MOHON AKTIFKAN JAVASCRIPT ANDA!
[KLIK DI SINI PETUNJUKNYA]

Menggunakan Filter GND Untuk Fotografi Landscape

Sejak kamera diciptakan, produsen telah mencoba meniru salah satu keajaiban terbesar dari tubuh kita yaitu "mata". Tapi sehebat apapun teknologi kamera, tentu tidak dapat menyamai kemampuan mata manusia. Mengapa? Karena di dalam penglihatan spektrum mata Anda akan melihat jauh lebih baik ketimbang yang ditangkap oleh kamera.

Image credit © Francesco Gola

Dinamic Range


Parameter yang menggambarkan perilaku di atas disebut Dynamic Range. Ini pada dasarnya mendefinisikan perbedaan antara nilai minimum dan maksimum kecerahan yang mampu direkam oleh sebuah perangkat (seperti mata atau sensor kamera). Dalam dunia nyata, Dynamic Range mendefinisikan kemampuan kamera Anda untuk melihat rincian di area yang sangat gelap dan area sangat terang dari adegan. Jika Anda bertanya-tanya sebesar apa kemampuan mata Anda melihat bila dibandingkan dengan daya tangkap kamera? Mata manusia dapat melihat sekitar dua kali lipat jangkauan daripada yang ditangkap oleh kamera.

Masalah


Itulah sebabnya ketika Anda melihat matahari terbenam (sunset) yang luar biasa dengan mata telanjang, Anda dapat melihat semua rincian dalam adegan, baik di langit maupun di tanah. Tapi ketika Anda mencoba menangkap adegan tersebut dengan kamera, maka Anda akan mendapatkan langit mengalami kelebihan cahaya (overexposed) atau latar depan kurang terang (underexposed). Pada kondisi seperti itu, Dynamic Range kamera Anda hanya mampu menangkap detail di salah satu area, sehingga Anda harus memilih antara over atau under. Hal tersebut lumrah bagi teknologi kamera, bahkan jika Anda menggunakan kamera terbaik yang memiliki Dynamic Range setengah dari kemampuan mata manusia.

Image credit © Francesco Gola

Lantas bagaimana caranya untuk menembak matahari terbenam atau terbit yang indah dan menangkap semua detailnya yang luar biasa? Mungkin ada berbagai metode untuk mengatasi masalah ini termasuk post-processing, tetapi cara favorit para fotografer landscape adalah menggunakan bantuan filter Graduated Neutral Density (GND).

Apa itu filter GND?


Pada dasarnya filter GND mengambil fungsi dari filter Neutral Density (ND), hanya saja pada filter GND memiliki dua bagian yang berbeda yaitu bagian yang gelap (ND) dan bagian yang transparan. Bagian yang gelap berguna untuk mereduksi / blok cahaya, sedangkan bagian yang transparan tidak mempengaruhi hasil gambar. Dengan filter GND ini kita dapat mengatasi masalah perbedaan eksposur pada kasus matahari terbenam yang saya katakan di atas. Karena elemen gelap dari filter GND dapat disesuaikan pada area yang terang dari adegan, kemudian kita hanya perlu mengatur kamera untuk mendapatkan pencahayaan yang cukup pada area yang gelap. Dengan demikian memungkinkan kamera Anda untuk secara bersamaan menangkap detail di kedua area terang dan gelap. Untuk lebih mudah dipahami analogi dari fungsi filter GND ini sama seperti ketika Anda menggunakan kacamata hitam.

Image credit © Francesco Gola

Perlu diingat juga bahwa filter GND tidak membantu Anda menghasilkan gambar adegan yang sama persis dengan apa yang Anda lihat dengan mata Anda, melainkan hanya membantu Anda untuk setidaknya mendapatkan rincian dari adegan dan dapat juga digunakan untuk berkreasi dengan gambar-gambar Anda. Tentu saja pengetahuan teknis dibutuhkan di sini, utamanya eksposur dan semua pengetahuan yang terlibat dengannya.

Tipe Fiter GND


Filter Graduated Neutral Density (GND) umumnya dibedakan oleh tipe transisi yang ada di antara bagian yang gelap dengan bagian yang transparan dari filter. Adapun tiga tipe filter GND yaitu Hard-Edge, Soft-Edge dan Reverse.

  1. Hard-Edge ditandai dengan batas yang jelas antara bagian yang gelap dan yang transparan. Oleh karena itu jenis filter GND ini digunakan ketika pemisahan antara area terang dan gelap pada adegan sangat didefinisikan, seperti horizon pada objek laut.
  2. Soft-Edge ditandai dengan transisi yang lembut (mereka berubah dari terang ke gelap secara bertahap) dan karena itu digunakan saat transisi antara daerah terang dan gelap tidak begitu jelas. Sebuah contoh klasik adalah menembak di daerah pegunungan.
  3. Reverse memiliki karakter yang tidak jauh berbeda dari GND Hard-Edge dengan area gelap yang semakin memudar ketika Anda bergerak dari garis pemisahan ke tepi filter. Artinya ini akan lebih gelap di bagian tengah daripada di tepi filter. Pada dasarnya, mereka diciptakan untuk lebih baik mengelola subjek matahari terbit atau matahari terbenam, di mana cahaya lebih intens pada garis horizon (tengah). Jika Anda menyukai adegan laut yang terbentang luas, maka filter ini akan menjadi salah satu teman terbaik Anda.


Cara Menggunakan Filter GND


Penggunaan GND filter saat memotret landscape sangat sederhana. Pertama Anda harus menganalisa eksposur dari area yang gelap dan terang dari adegan (biasanya langit). Perbedaan eksposur tersebut akan menjadi indikator untuk kelas filter GND yang akan digunakan. Mari kita berasumsi bahwa pembacaan light meter untuk objek langit menghasilkan nilai shutter speed 1/250s, sedangkan pada objek tanah adalah 1/30s. Perbedaan antara pembacaan adalah 3-stop (250> 125> 60> 30), sehingga untuk menyeimbangkan eksposur Anda harus menggunakan filter GND yang memiliki kemampuan 0,9 (3-stop). Kemudian untuk melihat perbedaan eksposur tersebut gunakan mode pemotretan Shutter Priority (simbol Tv pada Canon dan S pada Nikon) dan jangan gunakan mode Manual (M). Rumit ya? Itulah saya katakan bahwa pengetahuan teknis diperlukan di sini. Berikut dua artikel yang Anda butuhkan untuk melengkapi pembahasan ini:


Selanjutnya pastikan bahwa ukuran filter GND yang Anda gunakan sesuai dengan elemen depan lensa. Ketika filter dipasang usahakan Anda memposisikan bagian gelap filter selaras dengan adegan yang terang. Tapi itu sulit jika Anda menggunakan filter GND jenis "drop-in", kecuali Anda menggunakan jenis filter yang menggunakan "holder" yang memungkinkan Anda menyusaikan filter dengan mudah.


Keuntungan lain menggunakan filter GND dengan holder Anda tidak harus memegang filter dengan tangan Anda (yang bisa menjadi masalah jika Anda akan menggunakannya bersama-sama dengan filter jenis lainnya). Karena satu holder biasanya dapat memuat lebih dari satu filter. Ada banyak jenis holder dan sebagai rekomendasi Anda bisa menggunakan holder V5 Pro oleh Nisi. Ini salah satu jenis holder yang baik, yang memungkinkan Anda secara bersamaan memasang tiga filter yang berbeda dan polarizer tanpa khawatir masalah vignetting (selebar 16mm pada kamera full frame).

Image credit © Francesco Gola

Semoga pembahasan filter GND di atas mudah dipahami. Sedangkan ulasan jenis-jenis filter lainnya untuk lensa kamera silahkan Anda baca di sini artikelnya.
SELENGKAPNYA

Memperbaiki Foto Kualitas Rendah Dengan Lightroom


Tutorial ini merupakan salah satu cara yang sering saya lakukan ketika memperbaiki foto kualitas rendah seperti gambar yang penuh noise (bintik-bintik seperti pasir), foto yang diambil menggunakan kamera ponsel atau kamera saku, atau foto yang bersumber dari Facebook. Ketika Anda mengunggah foto di Facebook secara otomatis foto akan dikompres dan mengalami penurunan kualitas pada detailnya. Kita yang sering mengunggah foto di media sosial, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti akan membutuhkan kembali foto tersebut. Nah, cara ini bisa Anda gunakan untuk memperbaiki foto low-quality lalu menggunggahnya kembali dengan tampilan yang lebih baik dan bebas noise, entah itu di Facebook, Instagram, dll.

Cara ini sering saya gunakan sebagai pengeditan ringan pada gambar-gambar saya yang menggunakan kamera ponsel. Dalam tutorial ini saya menggunakan Adobe Lightroom. Anda juga bisa menggunakan Photoshop yang memiliki "Camera RAW". Karena tools dalam Camera RAW mirip dengan tools yang ada pada Lightroom. Baik, silahkan simak panduannya pada video dibawah ini:



CATATAN:

  • Untuk Temp Anda bisa menggunakan nilai "0". Semakin naik (+) nilainya maka temperatur gambar mengarah ke kuning. Dan temperatur kuning akan sedikit menaikkan pencahayaan sekaligus melembutkan kulit subjek. Jika temperatur gambar Anda sangat kuat di warna kuning, sebaiknya gunakan saja nilai "0".
  • Untuk Highlights Anda bisa menguranginya bahkan lebih kurang dari nilai yang saya gunakan jika memang gambar terlalu over cahaya. Sebaiknya pertimbangkan apa yang ditampilkan oleh Histogram. Pelajari cara menganalisa Histogram (baca di sini) agar Anda paham apa itu Highlight dan Shadow. Saya sengaja menurunkan Highlights dan Whites meskipun tidak terjadi cliping pada area Highlight.
  • Untuk Noise Reduction Anda juga bisa menggunakan nilai antara 20-30. Konsekuen dengan tools ini dapat berakibat buruk dengan hilangnya banyak detil pada gambar. Sebaiknya perhatikan setiap perubahan dari penggunaan nilai Noise Reduction.
  • Untuk pengaturan Tone Curva bisa Anda lewatkan. Jika ingin merubahnya, pastikan bahwa Anda memilih channel "RGB". Cara yang saya lakukan pada curva adalah mengangkat pencahayaan pada area gelap. Ini sama seperti menambah nilai pada Shadow dan Blacks.
  • Pada langkah terakhir saya menggunakan Radial Filter agar lebih maksimal membersihkan noise pada area selain wajah subjek. Cara ini juga bisa Anda lewatkan jika langkah-langkah di atas telah cukup membersihkan gambar.
  • Untuk menyimpan gambar silahkan klik kanan lalu pilih "Export" dan ikuti langkah-langkah sesuai yang ditunjukan dalam video.

Jika menurut Anda ini sangat berguna, saya sarankan untuk menyimpan tutorial ini ke dalam file preset Lightroom. Sehingga lebih mudah untuk diaplikasikan pada foto-foto Anda lainnya, dengan sekali klik tanpa harus mengulangi semua langkah di atas. Sedangkan cara membersihkan noise menggunakan Photoshop, silahkan baca di sini panduannya.
SELENGKAPNYA

Penjelasan Kode-Kode Pada Lensa Tamron


Sama seperti produsen lainnya, Tamron menggunakan istilah yang berbeda untuk menunjukan teknologi yang digunakan pada lensa mereka. Bila sedikit banyaknya mengetahui arti kode lensa pada salah satu produsen besar Canon atau Nikon, maka tidak sulit untuk menebak apa kegunaan dari semua teknologi pada lensa Tamron. Seperti lensa Sigma, untungnya kode-kode pada lensa Tamron ini juga tidak banyak dan sebaiknya Anda mengingatnya jika Anda menggunakan salah satu lensa Tamron.

  • AF - singkatan dari Autofocus, sama seperti teknologi lensa pada umumnya yang berarti bahwa lensa Tamron juga memiliki motor AF di dalamnya.
  • AD - singkatan dari Anomalous Dispersion, yaitu sebuah elemen kaca optik khusus untuk mengatasi penyimpangan yang relatif tidak seimbang pada panjang gelombang cahaya tertentu.
  • ASL - singkatan dari Aspherical Lens Elements, menunjukan bahwa lensa Tamron ini hampir menghilangkan masalah "Coma" dan jenis-jenis penyimpangan lensa lainnya. Teknologi ini juga sangat baik untuk mengoreksi distorsi pada lensa wide-angle serta memberikan kontribusi untuk desain lensa Tamron yang lebih ringan dan lebih kecil.
  • Di - singkatan dari Digitally Integrated Design, yaitu lensa Tamron dengan sistem optik yang dirancang untuk memenuhi karakteristik kinerja kamera DSLR serta kamera film. Lensa ini dapat digunakan baik pada kamera digital atau kamera Film.
  • Di II - yang menjadi perbedaan antara Di dan Di II adalah lensa dengan kode Di II dirancang khusus untuk kamera DSLR dengan sensor yang lebih kecil (APS-C). Fitur pada lensa ini memiliki kinerja resolusi tinggi yang menggabungkan lapisan anti-refleksi dan konfigurasi optik untuk mengkompensasi refleksi internal dan Ghosting. Masalah Vignette juga berkurang pada lensa ini. Menyediakan panjang fokus yang ideal untuk mencakup rentang yang diinginkan oleh pengguna DSLR. Tapi ingat, lensa ini tidak dirancang untuk DSLR Full Frame.
  • HID - singkatan dari High Index Dispersion adalah sebuah elemen kaca khusus untuk meminimalkan masalah Chromatic Abberation (CA) pada lensa Tamron. 
  • IF - singkatan dari Inner Focus yang artinya bahwa lensa Tamron ini memiliki mekanisme fokus yang bekerja secara internal tanpa perubahan fisik pada ukurannya, di mana gerakan optik terbatas pada bagian interior tanpa memperpanjang barel lensa. IF memungkinkan lensa untuk lebih kompak dan ringan serta jarak fokus yang lebih dekat.

  • LD - singkatan dari Low Dispersion, yaitu elemen lensa Tamron yang efektif mengkompensasi penyimpangan chromatic pada akhir focal di lensa tele dan chromatic lateral pada bagian sudut di akhir focal pada lensa wide.
  • LAH - singkatan dari LD Aspherical Hybrid, yaitu elemen yang pada dasarnya memiliki fungsi yang sama dengan LD di atas, namun dengan tambahan teknologi Aspherical untuk mengatasi Spherical Abberation dan penyimpangan optik lainnya, termasuk Astigmatism.
  • MACRO - seperti produsen lensa lainnya, Tamron juga memiliki beberapa lensa khusus MACRO yang benar-benar mampu melakukan pembesaran 1:1. Tapi Anda harus teliti, karena ada pula beberapa lensa Tamron yang dilabeli MACRO tapi faktanya tidak dapat melakukan pembesaran 1:1. Untuk mengetahui masalah ini lebih dalam silahkan baca di sini pembahasannya.
  • SP -  singkatan dari Super Performance. Prioritas pertama dalam memproduksi lensa tamron ini telah unggul dalam spesifikasi dan kinerja yang luar biasa (setidaknya menurut Tamron), dan ini bebas dari kekangan biaya membangun lensa.
  • VC - singkatan dari Vibration Compensation, adalah teknologi lensa Tamron yang fungsinya sama dengan IS pada Canon, dan VR pada Nikon yaitu untuk mengatasi getaran pada lensa. VC menggunakan 3 sistem gulungan yang memungkinkan lensa untuk tetap kompak dalam ukuran, memberikan gambar yang halus dan mantap dalam jendela bidik.
  • Lock - yaitu tombol untuk mengunci lensa agar tidak dapat melakukan zoom. Umumnya tombol ini mengunci di focal length terendah, misalnya pada lensa Tamron AF 18-270mm Di II f/3.5-6.3 VC PZD, tombol ini dapat digunakan untuk mengunci di focal length 18mm agar konsisten menggunakan lensa di focal length tersebut. Ini cuma tombol sederhana tapi lumayan membantu.
  • PZD - singkatan dari Piezo Drive, yaitu salah satu motor AF yang digunakan oleh Tamron pada lensanya. PZD diklaim bekerja lebih tenang dan lebih cepat, bahkan dalam situasi minim cahaya.

Berikut ini adalah salah satu lensa Tamron yang dalam artikel ini digunakan sebagai contoh menganalisa lensa Tamron berdasarkan keterangan pada lensa tersebut:


Gambar di atas adalah lensa Tamron 16-300mm f/3.5-6.3 Di II VC PZD Macro. Dari namanya kita sudah bisa mengetahui kemampuan lensa ini. Kode Di II menunjukan bahwa ini dirancang untuk kamera DSLR format sensor APS-C. Memiliki Vibration Compensation (VC) yang memungkinkan lensa tetap stabil dalam gerakan tangan yang tidak disengaja. Menggunakan motor AF "PZD" yang kinerjanya cepat dan tenang. Kemudian yang menarik adalah keterangan MACRO. Ini seperti yang saya peringatkan bahwa Anda harus teliti melihat kemampuan makro dari sebuah lensa. Faktanya pada lensa Tamron ini hanya mampu melakukan pembesaran 1:2.9, tentu saja itu tidak dapat disebut makro yang sebenarnya, dan gunakan itu hanya untuk bersenang-senang saja. Kemudian beberapa keterangan di box lensa, menunjukan bahwa lensa ini memiliki dua elemen Low Dispersion (LD) dan beberapa elemen penting lainnya yang mungkin belum saya jelaskan dalam daftar kode lensa Tamron di atas.
SELENGKAPNYA

Mengetahui Usia Lensa Canon Berdasarkan Nomor Seri dan Kode Tanggal


Canon telah melakukan transisi ke penulisan 10-digit nomor seri lensa dan kode tanggal produksi yang ditulis secara terpisah. Motode pengkodean ini dilakukan Canon sejak tahun 2008 bersama lensa Canon EF-S 18-200mm f/3.5-5.6 IS. Sementara kode tanggal dan nomor seri pendek yang biasanya kita lihat pada lensa Canon lama, kemungkinan penulisan tersebut akan berakhir selamanya.

Jika dulu kita mengetahui usia lensa Canon berdasarkan kode tanggal yang ditulis secara gamblang, sekarang kita dapat mengetahui usia lensa Canon hanya berdasarkan nomor seri saja.

Cara mengetahui usia lensa Canon berdasarkan 'Nomor Seri'

Untuk dapat mengetahui usia lensa Canon berdasarkan 10-digit nomor seri, terlebih dahulu kita perlu membedah nomor seri seperti di bawah ini:

DD C SSSSSSS

DD adalah kode untuk tanggal diproduksinya lensa tersebut. Berikut tabel untuk keterangan kode "DD" pada lensa Canon:


Kode tanggal tersebut harus dipahami sebagai perkiraan, tidak dijamin benar bahwa lensa diproduksi tepat pada tanggal tersebut. Bisa saja lensa diproduksi sedikit lebih lama setelah atau sebelum tanggal tersebut. Perhatikan, nomor seri pada DSLR Canon EOS (setidaknya untuk 2013) tidak mengikuti tabel di atas. Juga perlu diketahui bahwa tanggal di masa depan ditampilkan dalam tabel sebagai prediksi.

Adapun digit ketiga yaitu nomor seri C, kemungkinan diterjemahkan sebagai "Charge (biaya)". Canon telah menggunakan kode ini untuk menunjukkan lensa membutuhkan update terkait layanan tertentu seperti firmware. Sedangkan nomor seri terakhir SSSSSSS, adalah sejumlah kode unik untuk mengidentifikasi lensa (uniquely-identifying), mungkin pada bulan berapa lensa diproduksi.

Tabel di atas dibuat oleh the-Digital-Picture dengan bantuan beberapa rekanannya. Berdasarkan keterangan mereka bahwa semua dalam tabel di atas sesuai dengan apa yang tertera di beberapa lensa Canon yang pernah mereka evaluasi, termasuk beberapa model terakhir di 2014. Kemudian dalam bagian, angka mungkin digeser oleh satu bulan atau lebih. Sebaiknya amati setiap perbedaan yang Anda temukan pada lensa Canon Anda.

Cara mengetahui usia lensa Canon berdasarkan 'Kode Tanggal (Date Code)'


Sejak bertahap berganti ke metode pengkodean baru di tahun 2008, Canon mengikut sertakan "kode tanggal" yang ditulis pada bagian belakang lensa (kebanyakan, tapi tidak semua). Tercatat bahwa beberapa lensa yang diproduksi di tahun 2012 masih mempertahankan kode tanggal. Adapun kode tanggal (date code) yang dimaksud seperti "UC1204". Kode serupa juga hadir pada beberapa produk Canon lainnya termasuk body kamera. Mungkin memiliki pengertian yang sama, tapi pembahasan ini khusus tentang pengkodean pada lensa. Perhatikan gambar di bawah:


Huruf pertama yaitu "U", menunjukkan bahwa lensa dibuat di pabrik Canon's Utsunomiya, Jepang. Sebelum tahun 1986, leter ini berada di posisi terakhir dari kode tanggal. Berikut beberapa kode huruf pertama yang menunjukan tempat diproduksinya lensa Canon:

U = Utsunomiya, Jepang
F = Fukushima, Jepang
O = Oita, Jepang

Adapun huruf kedua yaitu "C", adalah kode tahun yang menunjukkan tahun pembuatan lensa. Perlu diingat bahwa tahun tidak ditulis dalam bentuk angka-angka seperti 1960 atau 2012, melainkan diwakili oleh sebuah abjad dan dimulai dari huruf "A". Metode pengkodean ini dimulai sejak tahun 1986. Tapi sebelumnya, ditahun 1960 huruf A ditulis tanpa kode pabrik didepannya. Berikut daftar tahun pembuatan lensa Canon yang diwakili oleh abjad A-Z:

A = 2012, 1986, 1960
B = 2013, 1987, 1961
C = 2014, 1988, 1962
D = 2015, 1989, 1963
E = 2016, 1990, 1964
F = 2017, 1991, 1965
G = 2018, 1992, 1966
H = 1993, 1967
I = 1994, 1968
J = 1995, 1969
K = 1996, 1970
L = 1997, 1971
M = 1998, 1972
N = 1999, 1973
O = 2000, 1974
P = 2001, 1975
Q = 2002, 1976
R = 2003, 1977
S = 2004, 1978
T = 2005, 1979
U = 2006, 1980
V = 2007, 1981
W = 2008, 1982
X = 2009, 1983
Y = 2010, 1984
Z = 2011, 1985

Selanjutnya untuk dua angka pertama yaitu "12", adalah kode bulan yang menunjukan bulan diproduksinya lensa Canon. Misalnya angka 02 = Februari, 12 = Desember, dll. Kadang-kadang kode ini ditulis tanpa angka "0". Kemudian untuk dua angka setelahnya yaitu "04", tidak ada hubungannya dalam menentukan berapa usia lensa Canon. Ini adalah kode internal Canon yang kadang-kadang dihilangkan. Meskipun tidak ada keterangan tanggal tapi kode ini dikenal secara umum sebagai kode tanggal (date code).

Kode tanggal "UC1204" pada gambar di atas diambil dari lensa Canon EF 70-210mm f/4. Berdasarkan kode tersebut kita bisa mengetahui bahwa lensa Canon EF 70-210mm f/4 dibuat di Utsunomiya, Jepang pada bulan Desember 1988. Ini cuma contoh bagaimana mengetahui usia lensa Canon berdasarkan kode tanggal. Sedangkan lensa yang diproduksi sejak tahun 2008, sekali lagi baca petunjuk menerjemahkan kode 10-digit nomor seri di atas.
SELENGKAPNYA

Inspirasi Foto Hitam Putih dan Komposisi Kuat Oleh Kai Ziehl


Karya fotografi yang rapi dan kuat seperti yang dilakukan oleh fotografer asal Jerman, Kai Ziehl, lewat gambar-gambarnya ia menunjukan sejuknya pemandangan kota yang dapat menjadi bermakna dan ekspresif.

Menggunakan konsep hitam dan putih (black & white) saat menangkap dimensi yang sebenarnya dari area perkotaan, menurut Kai itu akan menunjukan konstruksi yang mempesonakan. Anda bisa melihat sendiri koleksi gambarnya di website resminya, gambar yang menunjukan ketenangan, momen yang indah dan dengan mudah memikat mata pemirsa.

Sangat kontras, pemilihan masing-masing sudut dan jarak pemotretan, menghasilkan gambar-gambar landscape seperti taman bermain estetika dari keindahan geometris. Dari foto-fotonya sudah bisa ditebak kalau Kai Ziehl memiliki mata yang terlatih, perhitungan yang akurat, dan fotografer yang cerdas. Tidak biasa, karya foto hitam dan putihnya memiliki komposisi yang indah dan sangat kuat, sederhana tapi rumit. Tidak diragukan lagi, ia fotografer profesional. Lihat bagaimana gambar-gambarnya menggunakakan komposisi rumit seperti simetri dan triangle, dan juga permainan bayangan (shadow) dan refleksi.



Gedung-gedung tinggi, jembatan, dan stasiun kereta api menjadi serangkaian bentuk dan pola yang mempesonakan, menambah tingkat keutuhan baru dari makna untuk setiap gambarnya. Itulah espektasi dari fotografer Kai Ziehl yang menggunakan monokrom hitam dan putih, yang penuh emosional dan menarik perhatian pada adegan arsitektur dan perkotaan. Ya, Kai Ziehl adalah seorang fotografer yang menangkap keindahan arsitektur dan pemandangan kota (urban landscape).



Bisa kita lihat, apa yang ditangkap oleh Kai adalah seni fotografi yang mengedapankan esensi fotografi. Lebih mengandalkan pedoman fotografi daripada permainan software. Prinsip seperti ini yang kadang membuat iri, konsisten menampilkan seni yang sebenarnya, mencoba memaksimalkan semua elemen di lapangan, bukan hanya pada tahap olah digital saja. Karyanya sengaja saya angkat di blog ini, untuk pelajaran bagi kita semua, untuk bagaimana seorang fotografer seharusnya berkarya. Karena seni yang berhubungan dengan gambar itu banyak, dan memang sudah seharusnya setiap fotografer berpegang pada kaidah dan pedoman yang ada.






Jika Anda tertarik mendalami teknik komposisi fotografi untuk memperkuat gambar-gambar Anda, silahkan baca di sini artikelnya.

Semua foto di atas memiliki Hak Cipta © Kai Ziehl. Artikel ini memuat foto-foto tersebut hanya untuk memperkenalkan karya dari fotografernya. Pembaca Kelasfotografi.com tidak diperkenankan mengkomersialkan semua foto di atas tanpa izin pemiliknya.
SELENGKAPNYA

Penjelasan Kode-Kode Pada Lensa Sigma


Sebagai produsen third-party, lensa Sigma telah mendapatkan lebih banyak peminat dan lebih populer dalam beberapa tahun terakhir. Berkat beberapa lensanya yang benar-benar menggunakan optik kelas profesional seperti Sigma 35mm f/1.4 HSM Art misalnya. Sama dengan produsen lainnya, dalam hal penamaan fitur lensa, Sigma menggunakan sebutan yang berbeda untuk berbagai teknologi yang digunakan ke dalam lensa mereka. Pada artikel ini, saya hanya menulis singkatan atau kode lensa Sigma yang dianggap paling penting untuk diketahui penggunanya. Untungnya kode-kode ini tidak terlalu banyak meskipun faktanya Sigma memiliki lensa yang banyak menduduki deretan lensa populer.

Sebelumnya Sigma telah benar-benar mengerjakan ulang produknya yang lineup. Alasan utama mengapa Sigma membuat project yang mereka sebut "Global Vission", karena semakin banyak fotografer yang frustrasi ketika menseleksi lensa yang akan dibeli, seperti banyaknya produk yang tersedia namun dengan perbedaan yang tidak selalu jelas. Jadi mereka memilih untuk tidak hanya untuk secara drastis mengubah bahasa desain dan kualitas, tetapi juga menempatkan setiap lensa secara individu dalam kategori spesifik. Ini berarti bahwa semua lensa Sigma akan berada dalam kategori yang memiliki beberapa fitur yang sangat penting untuk kebutuhan umum. Keseluruhannya ada tiga kategori baru dan saya akan mulai dengan menjelaskan deskripsi ketiga kategori tersebut, kemudian lanjut pada pengertian kode-kode penting lainnya.

  • C (Contemporary) - lini produk ini sebagian besar terdiri dari lensa zoom dengan aperture variabel untuk penggunaan umum. Contohnya lensa zoom dan tele standar untuk kamera APS-C seperti Sigma 18-200mm f/3.5-6.3 OS HSM Macro C.
  • A (Art) - Anda akan menemukan semua lensa prime Sigma tercepat dalam lini produk ini. Sigma mengatakan bahwa lineup Sigma kelas "Art" dirancang dengan fokus yang memiliki kinerja optik canggih dan kekuatan ekspresif berlimpah. Beberapa lensa zoom wide, macro, fisheye dan lensa aperture cepat milik Sigma juga akan masuk dalam kategori ini. Contohnya adalah lensa zoom wide Sigma 18-35mm f/1.8 HSM A.
  • S (Sport) - seperti namanya, lini produk ini adalah kategori untuk lensa prime tele atau zoom tele yang dirancang untuk fotografi olahraga (sport) dan satwa liar (wildlife). Semoga saja lensa ini tidak hanya mahal tapi juga memiliki pengaturan aperture maksimum relatif cepat.
  • EX - ini kategori lensa tua Sigma kelas atas, yang dinilai setara lensa seri L milik Canon dan seri Gold Ring milik Nikon. Saat ini sigma tidak lagi menggunakan EX pada produk terbaru mereka. Meskipun Anda masih bisa menemukan lensa EX baru atau bekas di pasaran, namun kita tidak akan melihat produk terbaru Sigma dalam lineup EX, atau kata lain kategori ini tidak akan ada lagi, melainkan tiga kategori di atas.

  • DG - kode lensa Sigma untuk digunakan pada kamera DSLR format Full-Frame.
  • DC - kode lensa Sigma yang dirancang untuk kamera DLSR format APS-C.
  • DN - kode lensa Sigma yang dirancang untuk kamera sistem Mirrorless. Saat ini Sigma belum merilis lensa untuk Mirrorless format Full-Frame (Sony Duo misalnya), sehingga belum jelas apakah optik tersebut akan memiliki sebutan sendiri (sangat mungkin) atau menjadi bagian dari seri DN atau seri DG.
  • HSM - singkatan dari Hyper Sonic Motor, adalah motor AF milik Sigma yang dinilai setara dengan teknologi Canon USM dan Nikon SWM. HSM merupakan jenis motor ultrasonic yang menggunakan ring / cincin dan dirancang untuk kinerja fokus yang lebih cepat dan tenang (silent).
  • OS - singkatan dari Optical Image Stabilization yaitu teknologi optik anti getar yang berfungsi mereduksi getaran untuk pengambilan gambar yang stabil. Pada dasarnya fungsi teknologi ini mirip dengan IS pada Canon, VR pada Nikon dan VC pada Tamron.
  • ASP (Aspherical) - lensa dengan kode ini memiliki elemen kaca aspherical dalam desain optik lensa tersebut.
  • APO (Apochromatic) - lensa apochromatic dirancang untuk memperbaiki Chromatic Abberation dan juga efektif untuk berbagai macam penyimpangan lainnya. Pada dasarnya lensa apochromatic memiliki elemen fluorite luar biasa dan tidak sama sekali memiliki penyimpangan chromatic. Menurut Sigma, lensa APO mereka adalah jenis lensa telephoto dan telezoom, yang menggunakan desain optik khusus dan bahan optik SLD atau kaca ELD. Kedua material tersebut untuk meningkatkan kinerja lensa APO. Hasilnya pada gambar memiliki kontras yang lebih besar, kualitas ketajaman dan warna lebih dari apa yang dihasilkan oleh lensa non-APO
  • RF - singkatan dari Rear Focusing, yang berarti ketika lensa Sigma RF melakukan fokus, hanya beberapa elemen di belakang pisau aperture yang bergerak dan bukannya semua elemen. Mekanisme tersebut berpotensial untuk operasi AF yang lebih cepat dan elemen depan yang tidak berputar.
  • IF - singkatan dari Internal Focusing yang bekerja mirip dengan RF, tetapi dalam kasus ini hanya beberapa elemen optik di depan aperture yang bergerak selama fokus bekerja, dan bukan semua elemen. Pada lensa Sigma IF ini, ukuran lensa akan tetap konstan tetapi focal length mungkin akan sedikit berubah saat Anda melakukan fokus.
  • SLD - singkatan dari Special Low Dispersion, yaitu elemen kaca khusus yang juga dirancang untuk meminimalkan penyimpangan chromatic.
  • ELD - singkatan dari Extraordinary Low Dispersion, yaitu elemen kaca yang fungsinya sama dengan SLD. Menggunakan nama "Luar Biasa", diharapkan elemen ini harus bisa melakukan penanganan yang lebih baik lagi daripada SLD.
  • FLD - singkatan dari F Low Dispersion, yaitu sebuah elemen dibawah kualitas SLD dan ELD. Menurut Sigma ini adalah elemen dengan tingkat dispersi tertinggi yang menggunakan kaca kualitas rendah, dengan transmisi cahaya yang sangat tinggi. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, elemen ini membutuhkan sebuah elemen fluorite (itulah yang dimaksud oleh kode "F"), tetapi harga lensa FLD jauh lebih murah.
  • TSC - singkatan dari Thermally Stable Composite, adalah material khusus yang memadukan kualitas polycarbonate dan logam, untuk digunakan dalam pembuatan beberapa lensa Sigma. Menurut Sigma sendiri, TSC menawarkan elastisitas 25% lebih besar dari polycarbonate. Sejak berkurangnya termal, TSC cocok dengan baik dengan material logam, yang memberikan kontribusi bagi perakitan lensa Sigma presisi tinggi.
  • MACRO - lensa Sigma yang benar-benar makro dirancang untuk memberikan pembesaran yang baik pada jarak fokus minimum yang relatif singkat. Salah satu lensa makro Sigma yang sangat populer dan diakui kehebatannya adalah Sigma 150mm f/2.8 OS HSM. Tapi ingat, Anda harus teliti menganalisa beberapa lensa Sigma yang tertera label "macro" tapi faktanya jauh dari rasio pembesaran 1:1. Karena selama bertahun-tahun label makro yang digunakan Sigma bahkan pada lensa zoomnya yang pelit hanya bisa fokus sedikit lebih dekat daripada yang diharapkan. Hal semacam itu bahkan dilakukan juga oleh produsen third-party lainnya sebagai upaya untuk memikat pembeli yang kurang berpengetahuan, seperti terkecok pada angka megapixels. Jadi jika Anda berniat membeli lensa makro Sigma atau dari produsen third-party lainnya, pastikan Anda membaca dengan teliti keterangan lensa. Sebuah lensa makro harus mampu melakukan pembesaran 1:1 (baca di sini tentang Magnification Ratio).
  • Fisheye (Diagonal, Circular) - saya yakin tidak banyak penjelasan yang diperlukan dalam hal ini. lensa fisheye memberikan sudut pandang yang sangat luas (umumnya 180 derajat) dengan distorsi khas dan sangat kuat. Lensa fisheye Diagonal menutupi seluruh frame, sementara lensa fisheye Circular menghasilkan gambar lingkaran di dalam frame.

Berikut ini adalah salah satu lensa Sigma yang dalam artikel ini digunakan sebagai contoh menganalisa lensa Sigma berdasarkan keterangan pada lensa tersebut:


Nama-nama lensa Sigma yang belakang ini diproduksi cukup pendek dan secara resmi lensa di atas hanya disebut Sigma 120-300mm F2.8 DG OS HSM. Seperti yang Anda lihat, itu adalah lensa zoom tele dengan focal length 120-300mm dan aperture konstan yang lebar f/2.8. Kode DG berarti ini dirancang untuk kamera Full-Frame, sehingga dapat digunakan pada body Nikon D800 atau Canon 5D Mark IV (lensa tersedia dalam mount masing-masing Canon dan Nikon). Lensa Sigma di atas memiliki autofocus khas ring dan bermotor ultrasonik (HSM), kemudian dilengkapi dengan Optical Image Stabilization (OS). Lensa ini masuk dalam lini produk Olahraga (S). Kemudian dalam deskripsi lensa mengatakan ini menggunakan elemen SLD dan FLD untuk melawan penyimpangan chromatic dan meningkatkan ketajaman, yang terbuat dari Thermally Stable Composite (TSC). Tidak ada singkatan yang terpisah untuk itu, tetapi lensa ini juga menggabungkan beberapa pelindung debu dan air. Ukuran filternya sangat besar yaitu 105mm. Masih banyak lagi yang perlu dijelaskan dari lensa Sigma di atas, tapi ini cuma contoh untuk bagaimana mengenali sebuah lensa dengan menerjemahkan setiap kode penting pada lensa.
SELENGKAPNYA
KELAS FOTOGRAFI

Kami mendeteksi Adblock Anda sedang aktif.
Kemungkinan ada bagian artikel yang hilang.
Apakah Anda menggunakan UC Browser?
Mohon non-aktifkan Adblock di browser Anda atau gunakan browser selain UC Browser.
Kami rekomendasikan Anda menggunakan Google Chrome untuk tampilan laman yang lebih baik.

[ Lihat Cara Non-Aktifkan Adblock ]
TUTUP BOX INI