, yang akan memungkinkan Anda untuk mengambil gambar tanpa khawatir tentang masalah paralaks. Ada banyak solusi yang berbeda di luar sana dan yang paling populer adalah dengan Nodal Ninja, Manfrotto dan RRS yang terakhir menjadi pilihan nomor satu untuk profesional. Dengan menggunakan Panoramic Head yang baik, Anda dapat memiliki setup kamera berputar di sekitar pupil masuk lensa dan mengambil sempurna baris tunggal atau multi-baris panorama yang akan dijahit tanpa masalah.

Menjahit Panorama Dengan Software


Setelah Anda selesai mengambil gambar, maka Anda perlu menjahit semua gambar tersebut menggunakan software khusus yang mampu membuat panorama. Saya hanya akan menunjukkan bagaimana menggunakan software Photoshop dan PTGui, tetapi Anda juga bisa mencoba alat panorama lainnya (jika Anda tahu cara menggunakannya).

1# Membuat panorama dengan Photoshop

Menjahit panorama di Photoshop sangat mudah. Silahkan klik "File" pada menu atas, kemudian pilih "Automate" -> "Photomerge..". Jika Anda menggunakan Lightroom, cukup pilih gambar dan kemudian klik kanan, lalu pilih "Edit In" -> "Merge to Panorama in Photoshop..". Entah itu melalui Lightroom ataupun langsung di Photoshop, setelah melakukan salah satu langkah di atas maka sebuah kotak dialog akan muncul yang terlihat seperti ini:


Gambar akan otomatis muncul jika Anda menggunakan Lightroom. Tapi jika Anda melakukannya dari Photoshop, cukup klik tombol "Browse" dan pilih gambar yang akan digabung menjadi panorama. Pastikan untuk menceklis "Blend Images Together" dan "Geometric Distortion Correction" lalu klik "OK". Selanjutnya software akan memulai proses jahitan, yang kadang-kadang dapat memakan waktu yang lama, tergantung pada jumlah dan ukuran gambar. Setelah proses itu selesai, yang harus Anda lakukan adalah melakukan cropping untuk merapikan gambar.

2# Membuat panorama dengan PTGui

Selain Photoshop, ada banyak alat panorama yang berbeda di luar sana, salah satu yang populer di antaranya adalah PTGui. Saya telah menggunakannya selama bertahun-tahun dan saya benar-benar menyukainya, meskipun saya harus mengakui bahwa Photoshop melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk jahitan panorama yang bermasalah. Setelah Anda membuka PTGui, klik tombol "Load gambar..", kemudian pilih gambar yang ingin digabung lalu klik "Open" untuk membuka gambar dalam PTGui. Setelah gambar terisi penuh, klik tombol "Align images.." dan biarkan PTGui menghitung titik penghubung. Setelah proses selesai, Anda akan melihat jendela baru yang terlihat seperti ini:


Pilih proyeksi yang tepat untuk panorama Anda kemudian kembali ke layar utama dan klik tombol "Create Panorama..", selanjutnya Anda akan dibawa ke tab terpisah. Silahkan mengatur ukuran yang tepat dan juga format gambarnya, lalu klik tombol "Create Panorama" untuk memulai proses menjahit.

PTGui memiliki lebih banyak pilihan jahitan daripada Photoshop dan Anda dapat menyesuaikan apa pun cukup banyak, bahkan mengatur secara manual titik kontrol dan memilih berbagai algoritma jahitan.

Tantangan Fotografi Panorama


Tantangan terbesar dalam fotografi panorama adalah masalah jahitan yang disebabkan oleh kesalahan paralaks. Saya sangat merekomendasikan Anda membaca artikel mengenai paralaks di Wikipedia untuk memahami mengapa hal itu bisa menimbulkan masalah besar untuk fotografi. Setelah Anda mempelajari cara yang tepat untuk mengambil gambar dengan meminimalkan paralaks, Anda dapat mulai mengambil gambar panorama dengan lebih baik lagi. Tentunya, latihan juga diperlukan di sini untuk hasil yang lebih maksimal.

BACA JUGA: Tips Membentuk Distorsi Perspektif Pada Foto Landscape
SELENGKAPNYA
KELAS FOTOGRAFI

Kami mendeteksi Adblock Anda sedang aktif.
Kemungkinan ada bagian artikel yang hilang.
Apakah Anda menggunakan UC Browser?
Mohon non-aktifkan Adblock di browser Anda atau gunakan browser selain UC Browser.
Kami rekomendasikan Anda menggunakan Google Chrome untuk tampilan laman yang lebih baik.

[ Lihat Cara Non-Aktifkan Adblock ]
TUTUP BOX INI